Pengkhotbah

Perikop
Roma 8:14-16

Ringkasan Khotbah

Tema GIII Tokyo tahun ini adalah “hidup dalam kepenuhan Kristus”. Kita sudah belajar kitab Roma 8 ini secara berseri karena perikop ini paling jelas menerangkan mengenai hidup dalam Kristus. Hidup dalam Kristus berarti hidup dalam Roh. Dalam Kristus berarti: ① Tidak ada penghukuman lagi, ② Ada roh atau hidup baru yang memerdekakan dari hukum dosa dan maut, ③ Hidup dipimpin Roh Kudus. Secara praktis, hidup dipimpin oleh Roh Kudus berarti: ① Disukai oleh Roh Kudus, berhati-hati supaya tidak mendukakan Roh Kudus, artinya ada kecenderungan hati untuk ramah, penuh kasih mesra, dan mengampuni, ② Bersukacita dalam kebenaran karena Roh Kudus memimpin kita dalam seluruh kebenaran, ③ Ada kehausan rohani, artinya sadar akan kelemahan rohani. Kita mau lebih kaya secara rohani, bukan kaya harta. Hari ini, sebagai anak Allah, kita mau belajar lagi mengenai apa status kita. Ayat 15 mengatakan bahwa orang percaya tidak menerima roh perbudakan yang membuat menjadi takut lagi.

Dalam Alkitab, ada tulisan roh pakai huruf besar dan huruf kecil. Namun dalam bahasa asli, tidak ada perbedaan kata dan penulisan. Artinya dalam terjemahan Alkitab kita, sudah ada penafsiran. Roh huruf kecil biasanya mengacu kepada roh yang diberikan Roh Kudus kepada kita. Roh huruf besar biasanya mengacu kepada Roh Kudus. Roh perbudakan bukan mengacu kepada keadaan pada waktu kita masih hidup dalam kuasa dosa. Roh Kudus memberikan roh perbudakan yang menakutkan sehingga manusia takut akan dosa, takut akan maut. Tuhan Yesus berkata bahwa Roh Kudus datang untuk menginsyafkan manusia akan dosa dan penghakiman. Roh Kudus bekerja dalam hati kita membuat kita bertanya: “Setelah mati, kemana hidup kita?” dan membuat kita sadar akan dosa-dosa kita. Roh Kudus membuat kita takut akan dosa dan takut akan kematian sehingga kita tidak hidup bermain-main dalam dosa. Mungkin manusia akan ingat bahwa dia juga akan meninggal pada waktu melihat upacara penguburan, tapi sebenarnya setelah itu, manusia menikmati lagi yang indah-indah dan jadi lupa akan adanya kematian.

Kalau bukan Roh Kudus yang bekerja, kita tidak mungkin bisa sadar bahwa kita adalah orang berdosa yang juga akan binasa. Dalam Roma 7:10-11, ada kata perintah. Perintah itu adalah hukum Taurat. Roh Kuduslah yang bekerja membuat kita sadar bahwa bahwa hukum Taurat adalah gambaran ideal bagaimana manusia seharusnya hidup sebagai gambar Allah yang kudus dan mulia. Ketika kita membaca Roma 7:10-11,18-26, kita sadar bahwa diri kita yang sebenarnya begitu bobrok dan berdosa. Kita sadar akan hal ini karena kita menerima roh perbudakan. Pada waktu hari Pentakosta, Petrus berkhotbah kepada orang Israel dan Roh Kudus membuat mereka takut dan bertanya: “Apa yang harus kami perbuat?” Petrus berkata: “Bertobatlah”. Dalam kisah lain, ketika Paulus dan Silas dipenjara di Filipi, terjadi gempa dan semua pintu penjara terbuka. Pada waktu itu, kepala penjara ketakutan karena mengira semua tawanan melarikan diri. Kepala penjara berkata kepada Paulus: “Apa yang harus aku lakukan supaya aku selamat?” Dia bukan takut karena semua tawanan melarikan diri, tapi takut karena dia sadar bahwa dia perlu diselamatkan.

Dalam sejarah gereja pun, ada orang Kristen yang sungguh-sungguh yang menerima roh ketakutan/roh perbudakan yang membuat mereka sadar akan dosa, misalnya John Bunyan, seorang penulis Kristen dan pengkhotbah. John Bunyan bergumul selama 18 bulan dan berkata: “Lebih baik saya dilahirkan sebagai seekor binatang daripada binasa sebagai manusia.” Roh Kudus bekerja dalam hati Bunyan dan membuat dia sadar akan dosa-dosanya. Roh Kudus yang memberikan roh perbuadakan juga bekerja dalam kebaktian-kebaktian kebangunan rohani untuk menyadarkan manusia akan dosa, misalnya di kota Soe, tiga hari sebelum G30SPKI dimana seorang pemuda yang sudah bertobat berkhotbah di depan orang-orang untuk bertobat. Roh perbudakan itulah yang bekerja menggerakkan hati kita untuk sadar betapa menakutkan dosa itu yang membawa kepada kebinasaan dan membuat kita akhirnya menyadari dosa kita dan kita pun diangkat menjadi anak Allah. Galatia 4:6 berkata: “Dan karena kamu adalah anak, maka Allah telah menyuruh Roh Anak-Nya ke dalam hati kita, yang berseru: “ya Abba, ya Bapa!” (Abba: bahasa Aram (hubungan dekat dengan Bapa di sorga); tidak dipakai oleh kaum budak, hanya oleh kaum merdeka. Bapa: bahasa Yunani. Allah yang sama kita panggil dengan Bapa (orang Israel, Yunani, siapapun yang percaya). Berseru memanggil Bapa adalah berbicara mengenai perasaan; kita terharu, sukacita, senang menjadi anak Allah dan cinta akan firmanNya. Hal ini bukan sekedar teori, bukan hanya belajar firman secara huruf saja, tapi merasakan dan mengalami apa arti menjadi anak Allah itu. Relasi kita dengan Bapa di sorga begitu dekat, ibarat seorang anak dan ayah. Lengan Allah yang kuat itulah yang selalu menopang kita. Menjadi Kristen bukan menjadi lepas dari masalah, tetapi Allah selalu memimpin dan menyertai kita selalu. Kelemahan tubuh tetap ada, tapi Tuhan menguatkan. Keintiman dengan Allah sebagai Bapa kita membuat kita menyadari bahwa kita adalah orang berdosa tapi sudah dimerdekakan dan hidup dalam damai sejahtera.