Pengkhotbah

Perikop
Keluaran 16:22-36

Ringkasan Khotbah

Tuhan adalah Allah yang mencukupi kebutuhan umat-Nya. Tuhan menyediakan makanan yang unik kepada bangsa Israel, yaitu roti manna, yang diberikan dengan cara dan aturan yang unik juga. Setiap orang mengumpulkan manna setiap hari secukupnya, kecuali pada hari keenam mereka harus mengumpulkan dengan jumlah dua kali lipat dari hari biasa. Maksud Tuhan di sini adalah supaya pada hari ketujuh menjadi hari Sabat, yaitu hari perhentian penuh dari kegiatan rutinitas sehari-hari, yang kudus bagi Tuhan.

“Kudus” di sini bukan berarti tanpa dosa, tetapi berarti “dipisahkan, dikhususkan,” untuk dipersembahkan kepada Tuhan. Jadi ada hari yang diperlakukan beda, hari yang spesial buat Tuhan, itulah hari ketujuh. Untuk umat Kristen saat ini, kita harus memisahkan hari Minggu sebagai hari yang berbeda dengan hari yang lain. Dalam Keluaran 16:23-25 jelas tertulis bahwa kita tetap boleh makan dan minum pada hari Sabat. Yang harus berhenti dikerjakan adalah ‘memungut manna’, yang bisa diartikan sebagai kegiatan ‘mencari nafkah’. Sedangkan kegiatan ‘menikmati apa yang sudah didapat’, tetap diperbolehkan.

Demikian juga Alkitab mencatat bahwa kegiatan mempersembahkan korban di kemah suci dan bait Allah, kegiatan pengajaran Firman Tuhan di rumah ibadat (synagoge), tetap berjalan walaupun di hari Sabat. Jadi pelayanan dan pekerjaan untuk Tuhan tidak berhenti di hari Sabat. Marilah kita mengambil komitmen yang tegas untuk menjadikan hari Minggu sebagai hari perhentian penuh dari ‘kegiatan mencari nafkah’ dengan memegang teguh kebenaran Firman Allah, bahwa roti manna tidak ada pada hari ketujuh (Keluaran 16:26). Walaupun penghasilan kita mungkin akan lebih sedikit karena tidak bekerja di hari Minggu, tetaplah percaya bahwa Allah pasti pelihara kita. Ada berkat dicurahkan bila kita bekerja sesuai dengan prinsip Firman Allah.

Ada beberapa hal yang harus kita ingat mengenai hari Sabat, sebagai berikut:
1.    Tetap ada tanggung jawab untuk bekerja lebih giat, karena yang berkurang bukan jumlah pekerjaannya, tetapi jumlah hari bekerjanya. Sama seperti orang Israel yang harus mengumpulkan manna dua kali lipat pada hari keenam, kita juga harus bekerja menghasilkan input yang sama seperti bekerja 7 hari.
2.    Untuk menjalankannya susah. Alkitab mencatat bahwa bangsa Israel selalu mengabaikan kehendak Tuhan yang satu ini, bahkan sudah ada yang langsung melanggarnya (Keluaran 16:27).
3.    Menguduskan hari Sabat adalah perintah dan hukum Tuhan (Keluaran 16:28). Tuhan itu artinya Tuan, jauh lebih tinggi dan lebih berkuasa atas hidup kita, termasuk tenaga, uang, dan waktu kita. Jadi kita harus menjalankannya.
4.    Hari Sabat adalah hari pemberian (hadiah) dari Tuhan (Keluaran 22:29). Jadi Sabat seharusnya bukan menjadi beban, melainkan menjadi hari kenikmatan, hari kudus Tuhan, hari yang mulia, dan hari perayaan (Yesaya 58:13-14, Ulangan 5:15). Hari Sabat diadakan untuk manusia, dan bukan manusia untuk hari Sabat (Markus 2:27).
5.    Hari Sabat harus diteruskan, diwariskan, dan diajarkan kepada anak cucu kita turun-temurun (Keluaran 22:32-34). Marilah kita mengajarkan mereka untuk merayakan hari Sabat dengan penuh sukacita.

(LY/02/10)