Pengkhotbah

Perikop
Kejadian 38:1-19

Ringkasan Khotbah

Allah kita tidak pernah berubah karena perubahan sikap umat pilihan-Nya, misalnya: Abraham yang gagal karena menggauli Hagar, menipu status Sara menjadi adiknya di Mesir, tetap dipilih Tuhan sebagai Bapa orang beriman; Ishak yang gagal menjadi ayah yang baik pun tetap dipilih Tuhan sebagai pewaris perjanjian Allah; Yakub yang menipu kakaknya untuk merampas hak kesulungan juga tetap dipilih Allah.

Demikian pula Yehuda, anak Yakub. Prinsip Abraham dan Ishak dalam memilih pasangan bagi anak-anak mereka, yaitu tidak mengambil perempuan Kanaan, tidak diwariskan oleh Yehuda.

  1. Yehuda meninggalkan saudara-saudaranya (ayat 1)
    Setelah Yusuf dijual, kekacauan melingkupi anak-anak Yakub karena mereka telah menyembunyikan dosa kepada ayah mereka. Lalu Yehuda keluar dari rumah ayahnya serta saudara-saudaranya dan menumpang pada seorang Adulam, sebuah kota di Kanaan, bernama Hira.Tradisi orang Yahudi ialah mendidik anak-anaknya kepada Taurat Tuhan (Ulangan 6:6-7). Ketika Yehuda meninggalkan rumah, dia sedang meninggalkan nasihat Taurat dan mendapat pengaruh buruk dari lingkungan orang kafir. Tidak pernah ada cerita orang Kristen yang meninggalkan Gereja/persekutuan, hidupnya lebih maju secara rohani. Ia akan menjadi seperti orang kafir. Hendaklah kita bersekutu dan beribadah secara rutin.Yehuda bersahabat dengan Hira sebelum keluar dari rumah (ayat 12, 20). Hal ini mempengaruhi sikapnya dalam pergaulan mencari pasangannya. 1 Korintus 15:33 mengatakan “Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik”.
  2. Yehuda berkeluarga dan kebiasaan mereka (ayat 2)
    Yehuda menikah dengan perempuan Kanaan. Ia melanggar prinsip iman nenek moyangnya serta ketentuan Allah dalam Ulangan 7:3-4. Sikap yang benar dalam memilih pasangan, menurut Paul Gunadi, konselor keluarga Kristen, adalah: “…keharmonisan pernikahan tidak hanya ditentukan oleh kesamaan iman namun tidak dapat disangkal, iman kepercayaan memainkan peran penting dalam kehidupan pernikahan. Itu sebabnya ketidaksamaan iman dapat menimbulkan masalah dalam pernikahan. Keputusan untuk menikah dengan yang seiman merupakan wujud ketaatan kepada perintah Tuhan. Dan, Tuhan akan memberkati anak-anak-Nya yang mengutamakan-Nya”.Yehuda menikah dan mempunyai anak-anak. Anak-anak Yehuda bergaul dengan lingkungan yang jahat hingga mereka menjadi orang jahat. Er, anak sulung menjadi seorang yang jahat di mata Tuhan (ayat 7). Onan, anak kedua juga jahat di mata Tuhan (ayat 10). Akibat perilaku mereka yang jahat ini, Tuhan membunuh mereka.Tetapi, Yehuda menduga bahwa kematian anak-anaknya ini disebabkan pernikahannya dengan Tamar (ayat 11). Seorang penafsir berkata: “Yehuda mempercayai kematian anak-anaknya sebagai takhayul sehingga ia tidak mengizinkan anak bungsunya setelah besar menikah dengan Tamar”. 1Timotius 4:7 mengatakan “Tetapi jauhilah takhayul dan dongeng nenek-nenek tua”.
  3. Penyelewengan Yehuda (ayat 12-19)
    Ayat 12 melaporkan setelah masa perkabungan kematian Syua, istri Yehuda, Yehuda kembali beraktivitas. Yehuda perlu dipuji dalam hal ini karena dia tidak tenggelam dalam kesedihannya. Tetapi ia melakukan perbuatan yang melanggar lagi, yaitu menghampiri perempuan yang bukan istrinya (ayat 16). Pertobatan itu sangat penting sebelum menikah agar penyimpangan yang ada tidak dipelihara seumur hidup.Teks ini dicantumkan di antara kisah hidup Yusuf yang saleh. Yusuf juga kesepian di rumah Potifar tetapi dia tidak mau melakukan perilaku jahat kepada istri Potifar.

Kesimpulan:

  • Yehuda memiliki sikap yang jahat namun ia masih dilayakkan untuk kembali ke rumah ayahnya (pasal 42:3). Ayahnya mengampuni dan menerima Yehuda. Ini adalah teladan untuk mengampuni kesalahan orang lain.
  • Yehuda merespon kesalahan orang lain dengan keras (pasal 38:24). Yehuda melihat kesalahan orang lain dengan berlebihan. Sikap ini tidak baik.
  • Kristus lahir dari keturunan Yehuda yang jahat ini untuk menunjukkan kedatangan-Nya ke dunia ini bukan karena jasa/kebaikan nenek moyang-Nya melainkan dari Diri-Nya sendiri. Dari perkawinan Yehuda dan Tamar ini lahirlah Peres dan Zerah yang kelak menjadi nenek moyang Kristus (Matius 1:3, Luk 3:33).
  • Tuhan mengampuni Yehuda. Ia juga mengampuni kita saat ini dan Ia tidak pernah mengubah pemilihan-Nya kepada kita.