Kumpulan Khotbah

Pdm. Sujarwo
20 Januari 2019

Nasehat untuk Tetap Setia Berjalan dalam Misi Allah

(2 Timotius 1:6-14)

Injil merupakan kabar dari Allah, jaminan kekal kekuatan bagi kita. Perkembangan ke-Kristenan bukan suatu hal yang mudah; berita Injil selalu saja mendapat penolakan keras dari pihak orang-orang yang tidak senang. Tidak semua orang Kristen siap mati bagi Injil.
Paulus menulis suratnya yang kedua kepada Timotius, pelayan yang setia dan tulus melakukan panggilannya dalam aksi-aksi pekabaran Injil, pembentukan Jemaat, ketika ia tengah menderita didalam penjara saat kesiapannya menghadapi hukuman mati pada pemerintahan Nero. Di tengah-tengah situasi yang krisis ini, Paulus menguatkan Timotius untuk tetap semangat.
Dalam 2 Timotius 1:6-8, Paulus menasihatkan, ”Karena itulah kuperingatkan engkau untuk mengobarkan karunia Allah yang ada padamu oleh penumpangan tanganku atasmu. Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban. Jadi janganlah malu bersaksi tentang Tuhan kita dan janganlah malu karena aku, seorang hukuman karena Dia, melainkan ikutlah menderita bagi InjilNya oleh kekuatan Allah”. Ayat ini merupakan motivasi Paulus terhadap Timotius yang saat itu masih muda dan kurang percaya diri, agar Timotius mengobarkan karunia Allah yang ada padanya dan kepercayaan yang sudah Paulus berikan. Beberapa kali Paulus menasihati Timotius supaya tidak malu dalam memberitakan Injil. Kelemahan yang ada dalam diri Timotius dan bagaimana Tuhan telah memakai dia, menjelaskan bahwa kuasa Tuhan sanggup mengatasi kelemahan-kelemahan kita. Memasuki tahun 2019, mari kita mengobarkan kembali gairah untuk tetap setia berjalan dalam Misi Allah. Jangan menyerah pada kelemahan, lakukan apa yang dapat kita lakukan bagi Tuhan dan Ia yang akan melakukan bagianNya serta memampukan kita mengatasi kelemahan tersebut.

30 Desember 2018

Tetaplah Berdoa

(Matius 6:5-13)

Kita telah tiba di penghujung tahun 2018. Dalam hitungan hari kita akan memasuki tahun yg baru. Pada saat ini kita mengambil sedikit waktu untuk merenungkan dan melihat kembali perjalanan kita selama setahun ini. Tema GIII tahun ini adalah kesetiaan. Sudahkah kita setia dalam persekutuan kita dengan Tuhan selama setahun ini? Sudahkah kita terus setia dalam berdoa, membaca Firman Tuhan, dan bersaat teduh dalam setahun ini?
Marthin Luther pernah berkata bahwa, pekerjaan seorang penjahit adalah membuat pakaian, pembuat sepatu adalah membuat sepatu, dan orang Kristen adalah berdoa; doa merupakan satu bagian yg tidak dapat dipisahkan dalam hidup seorang Kristen.
Bacaan Firman Tuhan hari ini mengisahkan bagian dari khotbah Yesus di bukit, tentang hal berdoa. Yesus mengingatkan murid-murid-Nya sekaligus para pendengar bahwa mereka harus waspada terhadap: ① perilaku buruk orang Farisi dan ahli Taurat. Mereka adalah orang-orang yang seharusnya memahami Taurat, akan tetapi pemahaman itu tidak nampak dalam perbuatan dan hidup mereka, ② kemunafikan, dalam hal memberi sedekah (ay. 1-4), dalam berdoa (ay. 5-8), isi doa (ay. 9-13), mengampuni dalam doa (ay. 14-15), dalam berpuasa (ay. 16-18), ③ pikiran duniawi.
Doa merupakan bentuk permintaan/permohonan kita kepada Allah Bapa di Sorga. Oleh karena itu, kita sebagai pihak pemohon tidak memiliki otoritas apa pun dalam terwujudnya permintaan kita; itu semua bergantung kepada Sang Pemberi. Doa juga harus menjadi kerinduan diri kita sendiri, tidak boleh disuruh atau dipaksa oleh orang lain. Melalui doa, kita dapat membangun relasi yang tepat dengan Allah (ay. 9b). Kita beruntung sebagai orang Kristen karena kita memiliki Allah yang dekat, yang mau memiliki relasi pribadi dengan kita. Pada zaman PL, hanya orang-orang tertentu (para nabi) yang dapat berbicara secara pribadi dengan Allah, tidak semua orang pilihan-Nya (bangsa Israel) dapat datang ke hadirat-Nya apalagi berbicara kepada Allah. Melalui pengorbanan Tuhan Yesus, kita semua dikaruniakan kesempatan dan hak yg sama dengan para imam dan nabi PL, yaitu untuk datang ke hadirat Allah dan bersekutu dengan-Nya secara pribadi. Allah ingin agar kita dapat membangun relasi yang tepat dengan-Nya, dan salah satu cara untuk mewujudkannya adalah melalui berdoa. Doa juga merupakan wujud penyandaran diri kita kepada Tuhan. Kita sadar akan keterbatasan kita sebagai manusia, sehingga kita menyerahkan seluruh hidup kita kepada Tuhan agar hidup kita dipimpin olehNya.

21 Oktober 2018

Pengampunan yang Mulia

(Mazmur 32)

Berkat pengampunan Allah adalah sukacita sejati, berkat dan pengampunan Tuhan diberikan bukan karena seseorang itu layak dan bukan hasil usaha seseorang, tetapi itu adalah kasih karunia Tuhan. Sukacita ada pada orang berdosa karena Tuhan telah mengampuni dia, Allah mengampuni pelanggaran, pemberontakan terhadap otoritas Allah yang sah dan Allah tidak lagi memperhitungkan kesalahan, Dia mengampuni dosa kita. Dalam Imamat 16:10, mengacu kepada bangsa Israel yang melakukan pelanggaran, kambing jantan yang dikorbankan melambangkan kematian Yesus Kristus sebagai korban pengganti orang berdosa yang harus dihukum karena dosa-dosa mereka. Akuilah secara jujur dosa kita dihadapan-Nya, ketika kita mengakui dosa tersebut, maka Tuhan akan mengampuni kita. Sebagai orang yang telah lahir baru, kita bahagia karena diampuni.

23 September 2018

Hidup Sesuai dengan Kabar Sukacita

(Filipi 1: 27-30)

Zaman sekarang adalah zaman humanis dan atoposentris dimana manusia berfokus pada dirinya sendiri serta bangga hidup mandiri tanpa Tuhan sehingga merasa tidak butuh Tuhan bahkan menjadikan diri sebagai Tuhan. Segala sesuatu yang tidak sesuai, ditolak. Bagaimanakah respons kita yang hidup di tengah zaman ini? Apakah hidup kita sesuai dengan kabar sukacita, dan mencerminkan identitas seorang kristen yang sejati yang telah menerima anugerah kesalamatan dari Kristus? Ada 3 pokok yang dapat kita pelajari sehubungan dengan tema khotbah hari ini: ❶ Hidup Berpadanan Injil, hidup berpadanan dengan injil adalah inti dari ayat 27-30. Berpadanan dalam bahasa Yunani axios artinya layak (worthy). Maka sebagai orang yang telah menerima Injil atau dilahirbarukan maka hidup kita harus menghidupi Injil sehingga hidup kita berbeda dengan orang yang belum menerima kabar sukacita tersebut, dan orang-orang dapat membaca Injil dari sikap hidup dan karakter kita. Kata hidup dalam bahasa Yunani, politeomai artinya adalah pola hidup yang sesuai dengan susunan atau tatanan tertentu, biasa digunakan merujuk pada kehidupan seorang warga negara dalam keikutsertaannya dalam pemerintahan dalam segala peraturan dan kebajikan yang perlu diperbuat. Sebagaimana gaya hidup warga romawi berbeda dengan seorang budak maka kita harus hidup sesuai status kita sebagai orang yang telah ditebus dan menerima Injil sehingga memberi dampak pada orang di sekeliling kita. Kita tidak boleh puas hanya dengan status sebagai orang kristen, tiap minggu ke gereja dan sebagainya, namun tidak memberi dampak baik pada orang sekitar kita dalam kehidupan sehari-hari melalui Injil yang kita dengar dan renungkan. ❷ Hidup Beriman kepada Kristus, iman bukanlah slogan semata namun seperti yang diingatkan Paulus, kita perlu teguh berdiri dalam satu roh, dan sehati sejiwa berjuang untuk iman yang timbul dari berita Injil. Kita perlu merenungkan Firman itu hari lepas hari karena iman tumbuh dari pendengaran dan perenungan Firman. Kita perlu rindu dan bergairah untuk lebih mengenal Kristus sebagaimana layaknya orang yang sudah dilahirbarukan, orang yang percaya dan beriman. Hidup beriman kepada Kristus bukan hanya di awal saja saat kita menyatakan iman kita tersebut melainkan terus menerus berjuang hidup dalam berita sukacita dan menyaksikannya dalam kehidupan sehari-hari. Walau sulit sekalipun tapi kita harus mempertanggungjawabkan tentang iman kita kepada orang sekitar melalui sikap hidup kita. Firman yang kita dengar merubah sikap kita dan itulah yang perlu kita aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari sehingga orang dapat merasakan atau melihatnya.

12 Agustus 2018

Dalam Yesus, Kita Sanggup Menanggung Segala Sesuatu

(Filipi 4:8-13)

Kita menyadari sebagai manusia terbatas kita banyak pergumulan. Kekuatan kita untuk menghadapi semua pergumulan hanya ada dalam firman Tuhan. Kita harus sadar bahwa kita hanya bergantung kepada Allah yang tidak terbatas saja! Manusia memiliki keterbatasan fisik sehingga bisa sakit; keterbatasan mental sehingga mud