Pengkhotbah

Perikop
Filipi 3:1,7-11

Ringkasan Khotbah

Banyak orang kristen datang ke gereja pada hari minggu, melakukan dan mendapatkan banyak hal karena merasakan bahwa sepanjang minggu mereka masih ‘lapar’, dan belum dipuaskan. Selama kita dipuaskan dengan kepalsuan, kesenangan duniawi, maka kita tidak akan pernah berusaha mencari yang ‘asli’. Selayaknya hanya menginginkan ibadah tanpa relational dengan Tuhan. Lalu pertanyaannya adalah, apakah kita lapar untuk mengalami pengenalan dan pengalaman dengan Tuhan? Karena Tuhan memuaskan orang yang haus dan lapar (Mat. 5:6).

Salah seorang dalam Alkitab yang merasakan lapar dan haus adalah Rasul Paulus yang menulis kepada jemaat Filipi saat di penjara. Rasul Paulus dalam Filipi 3:1 berkata, “Akhirnya, saudara-saudaraku, bersukacitalah dalam Tuhan…”. Situasi Paulus bukanlah seperti situasi yang biasanya dirasakan oleh orang yang sedang bersukacita. Melainkan kondisinya yang sedang berada di dalam penjara bukanlah situasi yang diharapkan banyak orang, apalagi bersukacita. Paulus bergumul karena sendirian, dan tidak ada yang mau mendampinginya di penjara. Terlebih lagi bergumul secara finansial, itu sebabnya Paulus bersyukur karena jemaat filipi mengambil bagian memberikan bantuan bagi dirinya yang sedang di belenggu.

Dalam situasi Paulus yang negatif tidak menyebabkan kondisi dan situasi serta diri Paulus menjadi negatif, melainkan sebaliknya Paulus berseru melalui tulisannya, “bersukacitalah..!”. Paulus mengatakan bahwa dalam situasinya dia makin ingin mengenal Tuhan Yesus Kristus dan kuasa kebangkitanNya. Alasan Paulus ingin mengenal Tuhan Yesus Kristus adalah, karena Kristus adalah akar langsung yang terhubung dengan Allah Bapa. Agama tidak akan pernah membuat kita mencapai tujuan utamanya, maka tidak heran banyak orang ke gereja bertahun-tahun seumur hidupnya tetapi tidak pernah dekat dengan Tuhan dan tidak mengalami Tuhan dalam hidupnya. Paulus mengatakan dengan jelas dalam ayat 7, “Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus”. Paulus bukan orang sembarangan, apa yang diraihnya dalam hidup duniawinya dan rohaninya bukan kaleng-kaleng. Paulus mencapai kesuksesan tertinggi seorang manusia, seorang beragama, seorang intelektual, seorang spiritual, tetapi ketika dia berjumpa dengan Kristus dan semua yang dimilikinya tidak ada artinya.

Belajar dari kisah perjalanan iman Paulus, bahwa inti berita dari Injil adalah sampai pada saat seorang mengaku dan menyadari bahwa dia adalah seorang berdosa di hadapan Tuhan, maka dia tidak dapat diselamatkan. Ketika kita merasa terlalu baik sehingga kita merasa layak masuk sorga, itu justru bukti bahwa kita tidak akan masuk sorga, karena usaha manusia tidak akan pernah melakukan apapun untuk dapat masuk sorga. Orang kristen yang otentik bisa hidup benar, tetapi sacara bersamaan terus ingin mengenal Dia, mengenal kebangkitanNya ingin melayaniNya, ingin mengerjakan apa yang bisa dilakukanNya bagi Tuhan. Maka datang ke gereja bukan lagi menuntut di perhatikan, tetapi mulai belajar bertanya apa yang bisa diberikan pada Tuhan melalui gerejaNya dan sesama, bukan hanya apa yang didapat dari sesama dan gereja.

Dalam Filipi 3:10, Paulus mengatakan, bahwa dia ingin mengenal kuasaNya, yang membangkitkanNya dari kematian supaya dapat menikmati kebangkitan itu, tetapi juga ingin menikmati “persekutuan” dalam penderitaanNya. Penderitaan di desain untuk meningkatkan intimacy, yang disebut Paulus sebagai koinonia (persekutuan). “Suffering for those who want to know Him is the invitation to His closeness”. Maka kalimat yang tepat saat kita mencari pengenalan akan Tuhan tetapi malah menemukan penderitaan adalah: “Tuhan apakah yang hendak Engkau lakukan atas apa yang sedang aku alami ini untuk membuat aku makin serupa dengan Kristus Yesus anakMu itu?”. Jika dalam mengejar pengenalan akan Dia, ternyata kita masuk dalam penderitaan, itulah undangan untuk makin mengalami apa yang Kristus alami, makin serupa dengan Dia dalam kematianNya sehingga kita dapat menikmati kuasa kebangkitanNya.

Kesimpulannya, Kuasa kebangkitanNya dapat kita alami, jika kita mengenal Dia. Kita dapat mengenal Dia jika kita hidup dan mengalami persekutuan di dalam penderitaanNya yang akan membuat kita serupa dengan AnakNya di dalam kematianNya. dengan demikian kita bukan hanya mengenal tetapi juga mengalami Kristus! 

 

Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah.

 

YouTube player