Ringkasan Khotbah

Pasal 3 dimulai dengan kisah Petrus dan Yohanes pergi ke Bait Allah dan bertemu dengan seorang yang lumpuh sejak lahir dan usianya sudah lebih dari 40 tahun. Menurut manusia, pasti sulit bagi orang tsb untuk disembuhkan. Kesembuhan yang dialami orang lumpuh tsb tentu tidak lepas dari karunia Allah, namun ada faktor lain yakni dua pihak yang beriman yaitu para rasul dan orang lumpuh. Petrus berkata apa yang aku punya dan terima dari Tuhan itulah yang aku berikan kepadamu. Inilah wujud nyata orang beriman, yaitu menyatakan kepada orang apa yang telah diberikan dan dinyatakan oleh Tuhan kepada mereka. Sebelum naik ke surga Yesus sendiri telah menyatakan hal ini kepada para rasul dalam Markus 16:17-18. Jadi apa yang dilakukan Petrus adalah wujud nyata dari kuasa Allah yang bekerja meneguhkan pekerjaan pengabaran Injil dan kesaksian para rasul dan gereja sejak zaman mula-mula hingga sekarang. Maka kita perlu dengan sungguh-sungguh memberi hati kita untuk dipakai oleh Tuhan dalam menyatakan pekerjaan Allah.

Pada ayat 15, Petrus menegaskan kepada umat Yahudi bahwa Yesuslah satu-satunya pemimpin kepada hidup. Ia menjelaskan kepada orang Yahudi yang keheranan oleh peristiwa kesembuhan orang lumpuh bahwa bukan karena kesalehan atau kuasa mereka namun anugerah Allah dan iman kepada nama Yesuslah yang menyembuhkan orang lumpuh tsb. Yesus mengarahkan seseorang untuk kembali memandang kepada sumber kehidupan yang sesungguhnya melalui kematian-Nya. Iman terhadap karya Kristus membuat kita mempunyai pengharapan akan kehidupan yang sejati. Biarlah kita boleh menjadi perpanjangan tangan, untuk menyatakan kuasa kebangkitan Kristus kepada dunia. Dan bila itu dinyatakan, kita belajar seperti Petrus tetap merendahkan diri karena semua adalah oleh anugerah Tuhan semata. Kalau Yesus adalah pemimpin kepada hidup, maka

1) Allah Bapa sendiri memuliakan Yesus (ayat 13). Mesias memang harus menderita terlebih dahulu (ay 18) namun setelah itu Ia menerima kemuliaan. Yesus adalah Hamba yang dimuliakan. Kata hamba disini bukan doulos yang berarti budak, namun kata hamba disini artinya adalah anak Allah yang menghambakan diri (paida). Ia datang untuk menyelamatkan orang berdosa dan menolong orang-orang yang terabaikan seperti orang lumpuh yang menderita berpuluh tahun dan tidak bisa beribadah di dalam bait Allah. Maka setelah si orang lumpuh sembuh ia bersukacita dan terus mengikuti Petrus karena ia telah menerima hidup dari Kristus, tidak hanya secara fisik tetapi iman dan batinnya diperbaharui. Kata paida ini digunakan berulang kali oleh Lukas (Kis 3:26, 4:27) untuk menyatakan fakta akan Kristus yang datang di dunia, dan menyatakan karya-Nya dengan menghambakan diri dan melalui itulah Ia dapat membawa setiap orang menjadi anak-anak Allah. Itulah sebanya Allah sangat meninggikan Dia dan mengarunikan kepada-Nya nama di atas segala nama (Fil 2:9). Kristus yang oleh inkarnasi-Nya berada dalam persekutuan dengan kita, memasuki segala kondisi kita oleh penderitaan dan kematian-Nya, dan merekonsiliasi hubungan kita dengan Allah melalui ketaatan-Nya kepada Allah Bapa. Ia menjadi Pembela dan Pengantara kita sehingga kita bisa menghampiri Allah. Betapa Yesus mengasihi kita. Marilah kita mengoreksi hidup kita masing-masing, sudahkah kita meneladani Kristus yang adalah anak Allah namun mau merendahkan dirinya. Sudahkah kita percaya kepada Yesus dan memuliakan Dia di dalam kehidupan sehari-hari.

2) Ia Mesias yang menderita. Petrus mencoba menghibur orang Yahudi dengan menyatakan semua yang mereka lakukan adalah karena ketidaktahuan mereka dan pemimpin mereka, bahkan segala sesuatu adalah sesuai rencana Tuhan (ayat 17-18). Ini adalah suatu pernyataan kasih sebagaimana Kristus sewaktu disalib juga berkata “Bapa, ampunilah mereka sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat”, untuk membesarkan hati orang berdosa yang merasa tertuduh atas perbuatan / dosa mereka yang membunuh Yesus. Seorang dapat jatuh dan berbuat dosa namun Allah dapat mengampuni dan memakai kesempatan tersebut untuk memanggil orang kembali kepada Allah dengan cara dibeberkan dahulu semua kesalahan-kesalahannya (ayat 13-15). Petrus mengajak orang Yahudi untuk memandang kepada Yesus sang sumber kehidupan sehingga mereka tidak jatuh dalam keputusasaan, bahwa dosa yang dikerjakan orang Yahudi, melaluinya Tuhan sedang mengerjakan / menyempurnakan maksud-maksud-Nya (ayat 18). Hikmat Allah melampaui keberdosaan manusia dan ada rencana dan karya Allah yang Ia nyatakan dalam kedaulatan-Nya di tengah keberdosaan manusia. Maka tidak ada manusia yang terlalu berdosa atau tidak layak untuk diselamatkan karena Tuhan dapat bekerja dengan cara-Nya untuk memanggil orang berdosa. Kita pun jangan mengeraskan hati kita bila ada dosa yang kita kerjakan dan Tuhan memanggil kita untuk bertobat.

3) Sadar dan bertobatlah agar dosamu dihapuskan (ayat 19). Yesus datang untuk menyatakan keselamatan dari Allah dan orang yang tidak mau menerima akan dibasmi (ayat 23) dalam arti dihukum dan tidak menerima warisan keselamatan karena upah dosa adalah maut. Untuk itulah kita perlu pertobatan. Orang Yahudi itu memang beribadah kepada Allah tetapi mereka telah melakukan dosa meleset dari tujuan penciptaan (hamartia) dengan memuliakan diri sendiri. Karena itu Petrus menegaskan mereka untuk bertobat dan kembali kepada Allah. Kita pun sebagai orang Kristen tidak cukup beriman kepada Kristus saja, tetapi kita perlu berperang melawan dosa dan hidup untuk melayani Tuhan demi kehormatan dan kemuliaan-Nya.