Kumpulan Khotbah

Pdm. Sujarwo
29 Juli 2018

Menyimpan Hukum Tuhan di Dalam Hati

(Mazmur 119:97-104)

Mazmur 119 merupakan Mazmur terpanjang dan mempunyai konsep paling formal serta rumit, tapi Mazmur yang sangat penting karena berbicara mengenai “menyimpan firman Tuhan dalam hati”. Bagaimana supaya kita dapat menyimpan firman Tuhan dalam hati? Cinta atau kasih menjadi penggerak bagi kita untuk lebih memberi perhatian. Perhatian membuat kita belajar lebih memahami sesuatu. Inilah yang membuat pemazmur berkata:”Betapa kucintai TauratMu! Aku merenungkannya sepanjang hari (Mazmur 119:97)”. Jika kita sungguh-sungguh mengasihi Kristus, maka kita akan mengasihi Alkitab yang di dalamnya Kristus mengajar kita. Kita mungkin sadar kalau kita manusia terbatas, tapi seberapa jauh kita bersandar pada Allah yang tidak terbatas?
Apa artinya merenungkan firman Allah siang dan malam? Apakah ini berarti kita tidak perlu bekerja, merenungkan firman Tuhan saja setiap hari? Ini berbicara mengenai prioritas. Bagi anak-anak Tuhan, firman Tuhan “seharusnya” menjadi yang paling dahulu direnungkan. Kemudian firman Tuhan itulah yang menjadi penggerak bagi anak-anak Tuhan dalam menjalankan semua tugas dan tanggung jawab setiap hari. Pemazmur berkata: “FirmanMu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku” (ay. 105). Firman Allah telah membuat pemazmur lebih bijaksana daripada musuh-musuhnya (ay. 98), lebih berakal budi dari pada semua pengajarnya (ay. 99), dan lebih mempunyai pengertian daripada orang-orang tua (ay. 100). Pemazmur bukan bermaksud sombong, tapi memang nyata bahwa Allah memberikan hikmat kepada pemazmur melalui firmanNya. Dari segi pengalaman, orang-orang tua tentu lebih berpengalaman daripada pemazmur. Namun, dalam konteks ini, karena pemazmur mencintai firman Allah, pemazmur lebih mengenal Allah, lebih mengenal hal-hal rohani, lebih mengerti nilai-nilai kekekalan dibandingkan orang-orang tua di dunia. Mengapa bisa demikian? Karena di dalam firman Allah, Allah menyatakan siapa diriNya, untuk apa kita diciptakan, apa tujuan hidup yang seharusnya kita tetapkan, apa arti hidup kekal yang Tuhan Yesus berikan, apa sebenarnya di dunia ini yang membuat kita paling bersukacita, dan hal apakah dalam diri kita yang kalau Allah di sorga melihatnya, Dia berkenan.

1 Juli 2018

Iman dan Teguran Allah

(Kejadian 6:5-18)

Pembelajaran mengenai iman dan teguran dapat kita pelajari melalui kehidupan Nuh dalam kitab Kejadian 6. Kondisi Nuh pada saat itu sangatlah tidak menyenangkan dan ada dalam suatu lingkungan yang penuh dengan kejahatan. Meskipun demikian, ketika kita belajar dari riwayat hidup Nuh, Ia adalah orang yang hidup benar dan tidak bercela diantara orang-orang sejaman / seangkatannya. Ia menolak untuk berkompromi kepada kefasikan. Ia tetap menjadi orang yang benar, tetap setia, dan berintegritas. Bagaimana kita dapat mengatakan bahwa Nuh adalah orang yang beriman? Ia taat pada Allah dengan membuat sebuah bahtera yang “tidak pada tempatnya”, yaitu di atas gunung, bukan di tempat yang seharusnya misalkan di laut. Kunci Nuh untuk tetap bertahan pada imannya adalah karena Nuh senantiasa “hidup bergaul dengan Allah”. Tuhan memberikan berkat kepada orang-orang yang benar-benar mencari Allah (Ibrani 11:13). Bagi orang yang beriman, meskipun berkat Tuhan tidak selalu diberikan sesuai waktu kapan ia meminta, namun ia akan tetap beriman.
Ada 3 hal yang dapat kita pelajari dalam tema Iman dan Teguran ini. ❶ Allah memperingatkan kita melalui Firman-Nya, supaya kita tidak hidup menuju kehidupan yang penuh kehancuran. Seperti dalam Kejadian 2:16, ketika Adam tidak diperkenankan makan buah yang ada ditengah-tengah taman Eden yang berakibat pada kejatuhan manusia dalam dosa. Peringatan Allah membuat hidup kita menjadi hidup yang benar. Kejatuhan manusia akan dosa pada manusia pertama itu seharusnya menjadi peringatan akan keangkuhan hidup manusia yang jatuhnya manusia ke dalam dosa. Dalam Kejadian 6:9 juga Nuh menjadi peringatan bagi orang sejamannya bahwa hidupnya benar dan tidak bercela. Kata “benar” disini berarti “saddiq”, yang dalam bahasa Ibrani melukiskan watak Nuh yang kelihatan hubungannya dengan sesama manusia. Sedangkan kata “tidak bercela” berarti “tamim” yang merupakan hasil sempurna dari seseorang tukang bangunan yang handal, dan bangunan yang dihasilkan itu lengkap sempurna dan tidak ada cacat.

24 Juni 2018

Adakah Hari Esok

(2 Petrus 3:1-13)

Surat Petrus ini dialamatkan kepada orang-orang yang sudah menerima surat pertama. Surat kedua Petrus ini mengungkapkan tujuannya yang lebih luas, untuk melawan ajaran sesat yaitu gnostik yang mengancam kehidupan jemaat. Jemaat ini merupakan campuran Yahudi Kristen dan orang kafir yang bertobat. Dimana di dalamnya juga ada orang gnostik. Dari teks Firman Tuhan ini kita bisa melihat pertanyaan “adakah hari esok” yang dibagi menjadi 3 bagian besar. ❶ Jika kita bertanya adakah hari esok berarti ada pengharapan. Surat Petrus pasal pertama mengajar jemaat tentang penafsiran yang benar tentang kedatangan Tuhan/hari akhir. Kapan terjadinya tidak tahu, jadi mereka menganggap semua adalah dongeng. Ketika kita bertanya adakah hari esok dan kita meyakini ada maka kita harus tetap setia meskipun tidak tahu kapan akan terjadi. Pengajar sesat menuduh Petrus berbohong tentang kedatangan Yesus kedua kali (ayat 3-7). Mereka mengejek kedatangan Yesus kedua kali, mereka hidup sesuai hawa nafsu mereka. Bagaimana dengan pengejek zaman sekarang? Mereka menikmati hidup, tertawa, berbanding terbalik dengan kita yg merasa hidup ini berat. Apa dasar mereka mengejek? Karena mereka melihat dunia tidak berubah sejak dahulu dan mereka meragukan Allah melibatkan diri dengan dunia. Dengan banyaknya ajaran-ajaran sesat seperti demikianlah maka Petrus menekankan bahwa Firman Tuhan dapat dipercaya dan penghakiman Allah menanti orang jahat. Bagaimana respon kita yg percaya akan hari esok? Akankah sama dengan mereka yg tidak percaya? Kita percaya bahwa Allah berotoritas dalam kehidupan kita. Mencemooh keyakinan akan kedatangan Kristus kedua kali sama artinya tidak mengingat sejarah dan mengabaikan setidak-tidaknya satu fakta sejarah: Allah pernah menghancurkan bumi sebelumnya yaitu peristiwa Nuh (ay. 5-6).

27 Mei 2018

Ucapan Syukur Umat yang Ditebus

(Mazmur 107:4-32)

Meskipun telah menerima keselamatan dan lahir baru melalui karya penebusan Yesus, hidup orang percaya tidak bebas dari masalah. Allah mengizinkan masalah datang, tetapi tetap menyertai, menopang dan menuntun dalam melalui masa-masa berat tersebut. Ada 4 macam masalah yang dapat membelenggu orang percaya dan cara Allah menolong untuk keluar dari berbagai masalah:
❶ Ayat 4-9: Pengembara yang tersesat. Pengembara yang tersesat di padang gurun jiwanya menjadi lemah lesu, putus asa karena sulit menemukan jalan keluar. Di padang gurun yang panas dan gersang, orang cenderung mengingat dan mendambakan masa-masa menyenangkan dalam hidupnya. Bangsa Israel yang dipimpin Allah keluar dari Mesir ke Kanaan menggerutu saat berjalan melalui padang gurun. Mereka merasa lebih baik hidup sebagai budak di Mesir karena dapat menikmati daging dan bawang prei. Ketika orang-orang itu berseru kepada Allah (ay.6), Allah melepaskan kecemasan dan menuntun mereka keluar dari kesesakan (ay.7). Allah memuaskan kehausan dan kelaparan jiwa mereka (ay.9). Orang-orang yang tersesat ini mengingatkan kita untuk waspada. Iblis membuat jalan kita seolah-olah ‘benar’, ketika kita sedang tersesat di luar jalan Tuhan. Kita harus memiliki relasi yang intim dengan Allah melalui firman-Nya agar tetap waspada dan peka terhadap penyesatan iblis.