Pengkhotbah

Perikop

Ringkasan Khotbah

Kejadian 3:1-24

Bacalah Kejadian 3:1-24 satu kali, lalu ulang lagi ayat 7 dan 21.

Manusia diciptakan Allah sempurna (Kejadian 1:31), tapi kemudian jatuh ke dalam dosa. Sebelum jatuh ke dalam dosa, manusia telanjang, tapi tidak merasa malu (Kejadian 2:25). Tapi setelah jatuh ke dalam dosa, mereka malu. Sebelum berdosa tubuh mereka sempurna dan mulia, tapi setelah berdosa mereka sadar tubuh mereka tidak lagi mulia, sehingga perlu ditutupi. Rasa malu akan tubuh manusia ini melambangkan dosa manusia itu sendiri.

Dalam ayat 7 dan 21 kita melihat dua usaha, satu dari manusia dan satu dari Allah untuk menutupi tubuh manusia. Menutupi tubuh adalah suatu usaha menghindar dari rasa malu akibat dosa, ini melambangkan usaha untuk menghapus dosa. Tapi ada perbedaan besar antara usaha manusia dengan usaha Tuhan. Dalam ayat 7 manusia berusaha untuk menutupi tubuhnya dengan cawat yang dibuat dari daun pohon ara. Ini melambangkan manusia berusaha untuk menghapus dosanya dengan caranya sendiri. Contohnya dengan melakukan perbuatan baik, sembahyang, dan sebagainya. Tapi cara ini sia-sia.

Cara yang benar ialah cara yang dilakukan Allah dalam ayat 14. Yaitu menutupi tubuh manusia dengan kulit binatang. Apakah kulit binatang ini ada begitu saja? Tidak, kulit binatang ini jelas sekali berasal dari binatang yang masih hidup lalu dibunuh dan dikuliti. Waktu binatang ini disembelih darahnya tercurah. Apa salah binatang itu sehingga dia harus disembelih? Tidak ada! Dosa manusia hanya bisa dihapus dengan cara “mengorbankan” oknum lain yang tidak berdosa sebagai ganti manusia, dan “menumpahkan darah” oknum tersebut. Dengan kata lain, dosa manusia hanya bisa “ditebus” dengan pengorbanan oknum lain yang tidak berdosa.

Kulit binatang itu diberikan oleh Allah dengan arti penebusan dosa manusia yang sempurna hanya bisa dikerjakan oleh Allah sendiri.

Adakah usaha-usaha kita untuk menghapus dosa, untuk mendapatkan keselamatan yang kita lakukan dengan kekuatan kita sendiri selama ini?

Siapakah oknum yang tidak berdosa yang telah dikorbankan dan ditumpahkan darahnya untuk menebus dosa kita? (1 Yohanes 1:7)

(Buku Panduan Retreat GIII Tokyo 2010, Hidup Kudus)