Posted by Admin GIII Tokyo

Paulus menulis surat ini dari dalam penjara. Kehidupan dalam penjara itu sulit. Tapi surat ini penuh dengan kata-kata sukacita sehingga disebut surat sukacita. Gereja Filipi terkenal sangat semangat, tapi dalam gereja tersebut ada kurang kesatuan. Jadi Paulus mengatakan berkali-kali agar mereka merendahkan diri dan saling melayani (Fil 2: 3).

Merendahkan diri, menganggap orang lain lebih besar dari diri sendiri itu sulit. Apalagi kita yang punya pengetahuan banyak, pengalaman, apalagi kalau sudah dipanggil orang guru, pendeta, makin sulit merendahkan diri. Paulus menunjukkan pada kita suatu contoh yang paling baik. Yaitu teladan dari Yesus Kristus.

Yesus adalah anak Allah, Maha Kuasa, dan Dia pencipta alam semesta. Tapi, Kristus jadi manusia, turun ke tempat yang paling rendah. Meskipun Yesus adalah Tuhan, tapi dia tidak menekankan keTuhananNya itu (Filipi 2:7-8). Bukan hanya itu, Dia bahkan turun jadi sama seperti manusia. Pada masa Yesus, kandang domba adalah berbentuk gua. Yesus lahir di tempat seperti itu, tanpa diketahui orang banyak. Kemudian selama masa muda, dia hidup sebagia tukang kayu. Setelah umur 30 Dia baru hadir di depan orang-orang. Dan menerima baptisan dari Yohanes Pembaptis. Meskipun dia tidak berdosa, tapi dia berbaris bersama orang berdosa yang ingin dibaptis. Kemudian sebelum disalibkan, dia masuk ke Yerusalem. Dan dia masuk bukan dengan naik kereta kuda yang bagus. Tapi anak keledai yang sederhana. Kemudian mati di kayu salib, hukuman paling rendah. Hidup Yesus dari awal sampai akhir adalah hidup yang merendahkan diri. Sebagai hasilnya, Dia dinaikan ke sorga, dan disembah seluruh dunia.

Paulus mengajak jemaat Filipi agar melihat contoh dari Yesus ini. Yesus menjadi jembatan penghubung antara Tuhan dan manusia. Yohanes mengatakan bahwa Yesus adalah Firman. Firman ini menjadi manusia dan tinggal di antara kita. Antara Tuhan dan manusia ada tembok yaitu dosa. Yesus datang untuk menghancurkan tembok penghalang ini. Yesus bukan orang yang berkata dari tempat tinggi, Aku akan menyelamatkan. Tapi turun dan menyelamatkan kita. Demikianlah Yesus menjadi jembatan penghubung.

Saat menginjili, kita perlu tahu sifat orang, kondisi, apa kebutuhan. Kalau beda suku, pertama kita tahu bahasa. Pada waktu kita pergi ke negera lain, kita belajar bahasa, budaya, makan bersama, saat itulah terjadi komunikasi. Di Asia dan Afrika, banyak missionaris datang dari Amerika dan Eropa. Banyak missionaris datang menyampaikan kasih Tuhan dan Injil. Tapi sayang sekali, banyak juga orang Eropa dan Amerika itu, menganggap budaya mereka lebih tinggi, dan memaksakan budaya itu ke orang-orang. Jepang juga, terhadap Korsel, China, pernah melakukan pekabaran Injil dengan cara yang sama. Dalam Perang Dunia ke-2, Jepang banyak menjajah negara. Bahkan negara Indonesia juga dijajah orang Jepang. Saya berpikir tahun ini Jepang harus bertobat dan mintaa maaf. Jepang menjajah Korsel 36 tahun. Dan saat ini luka belum sembuh. Saya menulis tentang 8 orang yang pergi ke Korsel menyampaikan Injil. Yang pertama adalah Norimatsu. Dia adalah missionaris pertama Jepang. Saat itu Jepang memandang rendah Korsel. Tapi dia dengan kasih Kristus melayani ke sana. Dia menginjili, bahkan sampai anak di didik bahasa Korea. Waktu dia mati banyak orang datang. Dan berkata: Dengan kasih dari Tuhan, Norimatsu menjadi orang Korea. Banyak orang ingin jadi orang Amerika, Inggris. Tapi keluarga Norimatsu malah mau jadi orang Korea.

Yesus Kristus meskipun adalah Allah, dia turun dan jadi penghubung. Kita belajar dari Tuhan, di mana kita ditempatkan kita bisa jadi penghubung. Saya berpikir anda sudah jadi jembatan antara Allah dengan lingkungan. Kita satu per satu adalah duta besar yang diutus Tuhan. Minggu ini pun, sambil meneladani Tuhan mari kita menjalaninya.