Pengkhotbah

Perikop
Yesaya 12:1-6

Ringkasan Khotbah

Dari sejak zaman Musa, bangsa Israel telah menaikkan mazmur kepada Allah. Mazmur atau nyanyian ini dinaikkan oleh bangsa Israel sebagai ungkapan syukur atas pimpinan Allah bagi mereka keluar dari perbudakan di Mesir melalui Laut Teberau. Allah telah meruntuhkan dewa-dewa dan kekuatan pasukan Mesir yang pada saat itu menjadi salah satu bangsa terkuat. Pada masa Raja Daud, Raja Daud memimpin bangsa Israel memuji-muji Allah karena berbagai kemenangan yang Allah berikan kepada Israel terhadap musuh-musuh mereka. Kemudian, setelah Kota Yerusalem dibangun kembali pada masa Nehemia dan bangsa Israel kembali dari pembuangan, mereka mengambil daun pohon zaitun, daun pohon minyak, daun pohon murad, daun pohon korma dan daun dari pohon-pohon yang rimbun untuk membuat pondok-pondok. Peristiwa besar ini disebut sebagai Hari Raya Pondok Daun (Nehemia 8:1-19). Pada Hari Raya Pondok Daun, firman Allah diberitakan dan seluruh bangsa Israel bersukacita menerima firman Allah. Pasal 1-11 dari Kitab Yesaya menceritakan mengenai rancangan atau rencana keselamatan yang Allah kerjakan. Mulai dari pasal 13, Nabi Yesaya menyampaikan nubuatan penghukuman terhadap bangsa-bangsa yang melawan Allah yang menjadi musuh Israel.

Pada pasal 12 yang akan kita renungkan hari ini, Yesaya menuliskan mengenai ucapan syukur atas rancangan atau rencana keselamatan dari Allah. Yesaya menulis pasal 12 ini dilatarbelakangi oleh pasal-pasal sebelumnya, yaitu berita kedatangan Raja Damai, Yesus Kristus. Yesus Kristus adalah satu-satunya Juruselamat dan hanya gereja satu-satunya yang dapat memberitakan Juruselamat ini. Apabila kita ditanya: “Apa sukacita kita menjadi pengikut Kristus”? Kita mengikut Kristus bukan supaya kita sehat, kaya, atau sukses. Apabila pertanyaan ini ditanyakan kepada Yesaya, maka dia akan menjawab: “Aku telah diselamatkan dan aku diangkat menjadi anakNya, itulah sumber sukacita bagiku.” Benar, inilah harta terbesar bagi anak-anak Allah. Alkitab menyaksikan bahwa Kristus bergerak dari inkarnasi menuju salib. Yesus yang adalah Allah, mau merendahkan diri untuk menuju salib karena kasihNya yang besar kepada orang-orang berdosa. Rasul Paulus menegaskan bahwa semua yang dikerjakan Allah bagi kita semata-mata karena kekayaan kasih karuniaNya (Efesus 1:1-7).

Allah memang menghukum umatNya yang berdosa, namun Allah juga menghibur (ayat 1). Allah adalah pribadi yang kudus. Anak-anak kesayangan Allah pasti didisplinkan apabila melakukan pelanggaran, namun Allah juga mengampuni mereka. Allah adalah kasih dan kudus dan kita terus hidup di tengah-tengah kasih dan kekudusan Allah tersebut. Apa artinya Tuhan Allah adalah kekuatan dan mazmur kita (ayat 2)? Artinya kita mengakui kekuasaanNya sebagai satu-satunya Allah. Dimana ada kesakitan dan penderitaan, Allah memberikan kelegaan dan penghiburan. Pada Hari Raya Pondok Daun, bangsa Israel mengisi sebuah piala emas dengan air dari Kolam Siloam kemudian membawanya ke Bait Allah dan menuangnya bersama anggur di sebelah mezbah, tempat korban bakaran. Yesaya mengambil praktek ibadah ini sebagai sebuah pengajaran kepada Israel bahwa ketika Allah memulihkan keadaan mereka, setiap orang mendapat air yang memberi kelegaan (ayat 3). Pada waktu orang Israel dalam perjalanan ke Moab, Allah memberikan air untuk minum mereka (Bilangan 21:16-18). Sejalan dengan peristiwa ini, Wahyu 7:17 mencatat bahwa Sang Anak Domba akan menggembalakan dan akan menuntun kita ke mata air kehidupan. Mata air di sini bagaikan air mancur yang keluar dari gunung yang mengalir terus-menerus, tidak pernah berhenti. Keselamatan dan pertolongan dari Allah juga ibarat mata air, ada sampai kekekalan, sehingga kita tidak pernah kehabisan sumber kekuatan dan penghiburan.

Bangsa Israel pada masa itu dan kita orang-orang percaya pada masa kini bisa memanggil nama Tuhan Allah kita karena Dia sendiri adalah Allah yang hadir di tengah-tengah umatNya, bukan nun jauh di sana (ayat 4). Allah adalah Allah yang menyatakan perbuatan mulia (ayat 5) karena Ia ajaib dalam keputusan dan agung dalam kebijaksanaan (Yesaya 28:29b). Tidak ada yang dapat disejajarkan dengan hikmatNya. Allah adalah Allah yang agung yang berada di tengah-tengah umatNya (ayat 6). Allah menyatakan kekudusanNya, namun juga damai sejahteraNya. Dimana ada kehadiran Allah, di situlah ada damai sejahtera dan sukacita yang sejati. Agung dalam bahasa Ibrani disebut qadosh yang berarti kudus. Bangsa yang tidak mengenal Allah menggunakan kayu untuk dibakar dan pada saat yang sama juga membuat barang dari kayu untuk disembah. Bangsa Israel hanya menyembah satu- satunya Allah, The Holy One. Allah hadir, tapi Allah tidak mau kekudusanNya diremehkan, diinjak-injak. Allah mengasihi umatNya tetapi Allah tidak suka dengan sikap yang sembrono dan tanpa hormat. Pada waktu tabut Allah dipindahkan ke Yerusalem, lembu-lembu yang membawa tabut Allah tergelincir dan Uza mengulurkan tangannya kepada tabut Allah itu. Allah murka dan membunuh Uza karena keteledorannya itu (2 Samuel 6:4-7). Bagaimana cara kita mengerti isi hati Tuhan Allah? Tuhan Yesus adalah pokok anggur dan kita adalah carang-carangnya. Kita harus “menempel” dengan Pokok Anggur itu, yaitu Tuhan Yesus Kristus, agar hidup kita penuh di dalam Dia dan mengerti isi hatiNya untuk kita kerjakan dalam kehidupan kita dengan penuh tanggung jawab (Yohanes 15:1-8).