Pengkhotbah

Perikop
Efesus 1:1-12

Ringkasan Khotbah

Kota Efesus merupakan kota perdagangan yang kaya dan berkebudayaan tinggi. Kota ini bersejarah dalam ke-Kristen-an karena menjadi sentral penginjilan dimana Paulus memberitakan Injil ke kota-kota lain melalui kota ini. Sejak tahun 133 SM, Efesus menjadi pusat propinsi Romawi di Asia. Zaman sekarang, Kota Efesus ini menjadi Kota Selcuk di Turki. Paulus pernah tinggal di Efesus kira-kira 3 tahun (Kisah Rasul 19:8, 10; 20:31). Baru dirintis menjadi jemaat, di Efesus didirikan sekolah teologia Tiranus. Namun, Efesus juga menjadi kota yang banyak penyembahan berhala seperti adanya Kuil Dewi Diana (Artemis). Di sana banyak terdapat orang-orang yang mempraktekkan ilmu sihir. Kitab Efesus ditulis oleh Paulus pada tahun 62 pada saat sedang dipenjara di Roma. Menurut Paulus, Tuhan memiliki tujuan untuk memanggil kita sebagai orang pilihan Allah, yaitu ① supaya kita tak bercacat dan bercela (bdk. Kolose 1:22-23) dan ② supaya kita menjadi umat yang kudus.

Berbicara tentang orang pilihan Allah, kita tidak dapat memisahkan dari karya dan kedaulatan Allah. Allah memanggil dan memilih kita bukan karena siapa kita, bukan karena natur kita, tapi karena kedaulatanNya. Kita harus bersyukur karena anugerahNya yang memilih kita orang berdosa yang tidak layak. Allah yang berpribadi adalah Ia yang bertindak menurut kehendakNya. Roma 8:29-30 berkata “Sebab semua orang yang dipilihNya dari semula, mereka juga ditentukanNya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran AnakNya, supaya Ia, AnakNya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Dan mereka yang ditentukanNya dari semula, mereka itu juga dipanggilNya. Dan mereka yang dipanggilNya, mereka itu juga dibenarkanNya. Dan mereka yang dibenarkanNya, mereka itu juga dimuliakanNya”. Kata “ditentukan” di ayat ini dalam teologi disebut “predestinasi” (Inggris: predestined, Yunani: proorizo: pro = sebelum, horizo = establish boundaries, limit = menetapkan batas-batas). Jadi, predestinasi berarti “ditentukan, ditetapkan, diputuskan sebelumnya”.Predestinasi dalam ke-Kristen-an berarti Tuhan menentukan terjadinya hal-hal tertentu sebelum hal-hal itu terjadi. Tuhan menentukan orang-orang tertentu untuk menjadi sama dengan AnakNya, dipanggil dan dibenarkan. Pada dasarnya Allah mempunyai rencana untuk menyelamatkan orang-orang yang dipilihNya. Kalau begitu, bukankah ini tidak adil karena Tuhan memilih yang sebagian untuk diselamatkan tetapi Ia menentukan yang lainnya untuk dihukum? Kita perlu memahami Roma 3:23: “Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah”. Akibatnya, berdasarkan prinsip keadilan, semua orang seharusnya dihukum dan dibinasakan. Namun, jika Tuhan memilih dari antara orang yang akan dihukum tersebut untuk Ia selamatkan, itu karena anugerah dan kemurahan hatiNya. Ini adalah panggilan yang berkuasa dan efektif untuk hidup. Sama seperti Yesus ketika memanggil Lazarus yang sudah mati, akhirnya dapat hidup kembali (Yohanes 11:43-44). Ibarat seseorang yang memberikan hadiah hanya kepada 3 orang saja dari antara 5 orang. Apakah 2 orang yang tidak mendapatkan hadiah berhak untuk protes dan kesal karena tidak mendapatkan hadiah? Tidak, karena pemberi hadiah itu berhak memberi kepada siapa dia ingin bermurah hati memberinya. Dalam Perjanjian Lama, ada juga peristiwa yang menyatakan kedaulatan Allah, misalnya ketika Allah berfirman kepada Nabi Amos: “Hanya kamu yang Kukenal dari segala kaum di muka bumi” (Amos 3:2). Kemudian, demikian juga ketika Allah memilih Yakub dan menolak Esau sebelum mereka berbuat baik ataupun berbuat apa-apa (Roma 9:15-16). Bukankah ini adalah kedaulatan Allah semata?

Kita dipilih dan dipanggil untuk menjadi orang yang sungguh-sungguh berlatih dan berjuang di dalam iman, bukan menjadi orang yang santai-santai dalam hidup, bukan menjadi orang yang berpikir bahwa: “Ah, kan saya sudah diselamatkan, lalu untuk apa susah-susah menjadi orang Kristen?” Pemerintah Jepang akan menjadi tuan rumah Olimpiade tahun 2020 nanti. Pemerintah Jepang tentunya telah memilih atlet-atlet terbaiknya untuk berkompetisi dalam Olimpiade 2020. Apakah para atlet tersebut bersantai-santai dan tidur-tiduran saja? Tidak, justru kalau tidur-tiduran, badan mereka menjadi gemuk dan tidak bisa berkompetisi dengan baik. Para atlet tersebut harus serius berlatih menjelang Olimpiade supaya tampil menjadi yang terbaik.

Pertanyaan berikutnya sehubungan dengan predestinasi, adakah artinya penginjilan kalau begitu? Bukankah sebelumnya Allah telah memilih orang-orang yang akan diselamatkanNya? Untuk apa kita memberitakan Injil? Dalam Kisah Para Rasul 18:6-10, orang-orang Korintus menolak Injil yang diberitakan Paulus. Paulus sampai mengebaskan debu dari pakaiannya dan bermaksud meninggalkan Korintus. Tapi karena Allah berfirman kepada Paulus dan menyatakan bahwa ada banyak umatNya di Korintus, Paulus memutuskan tinggal dan memberitakan Injil kembali. Kita tidak punya hak untuk menghakimi orang lain. Kita tidak boleh berkata: “Aku kan sudah dipilih, orang itu tidak percaya, dia dipilih untuk dibinasakan”. Kita harus tetap tekun memberitakan Injil, sekalipun berkali-kali ditolak, karena dengan munculnya orang-orang percaya itulah rencana Allah sebelum dunia dijadikan dinyatakan. Marilah kita sebagai orang-orang yang telah dipilih dan dipanggil untuk diselamatkan, kita terus bertekun dan berjuang dalam iman kepada Tuhan dan tetap tekun memberitakan Injil.