Kumpulan Khotbah

Ev. Sujarwo
8 Oktober 2017

Jangan Khawatir! Berdoalah dan Temukan Damai Sejahtera

(Filipi 4:1-7)

Semua orang pernah mengalami khawatir. Khawatir merupakan perasaan takut, gelisah, dan cemas terhadap suatu hal yang belum diketahui dengan pasti. Ironisnya, banyak hal yang manusia khawatirkan tidak pernah terjadi. Orang Kristen sendiri tidaklah kebal terhadap rasa khawatir, tapi sadar atau tidak, kekhawatiran seringkali membuat kabur kesadaran kita akan kehadiran dan keberadaan Allah. Manusia pada umumnya sering mengkhawatirkan sandang, pangan, dan papan. Namun Tuhan Yesus malah berkata bahwa kita tidak perlu mengkhawatirkan sandang dan pangan karena semua hal ini dicari oleh mereka yang tidak mengenal Allah. Bapa Sorgawi tahu bahwa anak-anakNya memerlukan semuanya itu. Apa maksud dari pernyataan Tuhan Yesus ini? Apakah kita hidup tenang-tenang saja, tidak perlu bekerja, dan menunggu berkat dari atas turun? Rasul Paulus dengan tegas berkata bahwa jika seseorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan. Setiap orang harus bekerja sebaik-baiknya dengan bertanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan hidupnya (2 Tesalonika 3:10-11). Paulus mengirimkan surat kepada jemaat Filipi ketika berada dalam penjara dan menunggu eksekusi hukuman mati. Di tengah ketidakpastian berapa lama lagi hidup, Paulus menasehati jemaat Filipi untuk tidak khawatir tentang apapun juga dan berserah kepada Allah. Ungkapan jangan khawatir bukan berarti kita menjadi santai-santai. Paulus ingin kita bertanya dan mengkoreksi diri: “Apa prioritas kita di dalam di dunia ini?” Paulus menekankan kepada setiap orang yang dilayaninya untuk meletakkan hal-hal yang rohani di atas hasrat duniawi. Rasa khawatir akan hal-hal duniawi akan merusak tujuan sorgawi Allah menciptakan dan menyelamatkan kita. Semua materi dalam dunia ini bersifat sementara, namun orang Kristen harus bertanggung jawab menggunakan semuanya itu untuk mencapai hal-hal yang bernilai kekal. Kita bisa menggunakan uang yang bernilai sementara untuk mendukung pelayanan misi, pemberitaan Injil, dan pemuridan untuk membawa jiwa-jiwa kembali kepada Kristus.

17 September 2017

Akibat Pembenaran

(Roma 5:1-11)

Melalui pembacaan Alkitab hari ini, kita mau belajar tentang akibat pembenaran. Kita perlu mengerti terlebih dahulu arti kata “pembenaran” itu, yaitu membenarkan (Ibrani=tsadaq; Yunani= dikaioo) yang adalah istilah hukum, artinya ‘membebaskan dari tuntutan, menyatakan benar atau tidak bersalah’. Lawan kata dari kata tersebut ialah ‘menghukum, menyatakan salah’ (bdk. Ulangan 25:1; Amsal 17:15; Roma 8:33). Seorang yang membenarkan orang lain adalah tugas atau hak seorang hakim. Lalu apa yang menjadi penyebab ketidakbenaran itu bisa ada didalam kehidupan orang Kristen, jawabannya adalah karena adanya “dosa”, dosa telah menjadi akar dari permasalahannya. Apakah yang dimasudkan dengan dosa ini? Alkitab menggunakan beberapa istilah untuk dosa. Kata Ibrani yg paling umum digunakan ialah khatta’t ‘awon, pesya ‘ra‘; dalam bahasa Yunani ialah hamartia, hamartema, parabasis, paraptoma, poneria, anomia dan adikia. Dari beberapa istilah dosa ini menjelaskan bahwa dosa adalah setiap penentangan yang ditujukan kepada Allah.