Posted by Admin GIII Tokyo

Berbicara tentang ordo dalam sebuah pernikahan, kita tidak bisa tidak melihat pada Firman Tuhan yang menjadi dasarnya. Suami adalah kepala dan istri sebagai penolong (Ef 5:22-24). Suami mengasihi istri dan istri menghormati suami. Hal ini tidak bisa dibolak-balik dan dalam keluarga perlu keaktifan dari kedua belah pihak. Allah sendiri menghendaki keteraturan termasuk dalam kehidupan suami istri sehingga segala sesuatunya berjalan dengan baik dan menuju kebahagiaan. Pernikahan sendiri merupakan suatu keajaiban dimana dua orang yang sama-sama berdosa / punya potensi dosa bisa saling memaafkan dan menerima dalam kehidupan sehari-hari. Bagi dunia sendiri, pernikahan adalah sesuatu yang sulit dijalankan, maka kadang-kadang di luar Kekristenan, pernikahan sulit bertahan. Dalam Kejadian 24:20, Tuhan telah menetapkan suatu sistem yaitu dua pribadi yang berbeda namun dalam kesatuan. Maka perlu kerendah-hatian untuk menyatukan dua pribadi yang berbeda ini.

Kita melihat contoh kerusakan ordo dalam rumah tangga raja Ahab dan istrinya Izebel. Ahab membelakangi firman Allah dengan mengambil istri bukan orang Israel demi menjaga relasi politik. Istrinya bahkan membawa dewa sembahannya ke dalam rumah tangga mereka. Inilah awal kehancuran dalam rumah tangga. Dalam 1 Raja-Raja 21:1-16, Nabot tidak mau menjual tanahnya karena itu adalah tanah warisan yang memang harus dipertahankan sesuai firman Tuhan (Bil 36:7-9). Kecenderungan hati Ahab yang tidak puas akan apa yang ia miliki walaupun ia seorang raja menyebabkan ia menginginkan tanah Nabot. Ahab sebagai raja / suami bersifat kekanak-kanakan ketika ditolak Nabot. Maka kita kembali diingatkan, yang menentukan seseorang siap menikah bukan usia tapi kedewasaan seseorang. Ahab kesal hati dan cemberut hingga tidak mau makan. Ahab juga takluk kepada istrinya Izebel yang punya karakter kuat / keras dan mendominasi. Ia membunuh nabi-nabi Allah sebelumnya.

Ayat 7 menunjukkan bahwa Izebel yang menegakkan kewenangan Ahab dan menunjukkan bahwa ia lebih besar dari Ahab dengan memberikan solusi bagi Ahab. Kelihatannya baik tapi itu bukan merupakan solusi karena ia mengambil tanah Nabot dengan cara yang tidak baik. Kadang kala dalam rumah tangga memang ada terdapat suami dengan karakter yang lebih lemah, tapi jangan sampai meniru cara Izebel dalam menolong suami yang lemah. Ia mengambil posisi Ahab dan merusak ordo dalam rumah tangga. Maka saat seorang istri melihat kelemahan suami, suami melakukan kesalahan atau salah mengambil keputusan, janganlah menggeser posisi suami dan mengambil perannya. Suami tetap suami dan istri tetaplah istri apapun keadaanya. Yang tetap menjadi kepala keluarga adalah suami. Dalam 1 Kor 15:41 dikatakan “Kemuliaan matahari lain dari pada kemuliaan bulan, dan kemuliaan bulan lain dari pada kemuliaan bintang-bintang, dan kemuliaan bintang yang satu berbeda dengan kemuliaan bintang yang lain”. Demikian juga Tuhan mengatur dan meberikan kemuliaan masing-masing pada suami dan istri. Kegagalan pasangan menjalankan peran jangan dijadikan sebagai alasan untuk menguasainya. Jalankanlah peran yang positif, bangunlah kasih dan cinta yang semakin mendalam agar rumah tangga bukan menjadi tempat mengadu posisi, yang kuat menguasai yang lemah.

Sebagai orang Kristen, jangan bersikap kekanak-kanakan kalaupun tidak diterima oleh orang lain karena kita adalah saksi Kristus yang hidup. Sikap melanggar hukum yang ditentukan Tuhan akan menjadi awal penyebab kerusakan ordo dan juga dapat diteruskan ke generasi selanjutnya. Belajarlah menyelesaikan masalah secara wajar, jangan mudah kesal hati, dan jangan memanfaatkan kelemahan pasangan untuk menguasainya. Pernikahan atau relasi dengan siapapun perlu pembaharuan dan kerendah-hatian terus menerus. Serahkanlah semua kepada Tuhan yang mempunyai otoritas dalam segala hal.