Ringkasan Khotbah

Kita telah merenungkan “Rahasia Kemenangan Orang Beriman” melalui kitab Roma 6 dan secara praktisnya kita akan mempelajari bagaimana melawan dosa/godaan. Kita belajar dari raja Salomo, seorang yang bijaksana, kaya raya, dan mempunyai banyak istri. Salomo merupakan anak Daud yang lahir dari Betsyeba dan memerintah selama 40 tahun. Ia memulai kepemimpinannya dengan baik, yaitu dengan mendasarinya dengan takut akan Allah sesuai dengan nasehat ayahnya. Saat Tuhan menampakkan diri kepadanya, ia meminta hikmat sehingga ia meraih prestasi demi prestasi dan dikatakan tidak ada hikmat yang melebihi hikmat Salomo. Setelah 20 tahun pemerintahan, ia sudah menyelesaikan dua bangunan megah yaitu istananya dan bait Allah. Semuanya ada hanya karena kehendak Tuhan melalui perjanjian Tuhan dan Salomo bersandar pada perjanjian Tuhan dan nasehat ayahnya dan juga bekerja keras.

Namun demikian tetap ada godaan sebagaimana yang harus dialami setiap orang percaya. Di masa tuanya ia akhirnya tidak menghormati firman Tuhan karena jatuh pada godaan. Ia mencintai banyak perempuan asing (ayat 1). Hal ini bertentangan dengan perintah dan syarat yang Tuhan berikan kepada bangsa Israel dalam memilih raja yakni, jangan mempunyai banyak istri (Ulangan 17:17), dan jangan kawin mengawin dengan orang asing (Ulangan 7:3-4). Penyebab utama Salomo jatuh dalam godaan adalah ia tidak taat sepenuhnya kepada firman Tuhan. Istri-istrinya menarik hatinya dari Tuhan sehingga ia condong kepada allah-allah lain yang disembah istrinya. Maka iman perlu dibangun dengan dasar kecintaan akan firman Tuhan agar kita dapat berjalan seturut dengan ketentuan yang Tuhan telah berikan.

Penyebab lain Salomo jatuh dalam godaan asmara/cinta ialah persoalan keteladanan ayahnya Daud yang juga punya masalah asmara dan hidup berpoligami. Karena melihat teladan ayahnya maka ia tidak melihat ada masalah dengan mempunyai banyak istri. Kesimpulannya : kepemimpinan dalam keluarga perlu adanya keteladanan seperti yang dicontohkan Kristus. Karakter Kristus harus mengayomi karakter seisi rumah tangga dan setiap anggotanya sehingga gaya hidup orang Kristen dapat benar-benar memperlihatkan suatu gaya hidup yang mencerminkan karakter Kristus.

Selain itu ia juga mengalami perasaan tidak aman. Walau ia seorang yang bijaksana dan berkuasa seperti seorang Salomo tidak lepas dari perasaan takut, kecemasan. Rasa cemas dan khawatir tetap menghimpit manusia hingga zaman modern ini sehingga menghabiskan waktu untuk mengatasi hal tersebut. Raja Salomo pun mengalami insekuritas untuk mempertahankan kekuasaan dan kekayaannya sehingga ia menikahi wanita dari kaum bangsawan untuk memperkuat kerajaannya. Dengan demikian ia tidak lagi mengandalkan hikmat yang diberikan Tuhan tetapi mencari rasa aman dengan mengandalkan hikmat dunia. Kepintaran dan kebijaksanaan yang kita punyai perlu diletakkan dibawah kendali Roh Kudus agar Tuhan terus memimpin kita dan kitapun dapat taat pada pimpinan-Nya. Rasa aman yang sejati hanya daripada Tuhan seperti seruan Daud pada Mazmur 62:2-3 “Hanya dekat Allah saja aku tenang, dari pada-Nyalah keselamatanku. Hanya Dialah gunung batuku dan keselamatanku, kota bentengku, aku tidak akan goyah”.

Di masa akhir hidup Salomo, ia tidak sampai binasa tapi pada akhirnya bertobat dan menuliskan kitab Amsal, Kidung Agung dan ia mengatakan segala sesuatu seperti usaha menjaring angin. Maka hati kita perlu terus melekat pada Tuhan. Jiwa kita dapat terpuaskan hanya bila jiwa kita kembali kepada Tuhan kita. Kepekaan terhadap firman Tuhan harus tertanam karena Iblis akan terus menerus menggoda kita. Firman Tuhan perlu kita aplikasikan dalam setiap aspek kehidupan kita dan nama Tuhan dipermuliakan.