Pengkhotbah

Perikop
Roma 10:1

Ringkasan Khotbah

Saya sudah melayani sebagai misionaris selama 5 tahun di Myanmar. Seringkali orang bertanya kepada saya mengenai makanan, politik dan bisnis di Myanmar. Terus terang saya tidak tertarik dengan hal2 tersebut, yang menjadi minat saya ialah bagaimana caranya mengabarkan Injil dan supaya orang2 Myanmar bisa percaya kepada Yesus.

Roma 10:1: Fokus paling utama dalam hidup Paulus yaitu bagaimana caranya supaya mereka bisa diselamatkan. Demikian juga saya. Apa yang kita pikirkan sehari2? Hal duniawi atau hal sorgawi? Saya berangkat ke Myanmar tanpa tahu apa2, tanpa bisa berbahasa Myanmar. Saya berdoa supaya Tuhan mau ajarkan saya dan memakai saya. Lalu saya ketemu dengan beberapa pengurus Happy Family Bible School, dan mereka mengajarkan budaya, bahasa dan cara mengabarkan Injil di Myanmar.

Saya mulai dengan fokus penginjilan ke pemuda dan mahasiswa. Diawali dengan doa, sambil menggambar peta Myanmar, mendaftarkan suku2 Myanmar satu persatu. Saya catat dan ingat nama semua orang yang saya temui dan tiap hari saya doakan. Pada waktu itu Tuhan membuka kesempatan untuk menginjili melalui mengajar bahasa Jepang. Karena saya sulit berbicara secara langsung mengenai Yesus, Tuhan memberi ide untuk menulis kesaksian saya di kertas dan memberikannya kepada mereka. Tidak ada satupun orang Myanmar yang menolak menerima dan respon mereka sangat positif. Lalu saya mulai mengkopi surat tersebut beribu2 dan membagikan kepada banyak orang.

Saya sangka menginjili sulit ternyata mudah. Setelah saya sampaikan mengenai Yesus, percaya atau tidak adalah tanggung jawab mereka. Tetapi menyampaikannya adalah tanggung jawab kita. Saya juga sering berpikir bagaimana menyampaikan Injil kepada mahasiswa Myanmar. Saya kira mahasiswa Myanmar percaya agama Buddha secara serius, ternyata mereka percayanya kepada uang. Agama Buddha adalah budaya. Orang muda Myanmar tidak memiliki harapan, lulus kuliah pun tidak ada pekerjaan, negara dikuasai junta militer. Mereka berpikir kalau mereka punya uang kehidupan akan lebih baik, dan itulah yang menjadi visi mereka. Saya katakan bahwa uang tidak akan membuat mereka bahagia.

Saya datang dari Jepang, di Jepang banyak uang, tapi gantinya mereka kehilangan waktu, hubungan dengan keluarga, kebahagiaan, dan bahkan hidup yang kekal. Kebahagiaan sejati hanya ada dalam Yesus Kristus. Yesus Kristuslah harapan kita, visi kita. Saya menceritakan pengalaman saya, waktu mahasiswa hidup penuh kehampaan, tapi setelah percaya Yesus saya memperoleh visi untuk mengabarkan Injil ke seluruh dunia. Saya mengajak mereka untuk percaya Yesus dan mereka akan mendapatkan pengharapan dan visi. Pemuda Myanmar rindu akan kebenaran yang sejati, dan itu hanya bisa didapatkan di dalam Yesus Kristus.

Pada waktu ada demonstrasi besar2an dan ketegangan politik, saya tidak bisa melakukan penginjilan seperti biasa, dan saya pergi menginjili ke desa miskin di pinggir sungai. Saya pergi dengan anak2 SD, SMP dari gereja saya. Mereka awalnya pesimis dan membagi traktat dengan takut2, tapi melihat respon anak2 desa yang berebut mengambil traktat mereka menjadi senang dan optimis.

Penginjilan itu sulit, ini bukan kata Tuhan, tapi dusta Iblis. Apa kata Alkitab: beritakanlah Injil baik atau tidak baik waktunya (2Tim4:2). Mar 9:23 mengatakan tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya. Saya percaya bahwa di dunia ini tidak ada negara yang tidak bisa diberitakan injil. Kehidupan tidak berakhir di bumi saja, ada kehidupan kekal setelah itu. Berhasil di bumi tapi masuk neraka tidak ada artinya. Meskipun susah di bumi tapi kalau percaya Yesus dan masuk surga akan memperoleh berkat yang kekal. Tapi banyak orang yang mengira hidup ini selesai di bumi saja. Inilah pentingnya pekabaran injil. Mengabarkan injil adalah perbuatan menolong orang yang paling utama. Maukah kita menjadikan ini visi utama kita?

(JW/01/09)