Pengkhotbah

Perikop
Kejadian 6:1-22

Ringkasan Khotbah

Kejadian 6:8 menyebutkan bahwa Nuh mendapat kasih karunia di mata Tuhan. Kita akan mempelajari beberapa hal penting dari kehidupan Nuh terkait dengan kasih karunia Allah yang diberikan bagi Nuh.

  1. Kasih karunia Allah mengubah hidup seseorang. Kejadian 6:9 menyebutkan bahwa Nuh adalah seorang yang benar dan tidak bercela di antara orang-orang sezamannya; dan Nuh itu hidup bergaul dengan Allah. Dalam bahasa aslinya, kata “benar” pada Kejadian 6:9 berasal dari kata “dikayon” yang berarti “dibenarkan”. Nuh sendiri sebenarnya mendapat kasih karunia dari Allah sehingga dia dibenarkan oleh Allah. Roma 3:23 mengatakan bahwa semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah. Nuh bukanlah seorang yang tidak berdosa. Namun kasih karunia Allah-lah yang membuat Nuh dapat hidup benar dan tidak bercela. Kasih karunia Allah jugalah yang membuat hidup orang-orang percaya benar dan tidak bercela.
    Tidak ada hal yang patut kita sombongkan. Jangan pernah mengira bahwa kita melakukan kebenaran karena memang kita baik, itu semata-mata kasih karunia Allah. Kasih karunia Allah-lah yang membuat Nuh “tampil beda” dengan orang-orang lain yang hidup pada zamannya. Sebagai orang-orang percaya, kita hidup di tengah-tengah dunia yang tidak mengenal Kristus, entah di tempat kerja atau di tempat studi. Kita harus menunjukkan bahwa kita pengikut Kristus. Kesalehan hidup kita akan terlihat nyata apabila kita berada di tengah-tengah ketidaksalehan.
  2. Kasih karunia Allah mengubah seksualitas seseorang. Nuh hanya mempunyai seorang istri (Kejadian 7:7). Orang-orang yang hidup pada zaman Nuh dikendalikan oleh nafsu dosa seksual sehingga mereka mengambil siapa saja wanita yang mereka sukai menjadi istri (Kejadian 6:2).
  3. Kasih karunia membuat kita peka akan suara Allah. Allah berfirman kepada Nuh untuk membuat bahtera. Anda bisa bayangkan bagaimana pandangan orang-orang di zaman Nuh melihat Nuh membuat kapal berukuran super jumbo? Mungkin ada yang berpikir: “Ah, si Nuh sudah gila. Untuk apa kapal raksasa seperti itu?” Sebagai orang percaya yang mendapat kasih karunia Allah, kita harus peka terhadap suara Allah. Bahkan ketika Allah meminta kita mengerjakan sebuah “proyek” yang di mata manusia terbilang “gila”, kita harus taat.
  4. Kasih karunia Allah menyelamatkan seseorang dari murka Allah. Nuh tidak mendapat bagian bersama orang-orang yang dibinasakan Allah dengan air bah alias banjir besar karena Nuh mendapat kasih karunia Allah. Kasih karunia Allah jugalah yang melepaskan orang percaya dari murka Allah.
  5. Kasih karunia Allah mendemonstrasikan kekuasaan Allah. Peristiwa air bah dan penyelamatan Nuh dan keluarganya menunjukkan otoritas Allah dalam hidup manusia. Apabila Anda sedang hidup dalam dosa, segera tinggalkan dosa-dosa itu. Allah masih memberikan kesempatan bagi Anda untuk bertobat. Bertobatlah! Jangan pernah berpikir: “Ah, Allah kan penuh kasih karunia, nanti saja saya bertobat.” Bagi yang sudah percaya sungguh-sungguh kepada Tuhan Yesus, jangan pernah bermain-main dengan kasih karunia Allah. Hidupilah kasih karunia Allah itu dengan mengerjakan semua hal untuk kemuliaan Allah. Soli Deo Gloria

(MS/10/10)