Pengkhotbah

Perikop
1 Samuel 2:22-36

Ringkasan Khotbah

Tema hari ini adalah Tugas Mulia Kaum Bapak. Pertama kita lihat contoh bapak yang kurang mulia, karena kita bisa banyak belajar dari kegagalan orang lain. Di Jepang ada istilah Tazan no ishi. Artinya manusia bisa belajar apapun dari orang lain. Eli sebagai imam melayani Tuhan dan umatNya. Tetapi anak-anak Eli adalah orang-orang dursila. Mereka tidak mau mengetahui akan Allah. Mereka meremehkan ajaran bahkan Tuhan sendiri, mengakibatkan kekacauan moril mereka. Mengapa bisa jadi demikian? Penyebabnya adalah adanya 3 kekurangan Eli (ayat 29):

  1. Memandang loba kepada korban sembelihan/sajian. Rupanya anak-anak Eli mengikuti cara hidup ayahnya.
  2. Menghormati/mementingkan anak-anaknya lebih dari Tuhan. Dengan kata lain memanjakan anak. Memanjakan terkadang lebih parah daripada tidak memperhatikan. Meskipun akhirnya Eli menasehati mereka, tapi sudah terlambat. Anak-anak tidak mau lagi mendengarkan. Anak-anak jika sudah dewasa, lebih suka mendengarkan kata-kata teman daripada orangtua.
  3. Lebih mementingkan perutnya sendiri. Eli melayani Tuhan, tapi tidak bisa lepas dari mementingkan keinginan diri sendiri. Bapak-bapak di zaman sekarang juga banyak yang lebih mementingkan kesenangan sendiri saja, misalnya hari Minggu lebih mengutamakan main golf daripada ke gereja.

Keadaan anak-anak Eli ini berbanding terbalik dengan Samuel, yang sejak kecil suka mendengar suara Tuhan, disukai oleh Tuhan dan sesama.

Firman Tuhan banyak mengajar tentang bapak. Misalnya seperti di kitab Amsal. Amsal 1:7-8; Amsal 2-7. Setiap pasal diawali dengan kalimat “Hai anakku”. Anak-anak diajarkan hikmat, dimana hikmat adalah cara hidup. Inilah ajaran dari Allah. Hikmat ini bisa menghindarkan godaan kejahatan. Saat ini, kejahatan-kejahatan bukan di luar saja, tetapi di rumah sendiri, di kamar sendiri. Jadi orang tua perlu mendidik anak sejak kecil, mendidik apa yang baik dan apa yang buruk.

Dalam Efesus 6:4 tertulis “Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan.” Dalam ayat ini terkandung 3 hal:

  1. Jangan bangkitkan amarah di hati anak-anak. Bagaimana bisa demikian? Contohnya dengan selalu mengatakan “nanti”, jika anak meminta sesuatu. Dapat juga dengan menjadi bapak yang tidak bertanggungjawab, sering marah, tidak mau mendengar, tidak konsisten, mudah berubah-ubah. Anak tidak bisa marah kepada orang tua, tapi disimpan di dalam hati. Karena itu penting bagi orang tua untuk bisa memahami isi hati anak.
  2. Didiklah mereka. Mendidik bukan hanya secara jasmani tapi secara pribadi. Didikan itu penting bagi anak. Jika baik pujilah, jika salah tegurlah.
  3. Di dalam ajaran dan nasihat. “Nasihat” artinya menghibur, menguatkan. Anak-anak saat ada masalah di sekolah butuh pengertian dari orang tua. Kata “nasihat” ini diikuti oleh kata “Tuhan”. Bapak adalah wakil Tuhan. Jadi untuk dapat mengajar anak dalam Tuhan, bapak sendiri perlu terus bersekolah dan berada dalam kasih Tuhan.

Dalam Yesaya 40:28-31 diterangkan bahwa Allah pencipta semesta Alam adalah Bapa yang kekal, tidak berubah. Situasi dunia bisa berubah. Tetapi Allah memberikan kekuatan kepada yang lelah. Allah adalah sumber kekuatan, semangat, selalu memberikan pengharapan. Kekuatan, semangat, pengharapan, asalnya dari Tuhan. Dan mari mengajarkan hal ini kepada anak-anak.

Anak-anak perlu untuk tetap diajar cara hidup takut akan Tuhan. Ada tanaman bambu di Cina yang ketika ditanam, selama 4 tahun tidak ada tampak pertumbuhan apa-apa. Mungkin dikira mati. Tapi sebenarnya tanpa kelihatan, akarnya menyebar kemana-mana, dan mulai tahun ke 5 dia mulai tumbuh, bahkan tingginya mencapai 25 meter. Saat mengajar anak-anak, mungkin sepertinya mereka tidak mengerti. Jangan katakan bodoh, karena sebenarnya belum kelihatan. Tapi mari kita tetap setia untuk mengajar mereka dalam kebenaran Firman Tuhan.