Kumpulan Khotbah

Pdt. Yasuo Atsumi
10 Februari 2019

Misi Allah: Menjadi Sesama Manusia

(Lukas 10:25-37)

Tema tahunan kita tahun ini adalah “Setia Berjalan dalam Misi Allah”. Misi berarti segala sesuatu yang ingin diperbuat umat di dunia ini kepada Allah. Itulah arti luasnya. Arti secara ilmu misilogi/alkitabiah:

Menyaksikan injil
Perbuat kasih sebagai tanggung jawab sosial bagi umat Tuhan (bagian yang akan dibahas kali ini)
Pada masa itu (ayat 25) ada orang ahli Taurat yang mencobai Yesus karena Yesus sudah banyak memberikan pengaruh. Maka ahli Taurat itu ingin mengetahui apakah Ia dari Allah atau dari manusia biasa.

Ahli taurat itu mempertanyakan mengenai apa yang ada di kitab Taurat. Mengenai: kasihilah Tuhan Allah dan sesama manusia. Ahli taurat mengutip dari kitab Ulangan 6:5 mengenai mengasihi Tuhan Allah, namun ada yang berbeda yaitu menambahkan kata: “akal budimu”. Namun tafsiran itu sama dengan tafsiran Yesus. Maka Yesus mengatakan untuk melakukan firman itu supaya hidup kekal. Poin yang lain adalah, meskipun ahli taurat itu mencobai Yesus, dan meskipun belum sepenuhnya benar apa yang disampaikan ahli taurat, Yesus menjawab dengan kasih dan kebijaksanaan dengan mengatakan “itu benar”. Marilah kita juga bersikap seperti Yesus ketika berkomunikasi dengan sesama kita dengan menunjukkan sikap yang baik.

Kembali ke cerita kitab hari ini. Mengenai ada orang dijalan yang dirampok dan terlihat seperti hampir mati. Tanggapan orang yang lewat:

Ia melihat orang itu. Orang itu hampir mati. Sesuai peraturan, imam tidak boleh menyentuh bangkai karena ia tidak dapat melaksakan tugas pelayanannya. Oleh karena itu imam itu melewatinya.
Orang Lewi. Ia melewatinya, karena melihat orang itu hampir mati. Pada saat itu jalanan sangat bahaya. Jaraknya jauh dan jalanan berbatu-batu. Jalan inipun itu juga disebut jalan penjarahan penuh sarang penyamun. Maka orang lewi itu takut jika ia juga dirampas/dirampok oleh para penjarah.
Orang Samaria. Orang Samaria ini dianggap suku hina oleh bangsa Israel/orang Yahudi, dan mereka juga dibenci oleh bangsa Yahudi, karena mereka sudah memiliki ibadah dan tempat ibadah sendiri. Orang Samaria dianggap keluar dan tidak menjadi bagian bangsa Israel kembali. Oleh karena itu Yesus memberikan contoh orang Samaria. Karena ia justru berbelas kasihan dan menolong dan meminyaki orang itu dengan minyak zaitun yang dianggap mengandung obat. Bahkan orang Samaria itu juga mengajaknya ke tempat penginapan dan merawatnya juga, bahkan masih memberikan uang lebih keesokan harinya.

13 Januari 2019

Setia Berjalan dalam Misi Allah

(2 Timotius 4 :1-2)

Tema seluruh GIII 2019 adalah setia berjalan dalam misi Allah. Kesetiaan adalah lanjutan dari 2018. Tapi kali ini tujuannya adalah misi Allah. Dalam teks firman hari ini, Rasul Paulus menulis surat secara pribadi kepada muridnya Timotius yang menjadi gembala di Efesus, masih muda dan kurang pengalaman. Surat dari senior kepada seorang hamba Tuhan muda.
Dikatakan, beritakanlah firman. Firman Tuhanlah dasar kehidupan orang beriman. Firmanlah penunjuk, pengajar kehidupan orang percaya. Mzm 119:105 yang terkenal mengatakan FirmanMu itu pelita bagi kakiku, dan terang bagi jalanku. Dan tentang firman Tuhan sebelum pasal 4 ini, yaitu di 2 Tim 3:16, Paulus menekankan lagi, beritakanlah Firman. Ini tugas utama dari Paulus, dan penting bagi jemaat supaya bertahan, bertumbuh, hidup dalam iman. Baik atau tidak baik waktunya, artinya selalu, beritakanlah firman. Dalam tahun ini kita lebih maju, lebih dalam membaca firman. Ada 66 kitab dalam Alkitab. Apakah sudah pernah baca semua? Firman Tuhan begitu indah, dalam , dan kaya. Tapi kalau kita tidak baca seluruhnya, betapa sayangnya. Itu pusaka kita. Itu harta kekayaan kita secara rohani. Maka mari membaca firman setiap hari secara teratur. Alkitab terdiri dari 4 bagian, yaitu 3 bagian di perjanjian lama (kitab sejarah (Kej-Ester), kitab syair (dari Ayub – Kidung agung, kitab nabi-nabi (Yesaya-Maleakhi), dan 1 perjanjian baru. Jika dari 4 bagian Alkitab in kita baca setiap hari satu pasal dari setiap bagian akan jarang macet.
Nyatakanlah. Dalam Bahasa Inggris dikatakan bring to light, bawa ke dalam terang. Dalam hati manusia ada yang sukar dibawa ke terang. Betapa licik hati, lebih licik dari segala sesuatu. Dunia ini penuh dengan godaan, kelicikan, kalau hati kita belum diterangi, gampang sekali terpengaruh. Maka istilah tegur, artinya marah, keras. Kitab nabi Yesaya pasal 1-39, penuh dengan bagaimana Tuhan marah kepada bangsa Israel. Tetapi selalu ada janji Tuhan. Ada terang, ada pemulihan. Dan Tuhan mengajak, kembalilah kepadaku. Kita bersyukur ada yang menegur kita. Bagi pendeta, tugas khotbah itu g.ampang. Tapi salah satu tugas yang paling susah adalah menegur, karena jarang diterima. Kita baca Firman, Roh Kudus yang bicara, dan Firman Tuhan lah yang menyatakan kesalahan.

16 Desember 2018

Menantikan Juruselamat

(Filipi 3:7-14, 20-21)

Kita sudah memasuki minggu Advent ke-3 dalam kalender gereja, Natal sudah dekat. Advent adalah masa penantian/peringatan kelahiran Mesias.

Bacaan hari ini adalah kesaksian dari rasul Paulus yang dapat kita jadikan sebagai contoh dan teladan bagi kita dalam menantikan kedatangan Kristus yang kedua kalinya. Kedatangan Kristus yang pertama merupakan awal dari karya keselamatan-Nya. Dengan kedatangan Kristus yang pertama kita memperoleh pembenaran menjadi orang Kristen.

Teladan sikap orang Kristen dalam menantikan kedatangan sang Juruselamat, seperti yang dapat kita petik dari rasul Paulus adalah,

❶ Membuang hidup yang lama / manusia yang lama (ay. 8)

Pertemuan Paulus dengan Kristus, mengubahkan hati Paulus sehingga ia menganggap seluruh hidupnya yang lama, semua yang dianggap dunia adalah kebanggaan, dianggapnya sampah. Kata sampah disini dapat juga diartikan sebagai kotoran, melambangkan sesuatu yang sudah sepantasnya dibuang. Paulus mengakui, sebelum ia mengenal Kristus hidupnya terasa hampa, walaupun di mata dunia hidupnya tergolong sukses.

❷ Mempersatukan / mendekatkan diri dengan Kristus (ay. 10-12)

Kita dipersatukan dalam penderitaan, kematian dan kuasa kebangkitan Kristus. Sebelum kita bertobat, kita hidup dalam dosa (kematian), setelah pertobatan kita dibenarkan (kebangkitan). Walaupun begitu, selama kita hidup di dunia, kita tidak akan menjadi sempurna; kita berada di dalam proses untuk menjadi sempurna. Paulus pun dalam aktivitas dan kerasulannya, ia masih menyadari bahwa dirinya belum sempurna (ay. 12). Paulus juga menyadari bahwa pertobatannya adalah anugerah dari Tuhan, oleh karena itu ia dapat menerima dan melepaskan diri dari masa lalunya.

18 November 2018

Hendaklah Setia Sampai Mati

(Wahyu 2:8-10)

Secara umum di dunia, kesetiaan adalah hal yang sangat penting. Alkisah sebuah perusahaan taxi besar yang hampir bangkrut melakukan sebuah tidakan besar yang dipimpin oleh pemimpin perusahaan taxi tersebut. Pemimpin itu membuat sebuah buku panduan untuk para supir taxi, tentang bagaimana selayaknya supir taxi melayani penumpang, dsb. Kemudian, pemimpin itu mengirim banyak inspektor untuk pura-pura menjadi seorang penumpang dan mengamati bagaimana para supir taxi tersebut, apakah melaksakan tugasnya dengan baik atau tidak. Inspeksi ini menentukan apakah supir taxi tersebut akan mendapat kenaikan pangkat ataupun malah justru kehilangan pekerjaannya. Melalui inspeksi ini, perusahaan tersebut dipulihkan. Hal ini adalah karena satu hal, yaitu “kesetiaan”. Inspeksi ini memberikan tes kesetiaan kepada para pekerja apakah sungguh-sungguh mengerjakan tugas dan tanggung jawabnya dengan baik.

28 Oktober 2018

Lebih Banyak Berbuah

(Yohanes 15:1-8)

Khotbah Minggu ini mengingatkan kita akan relasi jemaat Kristen dan Tuhan Yesus, dengan memakai kebun pohon anggur di tengah padang gurun sebagai perumpamaannya.

Bacaan hari ini menekankan, bahwa kita adalah ranting-ranting dari pokok anggur yang benar, yaitu Yesus. Ini adalah bagian dari pengajaran terakhir dari Yesus kepada murid-muridnya sebelum memasuki masa penderitaan.

Jemaat Kristus, sebagai ranting-ranting diharapkan dapat menghasilkan buah. Kata buah di dalam Alkitab banyak digunakan sebagai kiasan yang melambangkan hasil dari pekerjaan. Sedangkan kebun anggur biasa melukiskan umat pilihan Tuhan. Di zaman PL, ini menunjuk kepada bangsa Israel. Melalui PB, ini menunjuk kepada seluruh umat yang percaya dan menerima Injil d