Posted by Yanes Dewangga

Kita telah tiba di penghujung tahun 2018. Dalam hitungan hari kita akan memasuki tahun yg baru. Pada saat ini kita mengambil sedikit waktu untuk merenungkan dan melihat kembali perjalanan kita selama setahun ini. Tema GIII tahun ini adalah kesetiaan. Sudahkah kita setia dalam persekutuan kita dengan Tuhan selama setahun ini? Sudahkah kita terus setia dalam berdoa, membaca Firman Tuhan, dan bersaat teduh dalam setahun ini?

Marthin Luther pernah berkata bahwa, pekerjaan seorang penjahit adalah membuat pakaian, pembuat sepatu adalah membuat sepatu, dan orang Kristen adalah berdoa; doa merupakan satu bagian yg tidak dapat dipisahkan dalam hidup seorang Kristen.

Bacaan Firman Tuhan hari ini mengisahkan bagian dari khotbah Yesus di bukit, tentang hal berdoa. Yesus mengingatkan murid-murid-Nya sekaligus para pendengar bahwa mereka harus waspada terhadap: ① perilaku buruk orang Farisi dan ahli Taurat. Mereka adalah orang-orang yang seharusnya memahami Taurat, akan tetapi pemahaman itu tidak nampak dalam perbuatan dan hidup mereka, ② kemunafikan, dalam hal memberi sedekah (ay. 1-4), dalam berdoa (ay. 5-8), isi doa (ay. 9-13), mengampuni dalam doa (ay. 14-15), dalam berpuasa (ay. 16-18), ③ pikiran duniawi.

Doa merupakan bentuk permintaan/permohonan kita kepada Allah Bapa di Sorga. Oleh karena itu, kita sebagai pihak pemohon tidak memiliki otoritas apa pun dalam terwujudnya permintaan kita; itu semua bergantung kepada Sang Pemberi. Doa juga harus menjadi kerinduan diri kita sendiri, tidak boleh disuruh atau dipaksa oleh orang lain. Melalui doa, kita dapat membangun relasi yang tepat dengan Allah (ay. 9b). Kita beruntung sebagai orang Kristen karena kita memiliki Allah yang dekat, yang mau memiliki relasi pribadi dengan kita. Pada zaman PL, hanya orang-orang tertentu (para nabi) yang dapat berbicara secara pribadi dengan Allah, tidak semua orang pilihan-Nya (bangsa Israel) dapat datang ke hadirat-Nya apalagi berbicara kepada Allah. Melalui pengorbanan Tuhan Yesus, kita semua dikaruniakan kesempatan dan hak yg sama dengan para imam dan nabi PL, yaitu untuk datang ke hadirat Allah dan bersekutu dengan-Nya secara pribadi. Allah ingin agar kita dapat membangun relasi yang tepat dengan-Nya, dan salah satu cara untuk mewujudkannya adalah melalui berdoa. Doa juga merupakan wujud penyandaran diri kita kepada Tuhan. Kita sadar akan keterbatasan kita sebagai manusia, sehingga kita menyerahkan seluruh hidup kita kepada Tuhan agar hidup kita dipimpin olehNya.

Oleh karena itu, doa haruslah menjadi bagian utama, landasan dalam hidup kita. Kita harus senantiasa berdoa, pertama untuk mengucap syukur terhadap seluruh berkat penyertaan Allah dalam hidup kita, dan juga sebagai sarana kita untuk berkomunikasi dengan Tuhan. Janganlah jadikan doa sebagai jalan terakhir saat kita menghadapi masalah, janganlah juga jadikan doa sebagai mantera yang dapat menyelesaikan segala masalah. Doa tidaklah selalu melepaskan kita dari masalah, tetapi doa dapat menjadi kekuatan kita dalam menghadapi masalah hidup kita. Melalui doa kita dapat merasakan penyertaan Tuhan yang menguatkan kita.

Tokoh-tokoh Alkitab dapat memberikan beberapa contoh dimana kerinduan mereka tidak dijawab oleh Tuhan, seperti halnya Musa yang tidak diizinkan masuk ke Kanaan, maupun Paulus yang terus mengalami penderitaan dalam penginjilannya. Kendati demikian, dalam hal itupun Tuhan menunjukan kebesaran-Nya, dan rancangan-Nya yang tidak dapat dipahami oleh pikiran manusia yang terbatas. Ketika Paulus menyadari hal ini, ia justru mensyukuri kelemahannya, karena melalui itu karya Tuhan menjadi sempurna.

Hal yang sama sudah dicontohkan oleh Tuhan Yesus ketika Ia bergumul terhadap cawan penderitaan-Nya di taman Getsemani. Yesus yang adalah Allah memiliki kuasa untuk memilih menghindari cawan penderitaan itu, tidak seperti Musa atau Paulus yang tidak memiliki kuasa untuk memilih. Meskipun demikian, Yesus memberikan teladan kepada kita agar bukan kehendak-Nya yang jadi, tetapi “jadilah kehendak-Mu (Bapa)”. Kalau Yesus yg adalah Allah saja tidak memaksakan kehendakNya tetapi memasrahkan diri kepada kehendak Bapa, kita yg hanyalah manusia sudah sepantasnya meneladani sikap Yesus dan menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah Bapa.

Marilah kita memulai tahun yg baru dengan hidup lebih dekat kepada Tuhan dan senantiasa berdoa kepadaNya.