Kumpulan Khotbah

Pdt. Yasuo Atsumi
17 Maret 2019

Misi Allah: Beritakan Injil

(Roma 1:14-17)

Misi Allah bagi umat-Nya di dunia ini dapat dibagi menjadi 2, yaitu pemberitaan Injil dan perbuatan kasih. Perbuatan kasih dapat kita wujudkan dengan menjadi sesama manusia bagi orang-orang di sekitar kita. Kita dapat mencontoh dari kisah orang Samaria yang baik hati, dimana kasih itu bukanlah hanya menjadi prinsip hidup tetapi konkrit dalam perbuatan kita.
Selain perbuatan kasih, kita sebagai murid Yesus juga diharapkan untuk memberitakan Injil keselamatan. Injil (Yn. evangelion), seperti yang tertulis di Roma 1:1-4, adalah Kristus yang sudah dijanjikan melalui perantaraan nabi-nabi, lahir melalui keturunan Daud, dan bangkit dari antara orang mati, Anak Allah yang Maha Tinggi. Pada zaman Yunani kuno, kata injil sendiri dipakai untuk menandakan kabar/berita yang penting, yang berskala besar. Di zaman ini berita-berita besar lebih banyak memberitakan yang kurang menyenangkan, Injil merupakan berita baik yang sangat dibutuhkan dan ditunggu-tunggu oleh banyak orang. Yesus, melalui kematian dan kebangkitan-Nya menjadi lambang pengharapan di tengah-tengah kesengsaraan dunia.
Hakikat Injil adalah sebagai berikut; bahwa Yesus telah mati oleh dosa manusia, telah bangkit dari antara orang mati, dan hidup bersama dengan Allah di surga selama-lamanya (1 Kor. 15:1-4). Roh Kudus membantu kita dengan menyaksikan kebenaran Injil dan kemuliaan Yesus melalui persekutuan kita dengan Tuhan, dalam mendengarkan dan merenungkan Firman.

10 Februari 2019

Misi Allah: Menjadi Sesama Manusia

(Lukas 10:25-37)

Tema tahunan kita tahun ini adalah “Setia Berjalan dalam Misi Allah”. Misi berarti segala sesuatu yang ingin diperbuat umat di dunia ini kepada Allah. Itulah arti luasnya. Arti secara ilmu misilogi/alkitabiah:

Menyaksikan injil
Perbuat kasih sebagai tanggung jawab sosial bagi umat Tuhan (bagian yang akan dibahas kali ini)
Pada masa itu (ayat 25) ada orang ahli Taurat yang mencobai Yesus karena Yesus sudah banyak memberikan pengaruh. Maka ahli Taurat itu ingin mengetahui apakah Ia dari Allah atau dari manusia biasa.

Ahli taurat itu mempertanyakan mengenai apa yang ada di kitab Taurat. Mengenai: kasihilah Tuhan Allah dan sesama manusia. Ahli taurat mengutip dari kitab Ulangan 6:5 mengenai mengasihi Tuhan Allah, namun ada yang berbeda yaitu menambahkan kata: “akal budimu”. Namun tafsiran itu sama dengan tafsiran Yesus. Maka Yesus mengatakan untuk melakukan firman itu supaya hidup kekal. Poin yang lain adalah, meskipun ahli taurat itu mencobai Yesus, dan meskipun belum sepenuhnya benar apa yang disampaikan ahli taurat, Yesus menjawab dengan kasih dan kebijaksanaan dengan mengatakan “itu benar”. Marilah kita juga bersikap seperti Yesus ketika berkomunikasi dengan sesama kita dengan menunjukkan sikap yang baik.

Kembali ke cerita kitab hari ini. Mengenai ada orang dijalan yang dirampok dan terlihat seperti hampir mati. Tanggapan orang yang lewat:

Ia melihat orang itu. Orang itu hampir mati. Sesuai peraturan, imam tidak boleh menyentuh bangkai karena ia tidak dapat melaksakan tugas pelayanannya. Oleh karena itu imam itu melewatinya.
Orang Lewi. Ia melewatinya, karena melihat orang itu hampir mati. Pada saat itu jalanan sangat bahaya. Jaraknya jauh dan jalanan berbatu-batu. Jalan inipun itu juga disebut jalan penjarahan penuh sarang penyamun. Maka orang lewi itu takut jika ia juga dirampas/dirampok oleh para penjarah.
Orang Samaria. Orang Samaria ini dianggap suku hina oleh bangsa Israel/orang Yahudi, dan mereka juga dibenci oleh bangsa Yahudi, karena mereka sudah memiliki ibadah dan tempat ibadah sendiri. Orang Samaria dianggap keluar dan tidak menjadi bagian bangsa Israel kembali. Oleh karena itu Yesus memberikan contoh orang Samaria. Karena ia justru berbelas kasihan dan menolong dan meminyaki orang itu dengan minyak zaitun yang dianggap mengandung obat. Bahkan orang Samaria itu juga mengajaknya ke tempat penginapan dan merawatnya juga, bahkan masih memberikan uang lebih keesokan harinya.

13 Januari 2019

Setia Berjalan dalam Misi Allah

(2 Timotius 4 :1-2)

Tema seluruh GIII 2019 adalah setia berjalan dalam misi Allah. Kesetiaan adalah lanjutan dari 2018. Tapi kali ini tujuannya adalah misi Allah. Dalam teks firman hari ini, Rasul Paulus menulis surat secara pribadi kepada muridnya Timotius yang menjadi gembala di Efesus, masih muda dan kurang pengalaman. Surat dari senior kepada seorang hamba Tuhan muda.
Dikatakan, beritakanlah firman. Firman Tuhanlah dasar kehidupan orang beriman. Firmanlah penunjuk, pengajar kehidupan orang percaya. Mzm 119:105 yang terkenal mengatakan FirmanMu itu pelita bagi kakiku, dan terang bagi jalanku. Dan tentang firman Tuhan sebelum pasal 4 ini, yaitu di 2 Tim 3:16, Paulus menekankan lagi, beritakanlah Firman. Ini tugas utama dari Paulus, dan penting bagi jemaat supaya bertahan, bertumbuh, hidup dalam iman. Baik atau tidak baik waktunya, artinya selalu, beritakanlah firman. Dalam tahun ini kita lebih maju, lebih dalam membaca firman. Ada 66 kitab dalam Alkitab. Apakah sudah pernah baca semua? Firman Tuhan begitu indah, dalam , dan kaya. Tapi kalau kita tidak baca seluruhnya, betapa sayangnya. Itu pusaka kita. Itu harta kekayaan kita secara rohani. Maka mari membaca firman setiap hari secara teratur. Alkitab terdiri dari 4 bagian, yaitu 3 bagian di perjanjian lama (kitab sejarah (Kej-Ester), kitab syair (dari Ayub – Kidung agung, kitab nabi-nabi (Yesaya-Maleakhi), dan 1 perjanjian baru. Jika dari 4 bagian Alkitab in kita baca setiap hari satu pasal dari setiap bagian akan jarang macet.
Nyatakanlah. Dalam Bahasa Inggris dikatakan bring to light, bawa ke dalam terang. Dalam hati manusia ada yang sukar dibawa ke terang. Betapa licik hati, lebih licik dari segala sesuatu. Dunia ini penuh dengan godaan, kelicikan, kalau hati kita belum diterangi, gampang sekali terpengaruh. Maka istilah tegur, artinya marah, keras. Kitab nabi Yesaya pasal 1-39, penuh dengan bagaimana Tuhan marah kepada bangsa Israel. Tetapi selalu ada janji Tuhan. Ada terang, ada pemulihan. Dan Tuhan mengajak, kembalilah kepadaku. Kita bersyukur ada yang menegur kita. Bagi pendeta, tugas khotbah itu g.ampang. Tapi salah satu tugas yang paling susah adalah menegur, karena jarang diterima. Kita baca Firman, Roh Kudus yang bicara, dan Firman Tuhan lah yang menyatakan kesalahan.

16 Desember 2018

Menantikan Juruselamat

(Filipi 3:7-14, 20-21)

Kita sudah memasuki minggu Advent ke-3 dalam kalender gereja, Natal sudah dekat. Advent adalah masa penantian/peringatan kelahiran Mesias.

Bacaan hari ini adalah kesaksian dari rasul Paulus yang dapat kita jadikan sebagai contoh dan teladan bagi kita dalam menantikan kedatangan Kristus yang kedua kalinya. Kedatangan Kristus yang pertama merupakan awal dari karya keselamatan-Nya. Dengan kedatangan Kristus yang pertama kita memperoleh pembenaran menjadi orang Kristen.

Teladan sikap orang Kristen dalam menantikan kedatangan sang Juruselamat, seperti yang dapat kita petik dari rasul Paulus adalah,

❶ Membuang hidup yang lama / manusia yang lama (ay. 8)

Pertemuan Paulus dengan Kristus, mengubahkan hati Paulus sehingga ia menganggap seluruh hidupnya yang lama, semua yang dianggap dunia adalah kebanggaan, dianggapnya sampah. Kata sampah disini dapat juga diartikan sebagai kotoran, melambangkan sesuatu yang sudah sepantasnya dibuang. Paulus mengakui, sebelum ia mengenal Kristus hidupnya terasa hampa, walaupun di mata dunia hidupnya tergolong sukses.

❷ Mempersatukan / mendekatkan diri dengan Kristus (ay. 10-12)

Kita dipersatukan dalam penderitaan, kematian dan kuasa kebangkitan Kristus. Sebelum kita bertobat, kita hidup dalam dosa (kematian), setelah pertobatan kita dibenarkan (kebangkitan). Walaupun begitu, selama kita hidup di dunia, kita tidak akan menjadi sempurna; kita berada di dalam proses untuk menjadi sempurna. Paulus pun dalam aktivitas dan kerasulannya, ia masih menyadari bahwa dirinya belum sempurna (ay. 12). Paulus juga menyadari bahwa pertobatannya adalah anugerah dari Tuhan, oleh karena itu ia dapat menerima dan melepaskan diri dari masa lalunya.

18 November 2018

Hendaklah Setia Sampai Mati

(Wahyu 2:8-10)

Secara umum di dunia, kesetiaan adalah hal yang sangat penting. Alkisah sebuah perusahaan taxi besar yang hampir bangkrut melakukan sebuah tidakan besar yang dipimpin oleh pemimpin perusahaan taxi tersebut. Pemimpin itu membuat sebuah buku panduan untuk para supir taxi, tentang bagaimana selayaknya supir taxi melayani penumpang, dsb. Kemudian, pemimpin itu mengirim banyak inspektor untuk pura-pura menjadi seorang penumpang dan mengamati bagaimana para supir taxi tersebut, apakah melaksakan tugasnya dengan baik atau tidak. Inspeksi ini menentukan apakah supir taxi tersebut akan mendapat kenaikan pangkat ataupun malah justru kehilangan pekerjaannya. Melalui inspeksi ini, perusahaan tersebut dipulihkan. Hal ini adalah karena satu hal, yaitu “kesetiaan”. Inspeksi ini memberikan tes kesetiaan kepada para pekerja apakah sungguh-sungguh mengerjakan tugas dan tanggung jawabnya dengan baik.

28 Oktober 2018

Lebih Banyak Berbuah

(Yohanes 15:1-8)

Khotbah Minggu ini mengingatkan kita akan relasi jemaat Kristen dan Tuhan Yesus, dengan memakai kebun pohon anggur di tengah padang gurun sebagai perumpamaannya.

Bacaan hari ini menekankan, bahwa kita adalah ranting-ranting dari pokok anggur yang benar, yaitu Yesus. Ini adalah bagian dari pengajaran terakhir dari Yesus kepada murid-muridnya sebelum memasuki masa penderitaan.

Jemaat Kristus, sebagai ranting-ranting diharapkan dapat menghasilkan buah. Kata buah di dalam Alkitab banyak digunakan sebagai kiasan yang melambangkan hasil dari pekerjaan. Sedangkan kebun anggur biasa melukiskan umat pilihan Tuhan. Di zaman PL, ini menunjuk kepada bangsa Israel. Melalui PB, ini menunjuk kepada seluruh umat yang percaya dan menerima Injil dan Yesus. Kata padang gurun disini merujuk kepada dunia dan seluruh manusia yang masih hidup dalam dosa.

2 September 2018

Kekuatan Dosa dan Kemenangan

(2 Samuel 12:1-13)

Hal yang menghalangi kita untuk lebih dekat dengan Tuhan dan mengerti akan FirmanNya adalah dosa. Kita harus mengerti sungguh-sungguh arti dari dosa itu sendiri. Melalui pengalaman Daud, kita dapat mempelajari secara kongkrit dan jujur apa hakekat sebuah dosa dan akibatnya bagi kehidupan umat manusia.
Dosa Daud yang dijelaskan dalam 2 Samuel 12 mengajarkan kita akan kekuatan dosa yang mampu menguasai manusia, siapapun, tidak terkecuali orang-orang yang memiliki perjalanan iman yang luar biasa bersama dengan Tuhan. Demikian juga Daud, seorang yang hebat dan memiliki iman yang sangat kuat seperti yang tertulis dalam kitab perjanjian lama. Contoh pertama dapat kita lihat melalui kisahnya saat melawan Goliat. Dengan semangat rohani dan imannya yang begitu kuat kepada Tuhan, ia mampu mengalahkan Goliat. Daud sangatlah dihormati dan disukai oleh siapapun, sehingga Ia disebut sebagai orang yang terhormat dalam sejarah bangsa Israel. Contoh kedua adalah ketika Daud mengundang makan dan mengangkat seorang anak dari musuhnya, Saul. Bahkan Ia berkabung untuk kematian Saul pada saat itu. Daud adalah orang yang sangat baik dan mengasihi Allah dan manusia.
Namun demikian, Daud juga jatuh kedalam dosa. Tuhan mengingatkan dosa-dosa yang diperbuat Daud ini melalui Natan. Natan memberikan perumpamaan mengenai seorang yang kaya yang mendapat tamu dan mengambil anak domba betina kepunyaan si miskin untuk dihidangkan karena si kaya begitu merasa sayang mengambil lembunya sendiri. Meski sudah diperingatkan melalui cerita perumpamaan itu, Daud masih tidak menyadarinya, dan ia begitu marah. Namun demikian, setelah Natan menjabarkan arti dari cerita tersebut, bahwa itulah dia, Daud barulah menyadari dosanya. Dari sini kita dapat belajar bahwa benar dosa mampu menguasai siapapun. Kekuatan dosa jauh lebih kuat dibandingkan dengan kekuatan hebat manusia. Dalam diri umat manusia ada unsur-unsur yang mampu mendatangkan dosa, hawa nafsu, dll. Tidak ada satu orangpun yang begitu taat dan tidak berbuat dosa, bahkan Daud sekalipun.

22 Juli 2018

Gembalakanlah Domba-dombaKu

(Yohanes 21:15-19)

Tuhan Yesus melayani Petrus secara khusus, Ia bertanya hingga 3 kali kepada Petrus karena ada tujuan. “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka ini?”. Petrus pernah mengatakan sampai mati akan selalu setia kepada Tuhan. Meskipun murid-murid lain lari meninggalkan Tuhan, Dia tidak. Tuhan Yesus mengingatkan kembali perkataan Petrus dengan bertanya sampai 3 kali karena hal itu penting, bukan karena menegur atau marah. Setelah Petrus menyangkal Yesus, Dia menangis kuat-kuat dan sangat menyesal. Petrus adalah pemimpin murid-murid yang begitu dipercayai oleh Yesus. Ia selalu ikut diajak dalam pelayanan-pelayanan penting, seperti saat membangkitkan anak Yairus, atau saat Yesus dimuliakan di atas gunung. Tetapi saat dia menyangkal Yesus sampai 3 kali, betapa dalam luka batinnya. Yesus ingin menyembuhkan luka batin tersebut supaya Petrus tidak kehilangan kepercayaan diri dan sulit untuk melayani. Langkah penyembuhan pertama adalah dengan cara menyadarkan. Manusia tidak mudah untuk menghadapi diri sendiri, sehingga Tuhan Yesus sebagai gembala yang baik menyadarkan Petrus. Petrus hanya menjawab “Engkau tahu Tuhan”. Tuhan tahu Petrus jujur. Terkadang manusia susah untuk sadar dan sering kali sudah tahu, tetapi tidak mau sadar.
Di Ayat 5, Yesus bertanya adakah mereka memiliki lauk-pauk. Apakah Tuhan Yesus tidak tahu keadaan mereka? Tidak tahu kalau mereka sudah semalaman mencari ikan tapi tidak mendapatkan? Tanpa Yesus, meskipun profesi mereka adalah nelayan dan setelah semalaman berusaha keras, mereka tidak mendapatkan ikan. Tuhan Yesus memanggil mereka bukan sebagai penjala ikan lagi, tetapi sebagai penjala manusia. Dan Petrus mengakui kegagalan, kesalahan dan dosanya.

10 Juni 2018

Jemaat Mula-mula Setelah Pentakosta

(Kisah Para Rasul 2:41-47, 4:29-31)

Kejadian Pentakosta sangat berarti, andaikata tidak ada Pentakosta tidak ada Jemaat Kristen di dunia. Melalui pencurahan Roh Kudus, orang-orang percaya berubah total dimana sebelumnya mereka tidak mau mengerti Firman Tuhan, mereka hanya pengikut. Setelah pencurahan Roh Kudus, mereka menjadi pemimpin yang kuat. Di hari Pentakosta ini terjadi pertobatan besar-besaran, orang-orang Israel menjadi ingat akan kebaikan Tuhan, mereka sadar bahwa mereka membutuhkan Yesus, mereka mengakui dan menerima Yesuslah Mesias yang dinantikan. Pentakosta, kepenuhan Roh kudus, mereka menyaksikan Injil melalui perkataan, melalui keadaan, melalui perbuatan kasih.
Setelah dikuasai Roh Kudus, Jemaat mulai bersaksi 2:22-24, nubuatan melalui Yoel terwujud. Petrus mulai bersaksi mengenai Yesus yang tersalib, mengenai kebangkitan untuk melepaskan kita dari kuasa maut. Salib memberikan gambaran yang menyeluruh kepada kita yakni tentang kematian penebusan Tuhan Yesus untuk membayar harga dosa-dosa kita dan kebangkitanNya untuk melepaskan kita dari kuasa maut. Jika bukan itu tujuan kematian Kristus di kayu Salib, kita semua tetap bersalah di hadapan Allah dan tidak berdaya ketika berhadapan dengan maut. Namun melalui iman kepadaNya, kita menerima pengampunan atas dosa kita dan jaminan bahwa maut tak dapat mencengkeram kita.

13 Mei 2018

Kasih Ibu dan Kasih Allah

(1 Tesalonika 2:7-10)

Hari ini adalah Hari Ibu Internasional yang dimulai oleh seorang Kristen yang ingin mengingat kasih mamanya dan meminta kepada Pendeta untuk mengadakan ibadah. Hal ini sudah berlangsung selama satu abad lebih dan menyebar ke berbagai negara. Hal yang penting adalah hari ini dimulai di gereja dan dari seorang Kristen. Hari Ibu ini sangat alkitabiah dan sesuai dengan Hukum Taurat kelima yaitu: menghormati orang tua. Kita merayakan hari ini sambil mengingat Kasih Ibu dan Kasih Allah yang dicerminkan melalui Kasih Ibu.
Rasul Paulus menulis dalam surat Tesalonika bagaimana pelayanannya sama seperti Kasih Ibu. Ayat 7: Berlaku ramah. Ramah merupakan ciri khas seorang Ibu yang mengasihi anaknya. Kata lainnya adalah murah hati, lemah lembut, kind, kindness, yasashii. Orang Jepang sangat suka yasashii. Berdasar angket untuk memilih teman hidup, orang Jepang memilih orang yang yasashii menjadi kriteria nomor satu. Ciri khas orang Indonesia yang sangat terkenal juga adalah ramah tamah dan kita bersyukur dalam budaya kita ada ramah tamah.
Ramah artinya sifat yang menyukakan Allah (ayat 4) dan tidak mencari pujian manusia (ayat 6). Seperti Ibu yang mengasihi anak bukan karena ingin dihargai mertua atau teman tetapi hanya ingin dipuji Allah saja. Buah dari ramah yaitu mengasuh (support) dan merawat (menolong, membantu).

Page 1 of 9