Pengkhotbah

Perikop
Matius 21:1-17

Ringkasan Khotbah

Hari ini dalam kekristenan disebut Minggu Palma. Dalam perayaan ini dikenang peristiwa masuknya Tuhan Yesus ke kota Yerusalem sebelum Ia disalibkan. Sewaktu Tuhan Yesus memasuki, orang banyak menaruh ranting-ranting pohon palma (palem) di jalan yang dilalui Tuhan Yesus. Sebelum masuk ke Yerusalem ini, Tuhan Yesus sering menyembunyikan identitasNya sebagai Mesias. Melalui perikop hari ini, kita melihat bagaimana Tuhan Yesus memperlihatkan identitasnya sebagai Mesias.

Pada waktu itu, Yerusalem sangat ramai karena orang-orang Yahudi yang tinggal di dalam maupun di luar Yerusalem akan merayakan Paskah. Sebelum memasuki Yerusalem, Tuhan Yesus menyuruh dua muridNya untuk mengambil keledai yang sedang tertambat di sebuah kampung. Yesus adalah Allah yang Mahatahu dan menyatakan kedaulatanNya ketika tahu bahwa ada keledai yang sedang tertambat di kampung tersebut. Tuhan Yesus berpesan apabila ada yang menegor kedua murid tersebut, keduanya harus menjawab: “Tuhan memerlukannya dan akan segera mengembalikannya.” Kedua murid mendapat apa yang Tuhan Yesus sampaikan benar-benar terjadi. Peristiwa ini menyatakan dengan tegas ke-Tuhan-an Kristus (bdk. Kolose 1:15-16). Para pengikut aliran Saksi Yehova hanya mengakui bahwa Yesus adalah nabi, namun Alkitab dengan tegas menyatakan ke-Allah-an Yesus Kristus. Kedatangan Tuhan Yesus ke Yerusalem dengan menunggangi seekor keledai sudah dinubuatkan Nabi Zakaria (bandingkan ayat 5 dengan Zakaria 9:9). Dalam Kitab Zakaria, Yesus disebutkan sebagai “adil, jaya, dan lemah lembut”, tapi Kitab Matius lebih menekankan kepada karakter lemah lembut dari Yesus. Lemah lembut berarti ramah, rendah hati (Inggris: humble). Dalam tradisi Yahudi, menunggangi keledai bukanlah hal yang baru. Dalam Perjanjian Lama, ketika di padang gurun, orang-orang Yahudi biasanya menunggangi keledai. Sejak Salomo, para raja sudah tidak menunggangi keledai, tapi kuda. Tuhan Yesus menunggangi keledai muda yang belum pernah ditunggangi sebelumnya. Ini merupakan hal yang tidak biasa. Yesus adalah Allah yang merendahkan diri. Tuhan Yesus memilih keledai yang tidak dianggap sebagai tunggangan seorang raja (bdk. Ibrani 2:17-18 dan Filipi 2:6-8). Yesus sangat terkenal di Galilea dan banyak orang yang sudah percaya kepada Yesus di wilayah Galilea. Namun di Yerusalem, banyak orang yang takut dengan para pemimpin agama, sehingga jumlah orang percaya kemungkinan tidak sebanyak di Galilea. Sangat banyak orang yang menyambut Yesus ketika memasuki Yerusalem. Mungkin yang menaruh ranting-ranting pohon palem maupun yang mengalasi keledai dengan pakaian dan menghamparkan pakaian di jalanan adalah orang-orang yang sudah percaya Yesus. Orang banyak yang berjalan di depan Yesus dan yang mengikutiNya dari belakang berseru, katanya: “Hosana bagi Anak Daud, diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, hosana di tempat yang mahatinggi!” Hosana berarti “berikanlah keselamatan ya, Tuhan” seperti tertulis dalam Mazmur 118:25. Jadi, kata “hosana” sebenarnya lebih bernuansa sebuah permohonan. Karena banyaknya orang, sangat mungkin bahwa setiap orang terdengar mengeluarkan kata-kata yang berbeda: “Tuhan, selamatkanlah kami”, “Raja, berilah kami keselamatan”, dan lain-lain sehingga para penulis Kitab Injil Sinoptis (Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes) menuliskan kata-kata yang berbeda. Kita melihat bagaimana Yesus menyatakan kemuliaanNya. Yesus masuk ke Yerusalem dengan kesederhanaan, tapi menggemparkan banyak orang.

Kemungkinan besar para pemimpin agama bertanya-tanya ketika Yesus masuk ke Yerusalem: “Siapakah orang ini?” Mereka yang mengiringi Yesus menjawab bahwa Yesus adalah nabi dari Nazaret di Galilea. Mereka masih belum seutuhnya mengerti ke-Tuhan-an Kristus sehingga mereka hanya menyatakan bahwa Yesus adalah nabi. Bagaimana dengan kita? Apakah kita sudah sungguh-sungguh mengerti dan mengenal siapa Yesus Kristus? Apakah kita sudah sungguh-sungguh mengenalNya sebagai Tuhan dan Raja dalam kehidupan kita atau hanya pengakuan dalam mulut kita saja? Banyak para hamba Tuhan maupun misionaris, mau melayani Tuhan secara penuh waktu karena dipanggil secara pribadi oleh Tuhan dan mereka sadar siapa Tuhan yang memanggil mereka: “Yesus memerlukanmu, apa responmu?” Kiranya kita sungguh-sungguh menjadikan Yesus sebagai Tuhan dan Raja dalam kehidupan kita.