Posted by Yanes Dewangga

Raja yang ada di dunia tidak pernah mengalami penderitaan, sebaliknya identik dengan kesenangan, harta, dan kenyamanan. Tetapi dalam Alkitab, justru itulah yang menjadi ciri khas dari Raja segala Raja, Yesus yang walaupun adalah raja tetapi rela menderita. Ini merupakan hal yang bertolak belakang dengan fakta di dunia. Dalam pasal 16:16 tercatat pengakuan yang paling besar dari Petrus mewakili para murid dan gereja yaitu bahwa Yesus adalah Mesias, anak Allah yang hidup.
Maka dari itu persoalan dosa adalah hal yang serius di mata Tuhan. Walaupun manusia sering mengganggap sebaliknya. Sama seriusnya dengan keselamatan jiwa kita. Mengapa? Karena dosa mengakibatkan rusaknya relasi antara Pencipta dan ciptaan. Akibat dosa adalah perbudakan dan penderitaan yang menghimpit sehingga tidak ada seorang pun yang mampu meloloskan diri dari kuk perbudakan dosa ini. Tidak ada yang dapat menyelesaikan masalah serius ini kecuali manusia yang tidak berdosa yaitu Yesus. Karena itulah Ia harus turun ke bumi.
Di PL (Imamat 25:28) diatur oleh Tuhan, kerabat dekat wajib menanggung hutang dari sanak keluarganya dan melepaskannya dari kemiskinan ataupun perbudakan. Hal yang sama dikerjakan oleh Tuhan Yesus. Kita bahkan diangkat menjadi anak-anak-Nya, umat kepunyaan-Nya. Maka Ia tidak ingin kita jatuh dalam kemiskinan dan perhambaan oleh dosa yang mengakibatkan terputusnya hubungan dengan Allah. Untuk itulah Ia yang adalah Raja, mati demi menebus dosa kita oleh karena kasih-Nya. Kemudian Yesus akan datang kedua kalinya dalam kemuliaan Allah Bapa dan memberi upah bagi masing-masing orang sesuai dengan perbuatannya.
Bukti bahwa Yesus adalah Raja tercatat dalam Alkitab. Daniel 7:13-14 menubuatkan tentang Yesus adalah anak Allah, Raja dan semua bangsa akan tunduk menyembah-Nya. Waktu kelahiran-Nya, Tuhan menuntun orang Majus dari Timur datang untuk menyembah-Nya (Matius 2:2). Dalam Yohanes 18:37 saat prosesi penghukuman, saat ditanya Pilatus, Ia membenarkan bahwa Ia adalah Raja. Masih banyak contoh lain. Raja namun mau menderita karena masalah dosa yang serius. Ia juga pengantara antara kita dengan Bapa yang mana harus kita pertanggungjawabkan nanti. Kita perlu hidup berkenan kepada-Nya selama masih diberi kesempatan.
Manusia diberi upah bukan berdasar apa yang telah diperoleh selama hidup tetapi yang dikerjakan bagi Tuhan. Wahyu 14:13 berkata berbahagialah orang yang mati di dalam Tuhan, karena mereka akan menerima upah yang diberikan oleh Tuhan. Upah tersebut tidak diberikan di dunia itu tetapi kelak di sorga nanti yang begitu indah dan sempurna. Disana tidak ada yang lapar atau haus, tidak ada penderitaan karena sudah diselesaikan oleh Raja itu sendiri. Maka kita perlu hidup dengan penuh tanggung jawab karena kita sedang menantikan kedatangan Mesias.
Yesus dengan berani dan gamblang mengatakan Ia harus menderita. Ini menjadi pembelajaran bagi kita bahwa Tuhan memandang penderitaannya suatu sukacita untuk mendatangkan keselamatan bagi kita umat-Nya. Penderitaan karena kerajaan Allah, iman terhadap Allah, pengorbanan pelayanan semestinya membawa gairah karena ada sukacita persekutuan dengan Tuhan. Walaupun mati sekalipun akan ada kebangkitan seperti Kristus yang telah bangkit dari kematian.
Respon murid saat Yesus mengatakan tentang penderitaanya adalah sedih dan tidak mengerti. Bahkan Petrus disebut Iblis oleh Petrus karena mengatakan Yesus tidak seharusnya menderita. Ini menjadi pelajaran bahwa orang percaya juga bisa dipakai oleh iblis untuk menjatuhkan orang lain. Terhadap hal itu Yesus tidak kompromi. Iblis licik maka kita perlu waspada dalam segala hal. Dan seperti teladan Yesus mau memikul salib dan rela menderita, bukan mencari berkat-Nya saja. Tidak hanya di hari Minggu saja dan bahkan saat tidak ada orang lain sekalipun dengan penuh perjuangan.