Pengkhotbah

Perikop
Keluaran 17:8-16

Ringkasan Khotbah

Tuhan mengijinkan permasalahan dalam kehidupan umat yang dikasihi-Nya, seperti yang dialami oleh bangsa Israel setelah keluar dari Mesir. Baru lepas dari permasalahan sumber air di Rafidim, bangsa Amalek mendekati perkemahan Bangsa Israel untuk berperang. Bangsa Amalek adalah bangsa yang nomaden dan suka berburu, karena itu mereka suka berperang. Kemungkinan mereka menyerang untuk menguasai sumber air di Rafidim karena sumber air merupakan tempat berharga di padang gurun. Bangsa Amalek dikatakan sebagai bangsa yang keji karena ingin menyerang bangsa Israel yang tidak sebanding dengan mereka. Tuhan menghukum bangsa Amalek karena kekejiannya (ayat 14).

Perikop ini memberikan pengajaran tentang doa. Doa terkait dengan usaha. Dengan adanya doa, kita dapat semakin kuat dalam berusaha. Hal ini dialami oleh bangsa Israel dalam menghadapi bangsa Amalek, yaitu dengan berperang secara langsung (ayat 9) dan berdoa kepada Tuhan (ayat 11). Ketika Musa mengangkat tangannya untuk berdoa, Bangsa Isreal menjadi lebih kuat (ayat 11). Ketika Musa menurunkan tangan, Bangsa Israel menjadi lebih lemah dibanding bangsa Amalek.

Ada 2 implikasi pengajaran tentang doa:
1.    Implikasi secara pribadi. Kita harus menjadi orang yang berusaha dan berdoa dengan keras. Doa seperti akar pohon yang tidak kelihatan namun menopang pohon agar dapat berdiri tegak. Doa merupakan unsur yang sangat menentukan walaupun bukan merupakan hal yang langsung kelihatan.
2.    Implikasi dalam konteks gereja.
•    Adanya pembagian tugas antara pendoa dan pelayan, seperti Musa yang berdoa dan Yosua yang berjuang secara langsung. Di gereja, ada pelayan yang secara langsung melayani, tetapi juga ada pelayan yang melayani dengan berdoa seperti melalui Persekutuan Doa (PD). Peserta PD melakukan pelayanan yang sangat penting yang menentukan pelayanan di gereja, seperti pelayanan Musa yang menentukan kemenangan Yosua. Pejuang-pejuang doa dibutuhkan dalam satu gereja. Kehadiran jemaat di PD akan memperkuat pelayanan di gereja dan gereja secara keseluruhan.
•    Perlunya kerendahan hati untuk menopang orang lain. Musa bisa terus berdoa sampai matahari terbenam karena ada Harun dan Hur yang menopang tangan Musa ketika merasa penat (ay 12). Tindakan Harun dan Hur menunjukkan kerendahan hati orang yang lebih tua untuk menopang yang lebih muda demi kelangsungan pelayanan. Mari kita menjadi seperti Harun dan Hur supaya kita dapat menopang orang lain untuk menjadi lebih baik. Mari kita mendoakan para pendeta karena mereka juga membutuhkan topangan agar dapat terus melayani.

Apa yang harus kita lakukan setelah kita mengalami kesukesan?
1.    Ingatlah akan Tuhan. Kesuksesan Yosua tidak terpisah dari pelayanan Musa, namun Tuhanlah yang memberikan kemampuan. Tuhan menyuruh Musa untuk menulis kejadian ini supaya menjadi tanda peringatan bahwa Tuhan yang ada di balik Musa dan Yosua (ay 14). Ada kuasa di balik doa, yaitu Tuhan. Mari kita mengingat dan mencatat kebaikan yang Tuhan berikan kepada kita, sehinga kita dapat terhibur ketika sedang marah, kecewa, dan menderita.
2.    Bersyukur dan muliakan Tuhan. Musa mendirikan mezbah (Tuhanlah panji-panjiku/Yahwe Nishi/Adonai Nishi) dan mempersembahkan korban syukur (ayat 15-16). Panji adalah bendera yang merupakan tanda kemenangan. Walaupun yang menyelesaikan adalah pribadi tetapi yang dimuliakan adalah Tuhan. Kemenangan/kesuksesan dari dan untuk Tuhan, karena itu muliakanlah Tuhan.

(ML/04/10)