Kumpulan Khotbah

Pdm. Sujarwo
17 Februari 2019

Misi Allah Melalui Nehemia Bagi Pemulihan Umat-Nya

(Nehemia 2:1-20)

Kita pasti tidak asing lagi mendengar nama Nehemia. Nehemia adalah salah satu tokoh Alkitab Perjanjian Lama yang kisahnya sering kali dikaitkan dengan pemulihan Yerusalem setelah diruntuhkan oleh Babel. Pada bacaan kali ini, kita dapat melihat latar belakang Nehemia, dan kita dapat belajar beberapa karakter Nehemia berkaitan dengan pemenuhan misi yang diberikan Allah baginya. Nehemia adalah seorang buangan Yahudi di Persia. Dia intim dengan Allah, dan juga adalah seorang kepercayaan raja Persia pada saat itu, dengan menjabat sebagai juru minum raja. Oleh karena keintimannya dengan Allah, Nehemia tidak membiarkan semua keberhasilannya di lingkungan orang-orang yang tidak percaya itu menjauhkannya dari Allah. Hubungan dengan Allah yang kuat inilah yang menjadi fondasi sikap/karakter Nehemia dalam menjalankan misi yang dibebankan Allah kepadanya :
1. Terbeban oleh keadaan umat-Nya. Kehancuran Yerusalem adalah akibat dari ketidaksetiaan orang-orang Yahudi pada saat itu. John Stuart Mill menekankan, “Satu orang yang mempunyai penyerahan sama dengan kekuatan 99 orang yang sekedar mempunyai ketertarikan.” Oleh karena ia sudah menjadi buangan di Persia, Nehemia tidak menyaksikan secara langsung kehancuran Yerusalem di tangan Babel. Meskipun demikian, ketika ia mendengar kabar hancurnya Yerusalem, ia turut merasakan kehilangan dan kesedihan, seperti layaknya hal tersebut terjadi menimpa dirinya sendiri. Dalam Neh. 1:4 tertulis Nehemia berkabung, berpuasa dan berdoa kepada Tuhan ketika ia mendengar kabar tersebut, menggambarkan keadaan hati Nehemia dan responsnya dalam menghadapi kabar yang menyedihkan itu, yaitu dengan meminta pertolongan kepada Allah. Ia berdoa memohon kemurahan-Nya dalam menggumuli bebannya untuk pemulihan Yerusalem. Ia tidak mengandalkan kekuatannya ataupun talenta yang ia miliki, tetapi langsung menyerahkan diri dan mengandalkan Tuhan. Oleh karena itu, Tuhan memberkati Nehemia ketika ia membawa pergumulannya itu ke hadapan raja Persia, dan dalam memenuhi panggilannya itu. Beban kepada umat Allah dan orang-orang yang ada di sekitar kita—terutama yang belum percaya—adalah bagian penting dari iman kita kepada Tuhan.

20 Januari 2019

Nasehat untuk Tetap Setia Berjalan dalam Misi Allah

(2 Timotius 1:6-14)

Injil merupakan kabar dari Allah, jaminan kekal kekuatan bagi kita. Perkembangan ke-Kristenan bukan suatu hal yang mudah; berita Injil selalu saja mendapat penolakan keras dari pihak orang-orang yang tidak senang. Tidak semua orang Kristen siap mati bagi Injil.
Paulus menulis suratnya yang kedua kepada Timotius, pelayan yang setia dan tulus melakukan panggilannya dalam aksi-aksi pekabaran Injil, pembentukan Jemaat, ketika ia tengah menderita didalam penjara saat kesiapannya menghadapi hukuman mati pada pemerintahan Nero. Di tengah-tengah situasi yang krisis ini, Paulus menguatkan Timotius untuk tetap semangat.
Dalam 2 Timotius 1:6-8, Paulus menasihatkan, ”Karena itulah kuperingatkan engkau untuk mengobarkan karunia Allah yang ada padamu oleh penumpangan tanganku atasmu. Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban. Jadi janganlah malu bersaksi tentang Tuhan kita dan janganlah malu karena aku, seorang hukuman karena Dia, melainkan ikutlah menderita bagi InjilNya oleh kekuatan Allah”. Ayat ini merupakan motivasi Paulus terhadap Timotius yang saat itu masih muda dan kurang percaya diri, agar Timotius mengobarkan karunia Allah yang ada padanya dan kepercayaan yang sudah Paulus berikan. Beberapa kali Paulus menasihati Timotius supaya tidak malu dalam memberitakan Injil. Kelemahan yang ada dalam diri Timotius dan bagaimana Tuhan telah memakai dia, menjelaskan bahwa kuasa Tuhan sanggup mengatasi kelemahan-kelemahan kita. Memasuki tahun 2019, mari kita mengobarkan kembali gairah untuk tetap setia berjalan dalam Misi Allah. Jangan menyerah pada kelemahan, lakukan apa yang dapat kita lakukan bagi Tuhan dan Ia yang akan melakukan bagianNya serta memampukan kita mengatasi kelemahan tersebut.

30 Desember 2018

Tetaplah Berdoa

(Matius 6:5-13)

Kita telah tiba di penghujung tahun 2018. Dalam hitungan hari kita akan memasuki tahun yg baru. Pada saat ini kita mengambil sedikit waktu untuk merenungkan dan melihat kembali perjalanan kita selama setahun ini. Tema GIII tahun ini adalah kesetiaan. Sudahkah kita setia dalam persekutuan kita dengan Tuhan selama setahun ini? Sudahkah kita terus setia dalam berdoa, membaca Firman Tuhan, dan bersaat teduh dalam setahun ini?
Marthin Luther pernah berkata bahwa, pekerjaan seorang penjahit adalah membuat pakaian, pembuat sepatu adalah membuat sepatu, dan orang Kristen adalah berdoa; doa merupakan satu bagian yg tidak dapat dipisahkan dalam hidup seorang Kristen.
Bacaan Firman Tuhan hari ini mengisahkan bagian dari khotbah Yesus di bukit, tentang hal berdoa. Yesus mengingatkan murid-murid-Nya sekaligus para pendengar bahwa mereka harus waspada terhadap: ① perilaku buruk orang Farisi dan ahli Taurat. Mereka adalah orang-orang yang seharusnya memahami Taurat, akan tetapi pemahaman itu tidak nampak dalam perbuatan dan hidup mereka, ② kemunafikan, dalam hal memberi sedekah (ay. 1-4), dalam berdoa (ay. 5-8), isi doa (ay. 9-13), mengampuni dalam doa (ay. 14-15), dalam berpuasa (ay. 16-18), ③ pikiran duniawi.
Doa merupakan bentuk permintaan/permohonan kita kepada Allah Bapa di Sorga. Oleh karena itu, kita sebagai pihak pemohon tidak memiliki otoritas apa pun dalam terwujudnya permintaan kita; itu semua bergantung kepada Sang Pemberi. Doa juga harus menjadi kerinduan diri kita sendiri, tidak boleh disuruh atau dipaksa oleh orang lain. Melalui doa, kita dapat membangun relasi yang tepat dengan Allah (ay. 9b). Kita beruntung sebagai orang Kristen karena kita memiliki Allah yang dekat, yang mau memiliki relasi pribadi dengan kita. Pada zaman PL, hanya orang-orang tertentu (para nabi) yang dapat berbicara secara pribadi dengan Allah, tidak semua orang pilihan-Nya (bangsa Israel) dapat datang ke hadirat-Nya apalagi berbicara kepada Allah. Melalui pengorbanan Tuhan Yesus, kita semua dikaruniakan kesempatan dan hak yg sama dengan para imam dan nabi PL, yaitu untuk datang ke hadirat Allah dan bersekutu dengan-Nya secara pribadi. Allah ingin agar kita dapat membangun relasi yang tepat dengan-Nya, dan salah satu cara untuk mewujudkannya adalah melalui berdoa. Doa juga merupakan wujud penyandaran diri kita kepada Tuhan. Kita sadar akan keterbatasan kita sebagai manusia, sehingga kita menyerahkan seluruh hidup kita kepada Tuhan agar hidup kita dipimpin olehNya.

21 Oktober 2018

Pengampunan yang Mulia

(Mazmur 32)

Berkat pengampunan Allah adalah sukacita sejati, berkat dan pengampunan Tuhan diberikan bukan karena seseorang itu layak dan bukan hasil usaha seseorang, tetapi itu adalah kasih karunia Tuhan. Sukacita ada pada orang berdosa karena Tuhan telah mengampuni dia, Allah mengampuni pelanggaran, pemberontakan terhadap otoritas Allah yang sah dan Allah tidak lagi memperhitungkan kesalahan, Dia mengampuni dosa kita. Dalam Imamat 16:10, mengacu kepada bangsa Israel yang melakukan pelanggaran, kambing jantan yang dikorbankan melambangkan kematian Yesus Kristus sebagai korban pengganti orang berdosa yang harus dihukum karena dosa-dosa mereka. Akuilah secara jujur dosa kita dihadapan-Nya, ketika kita mengakui dosa tersebut, maka Tuhan akan mengampuni kita. Sebagai orang yang telah lahir baru, kita bahagia karena diampuni.

23 September 2018

Hidup Sesuai dengan Kabar Sukacita

(Filipi 1: 27-30)

Zaman sekarang adalah zaman humanis dan atoposentris dimana manusia berfokus pada dirinya sendiri serta bangga hidup mandiri tanpa Tuhan sehingga merasa tidak butuh Tuhan bahkan menjadikan diri sebagai Tuhan. Segala sesuatu yang tidak sesuai, ditolak. Bagaimanakah respons kita yang hidup di tengah zaman ini? Apakah hidup kita sesuai dengan kabar sukacita, dan mencerminkan identitas seorang kristen yang sejati yang telah menerima anugerah kesalamatan dari Kristus? Ada 3 pokok yang dapat kita pelajari sehubungan dengan tema khotbah hari ini: ❶ Hidup Berpadanan Injil, hidup berpadanan dengan injil adalah inti dari ayat 27-30. Berpadanan dalam bahasa Yunani axios artinya layak (worthy). Maka sebagai orang yang telah menerima Injil atau dilahirbarukan maka hidup kita harus menghidupi Injil sehingga hidup kita berbeda dengan orang yang belum menerima kabar sukacita tersebut, dan orang-orang dapat membaca Injil dari sikap hidup dan karakter kita. Kata hidup dalam bahasa Yunani, politeomai artinya adalah pola hidup yang sesuai dengan susunan atau tatanan tertentu, biasa digunakan merujuk pada kehidupan seorang warga negara dalam keikutsertaannya dalam pemerintahan dalam segala peraturan dan kebajikan yang perlu diperbuat. Sebagaimana gaya hidup warga romawi berbeda dengan seorang budak maka kita harus hidup sesuai status kita sebagai orang yang telah ditebus dan menerima Injil sehingga memberi dampak pada orang di sekeliling kita. Kita tidak boleh puas hanya dengan status sebagai orang kristen, tiap minggu ke gereja dan sebagainya, namun tidak memberi dampak baik pada orang sekitar kita dalam kehidupan sehari-hari melalui Injil yang kita dengar dan renungkan. ❷ Hidup Beriman kepada Kristus, iman bukanlah slogan semata namun seperti yang diingatkan Paulus, kita perlu teguh berdiri dalam satu roh, dan sehati sejiwa berjuang untuk iman yang timbul dari berita Injil. Kita perlu merenungkan Firman itu hari lepas hari karena iman tumbuh dari pendengaran dan perenungan Firman. Kita perlu rindu dan bergairah untuk lebih mengenal Kristus sebagaimana layaknya orang yang sudah dilahirbarukan, orang yang percaya dan beriman. Hidup beriman kepada Kristus bukan hanya di awal saja saat kita menyatakan iman kita tersebut melainkan terus menerus berjuang hidup dalam berita sukacita dan menyaksikannya dalam kehidupan sehari-hari. Walau sulit sekalipun tapi kita harus mempertanggungjawabkan tentang iman kita kepada orang sekitar melalui sikap hidup kita. Firman yang kita dengar merubah sikap kita dan itulah yang perlu kita aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari sehingga orang dapat merasakan atau melihatnya.

12 Agustus 2018

Dalam Yesus, Kita Sanggup Menanggung Segala Sesuatu

(Filipi 4:8-13)

Kita menyadari sebagai manusia terbatas kita banyak pergumulan. Kekuatan kita untuk menghadapi semua pergumulan hanya ada dalam firman Tuhan. Kita harus sadar bahwa kita hanya bergantung kepada Allah yang tidak terbatas saja! Manusia memiliki keterbatasan fisik sehingga bisa sakit; keterbatasan mental sehingga mudah menyerah; keterbatasan finansial sehingga takut kekayaan akan habis; dan keterbatasan logika sehingga tidak dapat mengerti seluruh kehidupan. Sebagai manusia kita tidak tahu masa depan kita atau bahkan sejam kedepan. Untuk itu, masihkah kita tidak mau bersandar kepada Allah yang tidak terbatas? Rasul Paulus adalah seorang yang sangat terpelajar, tetapi Ia mengalami berbagai macam pergumulan dalam kehidupan.

29 Juli 2018

Menyimpan Hukum Tuhan di Dalam Hati

(Mazmur 119:97-104)

Mazmur 119 merupakan Mazmur terpanjang dan mempunyai konsep paling formal serta rumit, tapi Mazmur yang sangat penting karena berbicara mengenai “menyimpan firman Tuhan dalam hati”. Bagaimana supaya kita dapat menyimpan firman Tuhan dalam hati? Cinta atau kasih menjadi penggerak bagi kita untuk lebih memberi perhatian. Perhatian membuat kita belajar lebih memahami sesuatu. Inilah yang membuat pemazmur berkata:”Betapa kucintai TauratMu! Aku merenungkannya sepanjang hari (Mazmur 119:97)”. Jika kita sungguh-sungguh mengasihi Kristus, maka kita akan mengasihi Alkitab yang di dalamnya Kristus mengajar kita. Kita mungkin sadar kalau kita manusia terbatas, tapi seberapa jauh kita bersandar pada Allah yang tidak terbatas?
Apa artinya merenungkan firman Allah siang dan malam? Apakah ini berarti kita tidak perlu bekerja, merenungkan firman Tuhan saja setiap hari? Ini berbicara mengenai prioritas. Bagi anak-anak Tuhan, firman Tuhan “seharusnya” menjadi yang paling dahulu direnungkan. Kemudian firman Tuhan itulah yang menjadi penggerak bagi anak-anak Tuhan dalam menjalankan semua tugas dan tanggung jawab setiap hari. Pemazmur berkata: “FirmanMu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku” (ay. 105). Firman Allah telah membuat pemazmur lebih bijaksana daripada musuh-musuhnya (ay. 98), lebih berakal budi dari pada semua pengajarnya (ay. 99), dan lebih mempunyai pengertian daripada orang-orang tua (ay. 100). Pemazmur bukan bermaksud sombong, tapi memang nyata bahwa Allah memberikan hikmat kepada pemazmur melalui firmanNya. Dari segi pengalaman, orang-orang tua tentu lebih berpengalaman daripada pemazmur. Namun, dalam konteks ini, karena pemazmur mencintai firman Allah, pemazmur lebih mengenal Allah, lebih mengenal hal-hal rohani, lebih mengerti nilai-nilai kekekalan dibandingkan orang-orang tua di dunia. Mengapa bisa demikian? Karena di dalam firman Allah, Allah menyatakan siapa diriNya, untuk apa kita diciptakan, apa tujuan hidup yang seharusnya kita tetapkan, apa arti hidup kekal yang Tuhan Yesus berikan, apa sebenarnya di dunia ini yang membuat kita paling bersukacita, dan hal apakah dalam diri kita yang kalau Allah di sorga melihatnya, Dia berkenan.

1 Juli 2018

Iman dan Teguran Allah

(Kejadian 6:5-18)

Pembelajaran mengenai iman dan teguran dapat kita pelajari melalui kehidupan Nuh dalam kitab Kejadian 6. Kondisi Nuh pada saat itu sangatlah tidak menyenangkan dan ada dalam suatu lingkungan yang penuh dengan kejahatan. Meskipun demikian, ketika kita belajar dari riwayat hidup Nuh, Ia adalah orang yang hidup benar dan tidak bercela diantara orang-orang sejaman / seangkatannya. Ia menolak untuk berkompromi kepada kefasikan. Ia tetap menjadi orang yang benar, tetap setia, dan berintegritas. Bagaimana kita dapat mengatakan bahwa Nuh adalah orang yang beriman? Ia taat pada Allah dengan membuat sebuah bahtera yang “tidak pada tempatnya”, yaitu di atas gunung, bukan di tempat yang seharusnya misalkan di laut. Kunci Nuh untuk tetap bertahan pada imannya adalah karena Nuh senantiasa “hidup bergaul dengan Allah”. Tuhan memberikan berkat kepada orang-orang yang benar-benar mencari Allah (Ibrani 11:13). Bagi orang yang beriman, meskipun berkat Tuhan tidak selalu diberikan sesuai waktu kapan ia meminta, namun ia akan tetap beriman.
Ada 3 hal yang dapat kita pelajari dalam tema Iman dan Teguran ini. ❶ Allah memperingatkan kita melalui Firman-Nya, supaya kita tidak hidup menuju kehidupan yang penuh kehancuran. Seperti dalam Kejadian 2:16, ketika Adam tidak diperkenankan makan buah yang ada ditengah-tengah taman Eden yang berakibat pada kejatuhan manusia dalam dosa. Peringatan Allah membuat hidup kita menjadi hidup yang benar. Kejatuhan manusia akan dosa pada manusia pertama itu seharusnya menjadi peringatan akan keangkuhan hidup manusia yang jatuhnya manusia ke dalam dosa. Dalam Kejadian 6:9 juga Nuh menjadi peringatan bagi orang sejamannya bahwa hidupnya benar dan tidak bercela. Kata “benar” disini berarti “saddiq”, yang dalam bahasa Ibrani melukiskan watak Nuh yang kelihatan hubungannya dengan sesama manusia. Sedangkan kata “tidak bercela” berarti “tamim” yang merupakan hasil sempurna dari seseorang tukang bangunan yang handal, dan bangunan yang dihasilkan itu lengkap sempurna dan tidak ada cacat.

24 Juni 2018

Adakah Hari Esok

(2 Petrus 3:1-13)

Surat Petrus ini dialamatkan kepada orang-orang yang sudah menerima surat pertama. Surat kedua Petrus ini mengungkapkan tujuannya yang lebih luas, untuk melawan ajaran sesat yaitu gnostik yang mengancam kehidupan jemaat. Jemaat ini merupakan campuran Yahudi Kristen dan orang kafir yang bertobat. Dimana di dalamnya juga ada orang gnostik. Dari teks Firman Tuhan ini kita bisa melihat pertanyaan “adakah hari esok” yang dibagi menjadi 3 bagian besar. ❶ Jika kita bertanya adakah hari esok berarti ada pengharapan. Surat Petrus pasal pertama mengajar jemaat tentang penafsiran yang benar tentang kedatangan Tuhan/hari akhir. Kapan terjadinya tidak tahu, jadi mereka menganggap semua adalah dongeng. Ketika kita bertanya adakah hari esok dan kita meyakini ada maka kita harus tetap setia meskipun tidak tahu kapan akan terjadi. Pengajar sesat menuduh Petrus berbohong tentang kedatangan Yesus kedua kali (ayat 3-7). Mereka mengejek kedatangan Yesus kedua kali, mereka hidup sesuai hawa nafsu mereka. Bagaimana dengan pengejek zaman sekarang? Mereka menikmati hidup, tertawa, berbanding terbalik dengan kita yg merasa hidup ini berat. Apa dasar mereka mengejek? Karena mereka melihat dunia tidak berubah sejak dahulu dan mereka meragukan Allah melibatkan diri dengan dunia. Dengan banyaknya ajaran-ajaran sesat seperti demikianlah maka Petrus menekankan bahwa Firman Tuhan dapat dipercaya dan penghakiman Allah menanti orang jahat. Bagaimana respon kita yg percaya akan hari esok? Akankah sama dengan mereka yg tidak percaya? Kita percaya bahwa Allah berotoritas dalam kehidupan kita. Mencemooh keyakinan akan kedatangan Kristus kedua kali sama artinya tidak mengingat sejarah dan mengabaikan setidak-tidaknya satu fakta sejarah: Allah pernah menghancurkan bumi sebelumnya yaitu peristiwa Nuh (ay. 5-6).

27 Mei 2018

Ucapan Syukur Umat yang Ditebus

(Mazmur 107:4-32)

Meskipun telah menerima keselamatan dan lahir baru melalui karya penebusan Yesus, hidup orang percaya tidak bebas dari masalah. Allah mengizinkan masalah datang, tetapi tetap menyertai, menopang dan menuntun dalam melalui masa-masa berat tersebut. Ada 4 macam masalah yang dapat membelenggu orang percaya dan cara Allah menolong untuk keluar dari berbagai masalah:
❶ Ayat 4-9: Pengembara yang tersesat. Pengembara yang tersesat di padang gurun jiwanya menjadi lemah lesu, putus asa karena sulit menemukan jalan keluar. Di padang gurun yang panas dan gersang, orang cenderung mengingat dan mendambakan masa-masa menyenangkan dalam hidupnya. Bangsa Israel yang dipimpin Allah keluar dari Mesir ke Kanaan menggerutu saat berjalan melalui padang gurun. Mereka merasa lebih baik hidup sebagai budak di Mesir karena dapat menikmati daging dan bawang prei. Ketika orang-orang itu berseru kepada Allah (ay.6), Allah melepaskan kecemasan dan menuntun mereka keluar dari kesesakan (ay.7). Allah memuaskan kehausan dan kelaparan jiwa mereka (ay.9). Orang-orang yang tersesat ini mengingatkan kita untuk waspada. Iblis membuat jalan kita seolah-olah ‘benar’, ketika kita sedang tersesat di luar jalan Tuhan. Kita harus memiliki relasi yang intim dengan Allah melalui firman-Nya agar tetap waspada dan peka terhadap penyesatan iblis.