Posted by Admin GIII Tokyo

Banyak sekali peristiwa yang terjadi di Jepang, khususnya hari ini, kita diingatkan akan terjadinya bencana 11 Maret. Allah kita adalah Allah yang Maha Kuasa yang mendorong kita untuk kembali kepada-Nya dan takut akan Tuhan.

11 Maret mempunyai arti yang penting bagi sejarah bangsa Jepang dan bangsa Indonesia. Di Indonesia ada sejarah yang dinamakan “Supersemar” pada tanggal 11 Maret 1966. “Supersemar” adalah surat yang ditandatangani Soekarno ditujukan kepada Soeharto dengan kuasa penuh untuk mengatur negara yang pada saat itu sedang genting. Ada yang mengatakan bahwa Surat Perintah Sebelas Maret itu adalah paksaan Soeharto dikarenakan kop surat tersebut adalah kop surat militer. Sejarah Indonesia masih banyak yang simpang siur dan para ahli hukum mengatakan sejarah bangsa Indonesia masih gelap. Tahun lalu di Jepang juga ada sejarah yang gelap, banyak sekali penderitaan dan kesengsaraan, gempa dan tsunami yang besar.

Ada kesaksian kepala sekolah Sendai yang bernama Itou Koichi. Dia diangkat menjadi kepala sekolah pada tahun 2008. Sampai tahun 2011 dia sudah melakukan pekerjaan Tuhan di sekolah itu yang sangat membangun dan menjadi kesaksian bagi orang-orang percaya. Sejak tahun 2008 dia menerima tawaran pelatihan penanggulangan bencana. Tiap hari selama tiga tahun dia berdoa untuk murid-muridnya dan guru-gurunya supaya mereka terhindar dari bencana maupun kecelakaan. Dia juga berdoa untuk pelayanan Seaside Bible Chapel yang terkena bencana tahun lalu. Melalui pelayanan Itou Koichi ini sekitar 600 orang selamat karena mereka naik ke atap pada saat bencana datang. SD ini dekat dengan Seaside Bible Chapel yang pendetanya bernama Naito. Setelah bencana tersebut, pertama-tama mereka mendirikan lagi salib di atas gereja yang sudah menjadi rata dan berharap pemulihan terjadi dan kemuliaan Tuhan dinyatakan. Kita melihat doa orang-orang yang sungguh-sungguh dan berpengaruh kepada sekitar mereka.

Ketika Nehemia dalam pembuangan, dia mengingat kembali saudara-saudara yang dalam penderitaan di Yerusalem. Ketika dia mendengar kabar saudara-saudaranya yang mengalami penderitaan dan bencana besar, terenyuhlah hatinya. Dia memiliki empati, rasa yang mendalam terhadap keadaan bangsanya. Dia sungguh-sungguh berlutut berdoa, berpuasa dan berkabung. Dia turut merasakan kepedihan saudara-saudara sebangsanya. Pertama-tama dia berdoa memuji dan memuliakan Tuhan, Allah yang Maha Besar dan Maha Dahsyat. Lewat peristiwa kesukaran ini, dia melihat kebesaran Tuhan dan rencana Tuhan yang terbaik bagi bangsa dan kemuliaan Tuhan. Setelah itu dia mengaku dosanya, kaum keluarganya dan dosa bangsanya karena tidak mengikuti ketetapan- ketetapan Tuhan. Kemudian dia berdoa memohon pemulihan bangsa Israel.

Hari ini juga hati kita menangis ketika mengenang kembali peristiwa tahun lalu. Kita melihat saudara-saudara kita yang mengalami penderitaan, kehilangan saudara-saudara, kehilangan anggota keluarga, kehilangan rumah, kehilangan segalanya. Sungguh peristiwa yang sangat menyedihkan hati. Lewat hari ini juga mari kita terus berdoa untuk mereka dan pemulihan negara ini.

Peristiwa tahun lalu mengingatkan kita untuk menginstropeksi diri. Mengakui keberdosaan dan pelanggaran-pelanggaran kita maupun bangsa ini dan bangsa Indonesia. Menyadari keterbatasan dan kelemahan-kelemahan kita. Kita sebagai warga Indonesia di negara ini ikut terlibat dalam pemulihan Jepang ini. Kita berdoa semoga ada pemulihan dan kebangunan besar terjadi di negara ini. Mari kita berdoa memberkati negara ini supaya mereka boleh dimenangkan dan melihat kasih Tuhan. Mari kita sama-sama berdoa dan membantu negara ini seperti Nehemia. Semoga banyak orang melihat kemuliaan Tuhan dan kembali kepada Tuhan. (EC/03/12)