Posted by Yanes Dewangga

Rencana Allah yang universal adalah agar semua bangsa memuliakan Allah (Rm 15:9). Untuk mewujudkannya perlu langkah-langkah yang spesifik. Salah satunya dengan mengirimkan Tuhan Yesus untuk mengerjakan karya keselamatan di kayu salib untuk membuka jalan bagi bangsa-bangsa lain untuk memuliakan Allah. Sebelumnya hanya bangsa Yahudi saja yang dapat memuliakan Allah melalui hukum Taurat yang hanya diberikan kepada mereka. Langkah berikutnya adalah Allah menetapkan murid-murid (rasul) yang telah percaya untuk memberikan injil kepada bangsa-bangsa lain (non-Yahudi). Pada saat Tuhan Yesus naik ke surga, jumlah orang percaya masih sedikit dan terbatas hanya pada bangsa Yahudi.

1.    Dasar pelayanan dan kehidupan Rasul Paulus adalah kasih karunia yang telah dianugerahkan Allah (Roma 15:15).

Itulah dasar ketegasan dan keberanian Rasul Paulus dalam memberikan teguran kepada jemaat di Roma yang belum pernah ditemuinya. Sebagai rasul yang dipanggil untuk memberikan injil kepada orang non-Yahudi, Rasul Paulus menyadari bahwa jemaat di Roma yang kebanyakan non-Yahudi adalah bagian pelayanannya. Sikap Rasul Paulus dapat diterapkan di gereja dalam hal menegur dan ditegur. Kita perlu berterima kasih kepada orang yang menegur kita karena kasih karunia Allah yang dianugerahkan untuk menegur kita supaya kita tidak lepas kendali. Karena dasarnya adalah kasih karunia Allah, selain memberikan teguran, Rasul Paulus juga dimampukan untuk melihat potensi orang lain dan memberikan pujian dan penghargaaan (Roma 15:14). Berdasar kasih karunia yang dianugrahkan kepada kita, mari kita belajar seperti Rasul Paulus dalam menegur.

2.    Status dan tugas dari Tuhan bagi Rasul Paulus adalah untuk memberikan injil kepada orang non-Yahudi (Roma 15:16).

Rasul Paulus menggunakan kata yang berkaitan dengan tugas imam (yang bertugas membawa korban yang tidak bercacat sehingga menyenangkan dan memuliakan Allah). Sebagai imam, Rasul Paulus bertugas supaya bangsa-bangsa dapat menjadi persembahan yang kudus dan berkenan bagi Allah. Bangsa-bangsa yang diterima Allah adalah bangsa yang percaya dan taat kepada Allah (sehingga dikuduskan: lihat Roma 12:1). Paulus menyebut dirinya sebagai pelayan Kristus. Kata ’pelayan’ di Perjanjian Baru di antaranya ‘diakonos’ (yang berkembang menjadi diakonia) dan ‘leiturgos’ (bahasa Yunani, yang kemudian dikenal sebagai liturgos). Rasul Paulus menggunakan kata ‘leiturgos’ saat menyebut dirinya sebagai pelayan Kristus (Roma 15:16). Kata ini menunjuk orang yang secara sukarela mau berbakti pada negara dengan memberikan waktu, tenaga, dan uang. Paulus secara sukarela mau memberikan diri, waktu dan tenaganya untuk melaksanakan tugas yang berikan Tuhan. Mari kita melayani Tuhan Yesus dan menjadi ‘leiturgos’ sejati.

3.    Prinsip-prinsip dalam melayani Tuhan

a.    Beritakan injil ke tempat di mana pemberitaan injil belum ada tanpa memandang jarak (Roma: 15:20-21). Jumlah gereja di Indonesia meningkat 2 kali lipat dibanding tahun 1980-an. Namun pertumbuhan gereja hanya di kota-kota besar dan pertumbuhan orang Kristen tidak sebanyak pertumbuhan gereja. Ini indikasi pertambahan gereja karena adanya transfer jemaat, bukan karena pertumbuhan jemaat. Hal ini tidak akan terjadi kalau gereja dibuka di tempat yang tidak ada gereja dan injil diberitakan kepada orang yang belum percaya. Prinisip Rasul Paulus ini tidak membatasi tetapi justru memperluas pelayanannya.

b.    Pelayanan dan pemberitaan injil melalui perkataan, perbuatan dan tanda-tanda mukjizat secara seimbang dan tidak menekankan hanya salah satunya (Roma 15:18-19). Mari kita berdoa supaya setiap perkataan dan tindakan kita menjadi teladan buat orang lain. Mari kita belajar seperti Rasul Paulus yang berdoa agar mukjizat terjadi bukan hanya pada diri sendiri tetapi juga orang lain. Rasul Paulus menyadari bahwa kemuliaan bukan miliknya dan bermegah dalam Kristus (Roma 15:17-19). Mari kita melayani secara seimbang seperti Rasul Paulus.

(ML/02/10)