Pengkhotbah

Perikop
Ibrani 11:7-12

Ringkasan Khotbah

Kitab Ibrani pasal 11 seringkali disebut sebagai pasal iman karena pasal tersebut memberikan definisi mengenai iman (ayat 1) serta menyebutkan anak-anak Tuhan yang telah hidup di dalam iman sejati kepada Tuhan dan menjelaskan mengapa mereka disebut sebagai tokoh-tokoh iman. Sebelumnya kita sudah belajar bahwa karena iman, kita tahu bahwa alam semesta diciptakan oleh Tuhan. Kita juga sudah merenungkan mengenai dua orang tokoh iman, yaitu Habel dan Henokh. Pada ayat 6 disebutkan bahwa “tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia.” Ayat ini menyimpulkan bahwa hanya melalui imanlah kita tahu bahwa Allah ada. Di negara Indonesia, hampir semua orang mempunyai agama dan diajarkan bahwa ada Allah. Namun, di negara Jepang, orang-orang tidak peduli akan keberadaan Allah. Pada hari ini kita akan belajar dan merenungkan kembali beberapa tokoh iman.
Tokoh pertama adalah Nuh (ayat 7). Allah berfirman kepada Nuh untuk membuat sebuah bahtera yang sangat besar. Tentunya membuat bahtera yang sangat besar ini bisa disebut sebagai sebuah proyek gila. Untuk apa Nuh membangun bahtera? Bahkan tanda-tanda hujan sedikitpun tidak ada pada waktu Nuh membangun bahteranya. Lalu, mengapa Nuh membangun bahtera tersebut di darat dan bukannya di dekat laut atau pantai? Mungkin banyak orang yang “menertawakan” Nuh pada masa itu. Apa yang membuat Nuh taat pada firman Tuhan dan setia mengerjakan pembangunan bahtera itu? Inilah yang disebut iman. Nuh dengan iman memimpin keluarganya juga untuk percaya kepada Tuhan dan mengerjakan bahtera itu. Karena Nuh takut akan Tuhan, Nuh sangat serius menanggapi perintah Tuhan dengan penuh ketaatan bersama keluarganya. Setelah Nuh selesai membangun bahteranya, Allah mendatangkan banjir besar yang melanda seluruh bumi dan membunuh seluruh makhluk hidup yang ada di luar bahtera. Allah menghukum dunia yang berdosa. Orang Kristen mengerti bahwa kelak nanti, Tuhan Allah akan menghukum mereka yang berdosa dan menolak Tuhan Yesus. Sama seperti pada peristiwa banjir besar dalam riwayat Nuh, Allah akan menghukum dunia yang berdosa. Sebenarnya, orang-orang dunia menyadari krisis yang mengancam umat manusia namun mereka tidak menyadari adanya penghukuman dari Allah pada hari penghakiman terakhir seperti yang pernah terjadi pada masa Nuh. Pada waktu Nuh percaya dan taat kepada Tuhan, Nuh sedang menghukum dunia.
Pada masa sekarang pun, orang-orang percaya sedang menghakimi dunia melalui ketaatan kepada firman Tuhan. Walaupun kita yang di Jepang dianggap aneh karena setiap hari Minggu beribadah dan berkumpul serta memuji Tuhan, tapi kita sedang membuktikan bahwa iman kita adalah iman yang benar di hadapan Allah. Tokoh kedua yang akan kita pelajari adalah Abraham dan Sara (ayat 8-11). Ketika Allah memerintahkan Abraham untuk berangkat ke tanah yang Abraham tidak kenal dan tidak tahu, Abraham hanya taat saja. Abraham pergi meninggalkan tanah asalnya, Urkasdim, dan berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain. Abraham dan istrinya, Sara, hanya mengikuti perintah Tuhan saja. Banyak kesulitan-kesulitan yang harus dihadapi Abraham. Namun, Sara juga setia bersama-sama Abraham. Mereka harus meninggalkan adat-istiadat lama, beradaptasi dengan budaya baru, dan harus menghadapi berbagai ancaman dari orang-orang yang tinggal di tanah yang mereka tuju. Abraham pun diperhadapkan dengan orang-orang yang menyembah berhala. Namun Abraham tetap terpaut kepada Tuhan, tidak ikut-ikutan menyembah berhala. Abraham taat ketika harus meninggalkan berbagai kenyamanan hidup dan masuk dalam berbagai krisis. Banyak para pendeta di zaman sekarang yang mengajarkan mengenai kenyamanan dan berkat-berkat jasmani di gereja, tapi itu tidak sesuai firman Tuhan.
Kita sementara ini tinggal di Tokyo, namun kita tidak pernah tahu di kota mana nanti kita berada, apa yang akan kita kerjakan, dan apa yang akan kita hadapi/ alami. Kita perlu belajar dari teladan Abraham yang taat dan setia pada firman Tuhan. Abraham dan Sara juga dijanjikan akan keturunan. Namun, Sara tertawa karena menganggap bahwa tidak mungkin mereka berdua yang sudah tua dan tidak lagi mampu secara seksual akan mempunyai anak. Allah menegur Sara. Walaupun Allah menegur Sara, Allah juga menguatkan iman Sara melalui Abraham. Dalam sebuah keluarga Kristen, ayah, ibu, dan anak-anak harus saling menguatkan di dalam iman. Begitu juga di dalam gereja. Tidak semua orang di dalam gereja mempunyai level iman yang sama. Ada yang relatif lebih kuat, ada yang relatif lebih lemah, namun orang-orang percaya harus saling menguatkan di dalam iman sampai nanti kita semua bertemu dengan Tuhan.