Pengkhotbah

Perikop
Roma 12:15-16

Ringkasan Khotbah

Dalam Roma 12:16, Rasul Paulus menulis surat kepada
jemaat di Roma agar sehati sepikir dalam hidup bersama. Rasul Paulus menegaskan
bahwa kita harus mengusahakan untuk dapat memiliki kesatuan pemikiran dan hati,
namun yang dimaksud di sini bukan berarti kita harus memiliki
pemikiran/pendapat yang sama. Salah satu terjemahan ayat ini di dalam bahasa
Inggris: live in harmony with one another. Hal ini dapat diartikan bahwa kita
boleh mempunyai pemikiran yang berbeda-beda tapi harus di dalam keharmonisan,
sama seperti keharmonisan nada-nada yang berbeda namun dapat terangkai dengan
baik dalam musik.

Kita boleh memiliki pemikiran yang berbeda-beda namun kita
perlu menyesuaikan diri sedemikian rupa sehingga kita memiliki pandangan yang
harmonis. Hal ini mungkin cukup sulit dan butuh waktu yang lama namun harus
kita perjuangkan, terutama di dalam gereja kita. Untuk mewujudkan keharmonisan/kesatuan dalam gereja,
minimal ada 2 hal yang dapat kita lakukan:

1.   Kita
bersukacita dengan orang yang bersukacita, dan menangis dengan orang yang
menangis (Roma 12:15). Jika kita sudah melaksanakan hal ini, artinya kita sudah
dapat melaksanakan Firman Tuhan. Misalnya turut bersukacita ketika ada keluarga
yang dianugerahi anak, jemaat yang berulang tahun, mendapat pekerjaan. Hal ini
juga merupakan salah satu tujuan kita beribadah, yaitu persekutuan dengan
orang-orang percaya. Mungkin akan lebih sulit untuk menemukan orang-orang yang
mau berdukacita bersama-sama dengan kita dibanding dengan orang-orang yang mau
bersukacita bersama. Maksud ayat 15 ini adalah supaya kita menjadi orang yang
dekat dengan sesama orang kristen. Yang sering terjadi adalah kebalikannya,
pada saat orang lain bersukacita, kita iri dan pada saat orang lain
berdukacita, kita tidak perduli.

     Mari kita renungkan, berapa banyak orang yang
memiliki hubungan dekat dengan kita, sehingga kita bisa bersukacita dan
berdukacita bersama-sama. Mungkin sulit untuk dekat dengan semua orang, tetapi
marilah minimal kita memiliki 3-5 orang yang seperti itu. Orang yang sudah dapat
turut bersukacita dan berdukacita bersama-sama adalah orang yang telah
mempraktekkan kasih yang sejati (Firman Tuhan). Kita perlu belajar untuk
merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain.

2.  Jangan
memikirkan perkara-perkara yang tinggi (sombong), tetapi arahkan dirimu pada
perkara-perkara yang sederhana (menyesuaikan dengan orang yang status lebih
rendah), jangan menganggap dirimu pandai (jangan menganggap diri kita
hebat/pintar dari yang sesungguhnya) (Roma 12:16b). Ayat ini berisi 3 nasehat
yang hampir sama nuansanya, namun cukup sulit untuk dipraktekkan. Rasul Paulus
menyadari bahwa dalam persekutuan ada banyak kelompok (Yahudi dan non-Yahudi,
kaya dan miskin, pendidikan, suku), yang juga masih terjadi pada masa ini. Kita
punya kecenderungan untuk bersama-sama dengan orang yang sama dengan kita
karena kita akan merasa lebih nyaman.

      Hal ini merupakan hal yang wajar tetapi
kita harus mengusahakan agar kita tidak terus seperti itu. Misalnya saat kita
makan bento kita akan makan dengan orang-orang yang sejenis dengan kita. Kita
harus mau lebih terbuka dan menyesuaikan diri dengan orang yang berbeda dengan
kita. Kita harus menghindari kesombongan dan exclusive-isme dalam kelompok
kita. Jika kita melaksanakan ini, maka kita dapat mewujudkan
kesatuan/keharmonisan dalam jemaat Tuhan.

(ML/06/09)