Pengkhotbah

Perikop
1 Petrus 2:1-5

Ringkasan Khotbah

Surat Petrus dikirimkan kepada orang-orang percaya yang tersebar karena adanya penganiayaan. Ketika menyampaikan bagian 1 Petrus pasal 2, ada kesulitan memahami kata kunci dari pasal 2 ini, yaitu : “Batu Hidup”. Pdt. Ota bergumul untuk menjelaskan pengertian daripada “batu hidup”. Apa esensi daripada  batu hidup, apa arti sebenarnya, dan lalu apa aplikasi nyatanya bagi kehidupan orang Kristen. Sekalipun Pdt. Ota berusaha mencari pengertian batu hidup di dalam berbagai bahasa, Jepang, Indonesia, Inggris, bahkan Yunani, tetap tidak mudah untuk memahami pengertian batu hidup.

Pada waktu itu, Pdt. Ota dan istri sedang mencari tanah untuk gereja. Kemudian, Pdt. Ota dan istri bertemu dengan seorang pemborong Kristen. Pada saat itu, di rumah sang pemborong sedang ada pembangunan tembok rumah dan Pdt. Ota mengamati bahwa pembangunan tembok tersebut sangat baik, rapi, dan teratur. Kemudian pada saat itu, Pdt. Ota mendapat pengertian mengenai apa arti batu hidup. Batu yang didesain sedemikian rupa sesuai dengan ide dari sang arsitektur. Sebagai orang Kristen, kita adalah batu-batu hidup yang digunakan untuk pembangunan rumah rohani. Untuk menjadi batu yang hidup, ada 4 langkah yang hari kita ambil, yaitu:

Ay. 1: “Karena itu buanglah segala kejahatan, segala tipu muslihat dan segala macam kemunafikan, kedengkian dan fitnah.” Misionaris Takayama adalah seorang montir yang diutus bermisi ke Rusia. Di Jepang, mobil akan dibuang apabila telah menempuh jarak 100.000 km. Mobil sebenarnya dapat bertahan hingga 300.000 km apabila dirawat sedemikian rupa misalnya dengan mengganti oli dengan teratur. Namun, tempat oli tersebut harus dibersihkan terlebih dahulu sampai tidak ada sisa-sisa oli yang mengental yang tertinggal baru kemudian boleh diisi dengan oli baru. Ilustrasi ini menggambarkan kehidupan orang Kristen dimana orang Kristen harus terlebih dahulu membuang segala hal-hal yang  tidak berkenan di hadapan Allah dari dalam hatinya, baru kemudian memohon kepada Allah untuk mengisi hatinya dengan hal-hal sorgawi. Rasul Petrus menasehati orang-orang percaya untuk membuang segala kejahatan, segala tipu muslihat dan segala macam kemunafikan, kedengkian dan fitnah agar hati orang-orang percaya diisi oleh hal-hal yang berkenan di hadapan Allah.

Ay. 2: “Dan jadilah sama seperti bayi yang baru lahir, yang selalu ingin akan air susu yang murni dan yang rohani, supaya olehnya kamu bertumbuh dan beroleh keselamatan,” Pdt. Ota mempunyai sebuah komitmen untuk mengajak para mahasiswa/i-nya untuk mengisi hati mereka dengan kebenaran Firman Tuhan melalui renungan pagi dan renungan malam. Melalui perenungan Firman Tuhan, orang percaya dapat bertumbuh dan beroleh keselamatan. Firman Tuhan itu seperti cermin, yang memberitahukan kesalahan kita, yang mengkoreksi kita (2 Timotius 3:16). Intelektual juga penting, tapi jauh lebih penting mengisi hati kita dengan kebenaran Firman Tuhan.

Ay. 3:  “jika kamu benar-benar telah mengecap kebaikan Tuhan.” Pdt. Ota mempunyai seorang teman pendeta yang sangat tekun membaca buku-buku teologi yang begitu tebal dan isinya sangat “berat”, membaca pendapat-pendapat teologi dari bapak-bapak gereja. Namun, pendeta tersebut sangat suka mengkritik orang lain. Pdt. Ota melihat bahwa ada ketidakselarasan antara kerohanian bapak pendeta ini dengan pengetahuan teologinya. Mengecap kebaikan Tuhan berarti kita memiliki kemampuan untuk meniru, yaitu meniru kebaikan yang telah Tuhan berikan kepada kita untuk disalurkan kepada orang lain.

Ay. 4: “Dan datanglah kepada-Nya, batu yang hidup itu, yang memang dibuang oleh manusia, tetapi yang dipilih dan dihormat di hadirat Allah.” Evaluasi manusia atas diri kita tidaklah menjadi yang terutama, namun bagaimana Allah mengevaluasi kita, itulah yang menjadi hal yang terpenting dan terutama. Pada waktu Pdt. Ota mendirikan gereja dan selesai pada waktu beliau usia 34, seorang Bapak datang kepada beliau dan mengatakan bahwa gereja yang dibangun tersebut mirip seperti kouminkan (gedung pertemuan masyarakat). Rasul Paulus juga banyak menghadapi kritik tajam yang berasal dari manusia. Sebagai orang percaya, ketika menghadapi kritik, kita harus membawanya ke hadapan Tuhan. Ingatlah bahwa kemurnian iman kita diuji dengan api, termasuk ketika menghadapi kritik ataupun penolakan dari orang lain.