Pengkhotbah

Perikop
Nahum 3:1-7

Ringkasan Khotbah

Sebuah fakta yang patut kita syukuri di dalam pribadi Tuhan ialah Dia tidak dapat menyangkali diri-Nya untuk mengasihi umat pilihan-Nya. Kedaulatan Allah itu sempurna dan menyatakan kehendak-Nya atas ciptaan-Nya. Namun, umat pilihan-Nya menjadi prioritas pemeliharaan-Nya (Pengakuan Iman Westminster 1664-1667 Bab V tentang Pemeliharaan Allah pasal 5 dan 7).

Hal inilah yang terjadi dengan kota Niniwe. Sementara waktu, dia merasa diuntungkan dengan berbagai kemenangan dan dominasinya atas umat pilihan Allah tetapi akan tiba waktunya bahwa ia akan merana atas tindakan Allah yang menghukumnya. Ungkapan “SUDAH CUKUP” ini disampaikan kepada Niniwe bahwa mereka akan mengakhiri dosa dan perilaku jahat mereka kepada bangsa lain, terutama kepada umat Israel.

Ada 4 kejahatan bangsa Niniwe di sini.

  • Celakalah penumpah darah itu! (ayat 1): Biadab dan tidak menghargai siapa pun. Dalam buku Bonomi, ditulis bahwa tahanan musuh ditusuk hidup-hidup, dikuliti dan dipenggal. Bahkan raja sendiri memberi tangannya untuk menyiksa para musuh dengan menggantung mereka dengan tali sehingga mereka mati secara pelan-pelan.
  • Seluruhnya dusta belaka: Bukti standar moral yang rendah. Kebiasaan orang yang lebih kuat kepada orang lemah yaitu mereka memanfaatkan orang lain untuk mencapai tujuan mereka.
  • Penuh dengan perampasan: Begitu mudah hak orang-orang lemah dirampas. Bahkan bukan saja hanya sekedar merampok tetapi tidak henti-hentinya penerkaman. Orang lain yang tidak mereka sukai dilenyapkan.
  • Persundalan (ayat 4): Kerajaan Asyur selalu menyerbu negara. Bila sudah dikuasai, dewa-dewa negaranya didirikan lalu wajib disembah setiap negara yang mereka kuasai. Dari penyembahan berhala muncul berbagai perilaku amoralitas. Perilaku jahat di Niniwe sangat berhubungan dengan penyembahan dewa. Dari sinilah Tuhan menyatakan kebiadaban mereka tidak dapat dibiarkan. Sudah cukup!

Hukuman yang akan dialami:

  1. Ada penyerangan dari pihak lain (ayat 3): Ada 7 hal kengerian akan menimpa mereka: pasukan berkuda menyerang, pedang bernyala-nyala, tombak berkilat-kilat, banyak yang mati terbunuh, bangkai bertimbun-timbun, tidak habis-habisnya mayat-mayat, orang tersandung jatuh pada mayat. Ini semua disebabkan oleh sikap mereka yang tidak menghargai manusia selama ini.
    Allah menghendaki agar umat-Nya memanusiakan sesamanya. Seseorang tidak menghargai orang lain karena didasari dari tidak menghargai Allah dan diri sendiri. Hargailah Allah, hidup dalam Firman-Nya maka kita dapat menghargai diri sendiri dan orang lain.
  2. TUHAN sendiri melawan mereka (ayat 5): Kata ‘lawan’ dalam bahasa Ibrani: elayikh, berarti menentang atau melawan. Bila Tuhan melawan seseorang/sebuah kerajaan di bumi, tidak ada satu pun yang dapat meluputkan diri (Contoh: Kain dalam Kejadian 4:12). Kita juga diingatkan: “Jika Allah tidak di pihak kita, Ia akan mempermalukan kita” (juga dalam Mazmur 124:1-6). Tuhan bahkan berkata dalam ayat 5: “Aku akan mengangkat ujung kainmu sampai ke mukamu”. Ini adalah sebuah penghinaan dan tindakan mempermalukan. Selama Asyur berkuasa, tidak ada yang mampu melawan dan mengalahkannya. Di hadapan Tuhan, Asyur tidak mampu bertahan.

Hanya umat Tuhan yang berkata tentang pengakuan ini yaitu: “Tiada berkesudahan kasih setiaMu Tuhan”. Ia akan memelihara perjanjian-Nya atas mereka. Roma 10:11 “Karena Kitab Suci berkata: “Barangsiapa yang percaya kepada Dia, tidak akan dipermalukan”. Hikmat dan tuntunan-Nya senantiasa menyertai umat-Nya. Karena itu, Tuhan menghendaki agar umat-Nya juga menghormati Tuhan dan umat ciptaan-Nya. Melalui kehidupan kita di dalam Gereja inilah kita menunjukkan sikap saling menghargai.