Kumpulan Khotbah

Pdt. Yustinus Hia
3 Februari 2019

Menang Atas Konflik

(Kisah Para Rasul 15:12-32)

Konflik pasti muncul di tengah persekutuan, bahkan dalam rumah tangga sekalipun. Konflik menjadi hal yang lazim semenjak dosa masuk ke dalam dunia. Konflik pertama terjadi di Taman Eden, ketika Adam mempersalahkan Hawa dan Hawa mempersalahkan ular. Abraham dan keponakannya Lot juga mengalami konflik, ketika ternak mereka menjadi sangat banyak sehingga sulit bagi mereka hidup bersama-sama. Abraham mengalah dan mempersilahkan Lot memilih terlebih dahulu tempat tujuannya. Bukan hanya di Perjanjian Lama, tetapi di Perjanjian Baru pun terjadi konflik. Para murid sendiri pernah mengalami konflik ketika mereka mempermasalahkan mengenai siapa yang terbesar di antara mereka.
Pepatah Yahudi berkata: “Kontroversi lebih disukai daripada kuburan yang damai. Melalui kontroversi, kebenaran dikembangkan dan kesalahan dikalahkan. Kunci sebenarnya adalah memandang kepada KEBENARAN”. Martin Luther adalah seseorang yang berani berkonflik untuk membongkar kebusukan dan kebobrokan dalam gereja pada masa sebelum reformasi gereja. Dalam Kisah Para Rasul 15:22-41, Paulus dan Barnabas pernah mengalami konflik (perselisihan) yang tajam. Tetapi setelah konflik tersebut, pelayanan mereka semakin maju. Paulus sendiri kembali menerima dan mengasihi Markus, keponakan Barnabas, yang menjadi alasan Paulus dan Barnabas berselisih. Konflik itu ada dua jenis; konflik positif yang akan memberikan kemajuan atau konflik negatif yang akan mengakibatkan kemunduran. Konflik positif membuat orang bertobat, tetapi konflik negatif membuat orang mundur dari gereja. Konflik pernah terjadi di gereja mula-mula di Antiokhia. Di gereja di Antiokhia ada banyak suku bangsa, misalnya Yahudi dan Yunani. Jadi tidak ada satu gereja pun yang kebal terhadap konflik, bahkan gereja yang pengajarannya sangat baik sekali pun. Iblis selalu tahu bagaimana cara menimbulkan konflik di antara orang-orang Kristen. Anggota gereja di Antiokhia pada masa itu berasal dari golongan orang-orang Farisi yang telah menjadi Kristen dan masih memegang kuat tradisi Yahudi. Mereka mengharuskan orang-orang Yunani yang baru menjadi Kristen untuk disunat (ay. 5). Inilah awal mula timbulnya konflik di gereja Antiokhia.

6 Januari 2019

Cinta akan Rumah-Mu Menghanguskan Aku

(Yohanes 2:13-25)

Pada zaman dahulu di Israel, bait Allah adalah tempat yang sangat sakral. Bait Allah merupakan identitas bangsa Yahudi pada masa itu. Dalam Keluaran 23:26 disebutkan bahwa: “tetapi janganlah orang menghadap kehadirat-Ku dengan tangan hampa”; pada masa itu sangatlah ketat bahwa untuk menghadap Allah dalam bait-Nya saja membutuhkan pengorbanan mahal dengan membawa persembahan. Bagaimanakah dengan kita yang dengan mudah sebenarnya untuk datang ke bait Allah?!
Yesus sendiri sangat tidak senang dan dengan tegas dapat mengusir orang yang menajiskan bait Allah. Melihat dalam pembahasan ayat alkitab minggu ini, Yesus sangatlah marah karena melihat bait Allah yang dijadikan sarang penyamun, di mana harga barang di bait Allah menjadi sangat mahal, para Imam menolak binatang yang tidak dibeli di bait Allah, selain itu adanya juga sistem penukaran uang yang dapat digunakan untuk bertransaksi juga memerlukan ongkos. Mereka berlindung dibalik kesakralan bait Allah demi keuntungan mereka sendiri. Untuk itu Yesus ingin memusnahkannya dan kembali menyucikannya. Dalam ayat 17 Yesus mengatakan, “Cinta untuk rumah-Mu menghanguskan Aku”. Kata “cinta” di sini berasal dari kata Zelos yang berarti cinta yang seperti air mendidih, cinta yang membakar amarah. Sedangkan “menghanguskan” di sini berarti menghanguskan sampai tidak menyisakan.
Lalu bagaimanakah respon orang-orang pada masa itu terhadap Yesus? “Tanda apa yang Kau tunjukkan?”. Mereka merasa berkuasa atas bait Allah, mereka meminta tanda bahwa Yesus layak dipercaya dan didengar. Namun di sini Yesus justru menjawab: rombaklah bait Allah dan akan Kubangun dalam 3 hari. Hal ini berbicara bukan tentang bangunan fisik, namun mengenai diri manusia, bahwa kerusakan yang telah terjadi hanya bisa diperbaharui melalui kematian dan kebangkitan Yesus.

23 Desember 2018

Kristus Raja yang Kekal

(Lukas 1:26-33)

Kita sudah memasuki minggu Advent ke-3 dalam kalender gereja, Natal sudah dekat. Advent adalah masa penantian/peringatan kelahiran Mesias.
Tema kita adalah Kristus Raja yang Kekal. Ini adalah tema yang sangat penting, mengapa Sang Raja datang ke dunia dalam segala kerendahan dan kehinaan. Berarti ada hal yang penting yang harus diketahui manusia. Siapa yang bisa membawa manusia ke dalam kekekalan. Yang lahir dalam kandang domba adalah Sang Raja. Ia rela mengerjakan yang paling rendah, dihina, diejek, bahkan disalibkan demi menjalankan kehendak Bapa di dalam dunia (Fil. 2:9-11) yaitu orang-orang berdosa diselamatkan. Inilah Raja yang telah merendahkan diri dan pada akhirnya ditinggikan di atas segala sesuatu. Dia menyatakan segala kehendak Bapa, kehormatan Bapa. Tujuan kedatangan Kristus yaitu, bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani (Markus 10:45), bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa supaya mereka bertobat (Lukas 5:32), untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang (Lukas 19:10), supaya mereka mempunyai hidup (Yoh. 10:10b). Kata hidup yang dipakai disini adalah zoke yaitu hidup yang kekal. ❶ Raja yang datang dalam kerendahan. a) Datang di tempat yang terpencil (ay. 26), dua tempat yang disebut yaitu Galilea dan Nazaret, kota terpencil, tidak terkenal. Sehingga banyak orang yang meragukan bagaimana mungkin Yesus Tuhan (Yoh. 1:46; Yoh. 7:11). Konsep manusia bahwa orang hebat bukan lahir di kota kecil/pelosok. Yesus datang bukan untuk memuaskan mata dan perasaan manusia, konsep dunia pada zaman itu. Tetapi bagaimana semua dapat digenapkan dalam Firman Allah. Dia Raja tapi menyatakan segala kehendak Allah meskipun dalam kehinaan. b) Datang melalui seorang wanita yang masih perawan (ay. 27), ini merupakan penggenapan dari Yesaya 7:14. Bagi orang Israel, Maria bukan orang terpandang. Berbeda dengan ketika Yohanes yang lahir, Bapanya Zakaria adalah Imam dan lahir di Yerusalem. Tetapi mereka menolak Yohanes. Karena itu Tuhan tidak ingin menyenangkan manusia tetapi mengutamakan kehendak Bapa. ❷ Ia memerintah sebagai Raja (ay.31-33), dunia sudah jatuh ke dalam dosa mengakibatkan duka dan penderitaan. Seorang reformator gereja berkata: betapa sengsaranya kita tanpa rahmat Allah. Maka Yesus sebagai Raja Kekal menyatakan inilah jalan kekal. Yesus sebagai puncak Rahmat Allah (Mat. 11:1). Raja Kehidupan telah mengunjungi kita. Sudahkah kita merajakan Kristus dalam kehidupan kita? Kalau belum jadikanlah Yesus sebagai Raja baik dalam pekerjaan, keluarga, pelayanan, gereja.

9 Desember 2018

Yesus Juruselamat Dunia

(1 Yohanes 4:13-21)

Pada hari ini, kita akan merenungkan bahwa Yesus datang sebagai Juruselamat bagi kita. Dalam ayat 14, Rasul Yohanes menegaskan bahwa Ia dan para rasul “telah melihat dan menyaksikan Bapa telah mengutus Anak-Nya menjadi Juruselamat dunia.” (Bdk. 1 Yohanes 1:1). Inilah kebenaran sejati. Dalam bahasa Ibrani, kata “Juruselamat” ditulis dengan kata “Yasha”. Memiliki arti Penyelamat, Pembebas, Pemelihara. Peran Juruselamat dalam tradisi PL sangat penting. Sedangkan dalam PB, “Juruselamat” ini ditulis dari kata Yunani “Soter”. Konsep “soter” ini tidak ditujukan kepada siapapun kecuali kepada Bapa dan Yesus sendiri. Bapa diakui sebagai Juruselamat karena Ia telah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia untuk menyelamatkan orang berdosa.
Mengapa Dunia Memerlukan Juruselamat? Dari seluruh ciptaan Allah, hanya manusia saja yang disebut sebagai ciptaan yang segambar dan serupa dengan Allah. Hanya manusia sajalah yang memiliki roh kekekalan. Tetapi ternyata manusia yang dikasihi Allah ini telah berdosa dan terpisah dari Allah yang kudus (lihat Roma 3:23-24). Berdasarkan fakta “telah kehilangan kemuliaan Allah” ini, manusia memerlukan kasih karunia Allah. Manusia tidak dapat menemukan Allah dengan caranya. Manusia butuh belas kasihan dari Allah. Karena itu, Allah sendiri yang bertindak menemukan manusia. Cara satu-satunya untuk memanggil manusia adalah Allah turun dari surga.
Setelah Kristus menyelamatkan kita, ada beberapa hal yang kita akan terima dan alami sebagai umat Tuhan: ❶ Allah tetap berada di dalam kita (ayat 13, 16b). Dalam ayat ini, kita memperhatikan kesatuan antara Pencipta dengan ciptaan. Kristus telah memulihkan relasi yang telah rusak oleh dosa. Ketika Yesus berdoa di dalam Yohanes 17:23, dalam ayat ini terlihat kasih 3 dimensi. Bapa mengasihi Yesus. Yesus mengasihi orang percaya. Bapa juga mengasihi orang percaya. Jadi, Allah begitu mengasihi orang percaya dan hal tersebut yang ingin Kristus nyatakan kepada dunia. Dengan demikian, kasih Allah bagi kita adalah kasih yang menetapkan kita di dalam hati Bapa. Ayat ini begitu tegas dan lengkap. Pertama: kita tetap berada di dalam Dia. Kedua: Dia di dalam kita. Ketiga: kita mendapat bagian di dalam Roh-Nya. Di dal