Pengkhotbah

Perikop
Mazmur 107:4-32

Ringkasan Khotbah

Meskipun telah menerima keselamatan dan lahir baru melalui karya penebusan Yesus, hidup orang percaya tidak bebas dari masalah. Allah mengizinkan masalah datang, tetapi tetap menyertai, menopang dan menuntun dalam melalui masa-masa berat tersebut. Ada 4 macam masalah yang dapat membelenggu orang percaya dan cara Allah menolong untuk keluar dari berbagai masalah:

❶ Ayat 4-9: Pengembara yang tersesat. Pengembara yang tersesat di padang gurun jiwanya menjadi lemah lesu, putus asa karena sulit menemukan jalan keluar. Di padang gurun yang panas dan gersang, orang cenderung mengingat dan mendambakan masa-masa menyenangkan dalam hidupnya. Bangsa Israel yang dipimpin Allah keluar dari Mesir ke Kanaan menggerutu saat berjalan melalui padang gurun. Mereka merasa lebih baik hidup sebagai budak di Mesir karena dapat menikmati daging dan bawang prei. Ketika orang-orang itu berseru kepada Allah (ay.6), Allah melepaskan kecemasan dan menuntun mereka keluar dari kesesakan (ay.7). Allah memuaskan kehausan dan kelaparan jiwa mereka (ay.9). Orang-orang yang tersesat ini mengingatkan kita untuk waspada. Iblis membuat jalan kita seolah-olah ‘benar’, ketika kita sedang tersesat di luar jalan Tuhan. Kita harus memiliki relasi yang intim dengan Allah melalui firman-Nya agar tetap waspada dan peka terhadap penyesatan iblis.

❷ Ayat 10-16: Tawanan yang terpisah. Tawanan dijelaskan sebagai orang yang memberontak perintah dan menista nasihat Allah. Mereka terbelenggu oleh kejahatan mereka sendiri, tanpa ada orang yang menolong mereka (ay.10-12). Kita mengetahui perintah Allah ketika memiliki relasi intim melalui perenungan firman-Nya secara teratur. Allah menyatakan kehendak-Nya melalui roh yang diam dalam hati kita. Kita menista nasihat Allah ketika menolak untuk mendengar suara Roh dalam hati nurani saat berbuat dosa. Apakah kita masih menyediakan waktu untuk membangun relasi intim dengan Tuhan? Apakah kita terbelenggu kesibukan sehari-hari? Apakah kita telah melakukan perintah Allah secara menyeluruh dengan sepenuh hati? Seorang muda kaya melakukan Taurat secara ‘sempurna’, namun tidak sejahtera ketika Yesus menyuruhnya membagi hartanya kepada orang yang membutuhkan. Kita mengasihi Allah dengan menunjukkan kasih tulus kepada sesama, bukan dengan mengabaikan perintah-Nya. Allah menyelamatkan orang-orang yang memberontak dan menista-Nya ketika mereka balik bertobat dan berseru kepada-Nya.

❸ Ayat 17-22: Orang-orang yang menderita. Penderitaan orang-orang yang sakit parah dan hampir mati (ay.17-18) dianggap sebagai akibat dosa yang telah dibuatnya sendiri. Zaman sekarang, orang menderita sakit karena hasil perbuatannya sendiri, seperti merokok atau pola makan/gaya hidup tidak sehat. Sebagai pengikut Allah, Ia tetap mengizinkan penderitaan terjadi sekalipun kita menjaga kesehatan tubuh dan pikiran. Akan tetapi, Allah tidak berkenan jika kita menjadikan penderitaan yang kita sebabkan sendiri, sebagai alasan untuk tidak melakukan perintah atau mundur dari pengikut-Nya. Tuhan menghendaki kita untuk menjadi saksi-Nya lewat cara hidup yang berintegritas, menjaga perkataan, tindakan dan bahkan pola hidup. Para rasul tidak mengasihani diri atau mengharap belas kasihan dalam penderitaan akibat penganiayaan. Mereka tetap gigih memberitakan Injil dan bekerja menghidupi diri sendiri. Apakah kita tetap menyatakan firman Tuhan dalam hidup kita disaat tantangan dan penderitaan? Atau kita justru hidup sembrono dan mendatangkan penderitaan untuk diri sendiri? Sadar dan bertobatlah jikalau saat ini kita menyebabkan penderitaan pada diri sendiri. Tuhan berkenan memberi pemulihan dan penghiburan dalam penderitaan kita.

❹ Ayat 23-29: Pelaut di tengah badai. Pelaut yang dihantam badai dahsyat terhuyung-huyung dan hilang akal (ay.26-27). Badai adalah masalah yang tidak dapat kita kontrol, melebihi kapasitas kita untuk menanggulanginya. Tetapi Allah mampu menyelamatkan umat-Nya dari badai.

Manusia, termasuk orang percaya tidak dapat menyelamatkan diri sendiri dari masalah-masalah di atas. Tuhan mendengar dan berkenan menyelamatkan umat-Nya (ay.6,13,19,28) dalam keadaan seburuk apapun. Dia berkuasa dan penuh kasih. Kita harus tetap berseru berdoa memohon pertolongan Allah. Selanjutnya, sebagai orang yang telah diselamatkan Allah, tetaplah bersyukur, bersukacita dan memuji. Sebagai respon atas keselamatan yang telah kita terima dari Allah (ay.8,15,21-22,30-32). Apakah kita telah merespon pertolongan dan keselamatan Allah dengan sepantasnya? Dimasa mendatang yang penuh ketidakpastian, kiranya kita terus bersandar dan menaruh harapan kita hanya kepada Allah.