Ringkasan Khotbah

Tanggal 31 Oktober diperingati sebagai hari Reformasi Gereja, namun pada saat bersamaan dirayakan Halloween. Apakah orang Kristen boleh ikut merayakan Halloween? Sebenarnya Halloween bukan hal berbau kekristenan yang dimulai orang Celtic di Inggris Raya merayakan hari penutup musim panas dan dipercayai arwah orang mati bergentayangan dan untuk menakuti roh tersebut mereka mengenakan kostum yang menyeramkan. Supaya tidak terlalu mempengaruhi umat, maka oleh gereja Katolik saat itu, hari ini diadopsi ke kekristenan sebagai perayaan arwah orang suci. Tapi karena perayaan ini banyak dipengaruhi oleh orang Amerika sekuler dan orang Eropa yang tidak beragama, pengaruhnya lebih besar dari pengaruh gereja.

Berbicara mengenai Sola Scriptura, kita harus melihat bahwa Alkitab kita bukan karya manusia tetapi berasal dari yang sifatnya Ilahi, melalui orang-orang yang Tuhan khususkan dan pakai untuk menyatakan kebenaran firman Tuhan yang terus dipelihara sehingga dapat dinikmati hingga zaman kita. Seperti dalam nats pembimbing hari ini Ibr 4:12-13, firman Tuhan itu lebih tajam dari pedang bermata dua yang sanggup menembus ke dalam hati setiap orang sehingga dapat menyadarkan adanya dosa dan setiap orang yang sungguh hidup dalam kebenaran akan gelisah akan adanya dosa / penyimpangan. Hal ini juga yang mendorong Reformasi Gereja, di mana ada seorang Martin Luther yang menentang penyimpangan ajaran Gereja saat itu mengenai indulgensia (surat pengampunan dosa). Ia menyusun 95 dalil menyerukan agar orang-orang kembali berpaling ke Alkitab.

Sola Scriptura artinya hanya Alkitab, yakni menyatakan bahwa Alkitab itu berotoritas karena dinafaskan oleh Allah sendiri (2 Tim 3:16, diilhamkan = dinafaskan) kepada masing-masing penulis. Alkitab dari Kejadian hingga Wahyu, ditulis oleh 40 penulis dengan 20 profesi di 10 negara dalam 3 bahasa selama 1500 tahun. Namun terdapat kesatuan isi (Luk 24:27,44) dan topiknya satu yaitu keselamatan dalam Kristus. Alkitab sanggup mengubah kehidupan setiap kita, bahkan penjahat sekalipun dapat diubah seperti Paulus sebelum bertobat. Tidak ada seorang pun yang sanggup menghindari kuasa firman Tuhan. Yang perlu kita lakukan adalah meresponi panggilan Tuhan. Martin Luther diharapkan orangtuanya menjadi pengacara agar dapat memperbaiki nasib keluarga namun di tangan Tuhan ia malah dipakai menjadi reformator gereja. Mengenai indulgensia, ia berkata “meskipun aku hidup tidak bercela sebagai seorang imam, namun aku yakin bahwa aku tetap orang yang berdosa dan hati nuraniku sangat gelisah di hadapan Allah, aku tidak percaya segala perbuatanku dapat menyenangkan hati Allah”. Mengapa ia dapat berkata demikian? Karena saat ia mempersiapkan reformasi gereja, ia juga sedang mempelajari firman Tuhan dengan sungguh. Mottonya: Injil adalah kekuatan Allah dan itulah yang mampu menyelamatkannya (Rm 1:16-17) bukan perbuatan manusia. Kesalehan orang berdosa itu seperti kain kotor (Yes 64:6a). Mari kita ingat bahwa keselamatan kita itu anugerah Tuhan dan kita terima melalui kebenaran firman Tuhan / Alkitab yang sanggup mengubah diri kita.

Pada 2 Tes 2:13, Paulus mengatakan kepada jemaat Tesalonika bahwa Allah yang telah memilih mereka lebih dahulu dalam kebenaran. Kata kebenaran (alithea) yang berarti Allah sendiri adalah kebenaran, sama seperti pada Yoh 14:6. Tuhan menyelamatkan setiap orang karena kebenaran-Nya. Maka respon kita sebagai orang beriman adalah harus mengetahui kebenaran tersebut, menyetujui dan taat. Hal ini perlu kita refleksikan dalam hidup sehari-hari sebagai wujud nyata iman kita. Kesalehan kita lahir oleh karena kebenaran, buah dari pergaulan dengan firman Tuhan. Kita juga perlu memberitakan kebenaran itu seperti yang dilakukan Paulus (ayat 14). Ia mengajar mengenai Mesias selama 3 hari Sabat berturut-turut (Kis 17:2-3). Inti pengajarannya adalah Mesias yang menderita, yang disalibkan, mati dan bangkit (1 Kor 15). Walaupun ditolak dan harus menderita, tetap berdiri teguh dan berpegang pada Firman Tuhan (ayat 15). Kata berdiri teguh dan berpegang ditulis dalam bentuk aktif imperatif. Orang Kristen sejati dan tangguh adalah orang yang secara aktif merenungkan firman Tuhan siang dan malam. Karena kebenaran firman Tuhanlah yang akan menjadi sumber kekuatan kita. Sehingga walaupun ada banyak tantangan sekalipun, kita akan ditopang oleh kebenaran itu dan kita perlu menyaksikannya sebagaimana yang telah dilakukan Tuhan Yesus, teladan kita.