Ringkasan Khotbah

Ada banyak orang Kristen tetapi tidak semua berpikir secara Kristen. Tema kali ini membahas tentang pola pikir Kristen, apa artinya? Untuk memahaminya, kita perlu memahami arti dari Kristen secara benar menurut Alkitab. Dahulu, pengikut Yesus dikenal dengan sebutan murid dan orang percaya, tetapi sekarang disebut sebagai Kristen. Sebutan Kristen berasal dari 2 suku kata: Kristos = Kristus. Ianos = menyatakan kepemilikan. Pola pikir Kristen yang kita renungkan ini adalah: Kristen yang terus memperhamba diri kepada Kristus, yang sadar bahwa hidupnya sekarang adalah milik Kristus, dan mencintai hal-hal yang bersifat rohani. Tidak lagi terikat kepada hal-hal duniawi. Alasan lain dari pentingnya Pola Pikir Kristen ini, adalah: “Ada begitu banyak peristiwa di sekeliling kita, yang menurut anggapan kita dapat sewaktu-waktu menjadi ancaman bagi kehidupan kita. Itulah sebabnya, kita kemudian mencoba memusatkan seluruh pikiran dan tenaga kita untuk mengantisipasi satu per satu kekhawatiran tersebut. Namun, di tengah usaha kita untuk mengantisipasinya, kita mendapat betapa perasaan khawatir kita ini bukan makin mereda, melainkan justru bertambah. Hal ini menyebabkan kehidupan kita sebagai orang Kristen sama sekali tidak ada bedanya jika dibandingkan dengan kehidupan orang-orang yang belum mengenal Kristus. Sesungguhnya masalahnya terletak pada diri kita sendiri, atau tepatnya pada pola pikir kita.” Fakta ini menunjukkan bahwa kita sering sekali menciptakan masalah dengan alasan menyelesaikan masalah. Justru kita berputar-putar sendiri dengan pola pikir kita. Berdasarkan fakta ini, kita akan belajar melalui tokoh Alkitab bernama Barnabas (Kisah Rasul 4:36-37). Ia seorang Lewi yang berasal dari Siprus. Ia seorang yang cukup saleh, baik dan penuh dengan Roh Kudus dan iman (ay. 24). Mari kita memusatkan perhatian kita kepada hidup yang penuh dengan Roh Kudus (Efesus 5:18); karena dari sinilah sumber karakter yang baik dan juga iman. Melalui pribadi Barnabas kita dapat temukan beberapa sifat yang ditulis oleh teks ini, yaitu: ❶ Baik= Yun: agathos. Barnabas memiliki perilaku sehari-hari yang dikenal baik ditengah jemaat. Ia mau menyerahkan hartanya di depan kaki para rasul (4:34-35). Membuktikan bahwa ia tidak terikat kepada harta bendanya seperti Ananias dan Safira (Kisah Rasul 5). Bersukacita dengan benar (ayat 23). Barnabas tidak suka menonjolkan diri. Hal ini dapat dibuktikan ketika Barnabas mau mencari Saulus ke Antiokhia (ayat 25). Persekutuan kita sebagai sesama umat Allah, semakin membangun relasi dan panggilan untuk mendorong dalam pelayanan. Dalam pelayanan, kita perlu merelakan diri kita untuk tidak menjadi menonjol tetapi membiarkan nama Yesus yang disebarkan melalui pelayanan yang dikerjakan. ❷ Melayani (23b). Respon Barnabas ketika mendengar iman jemaat di Antiokhia adalah bersukacita. Tetapi tidak berhenti sampai di situ. Ia datang dan menasihati mereka. Arti nama Barnabas adalah anak penghiburan (4:36). Makna nama ini telah teraplikasikan dalam tindakannya melayani di Antiokhia. Inilah wujud Kristen sejati yang dipenuhi oleh Roh Kudus. Marilah kita menjadi penghibur yang baik bagi sesama kita. Jika kita sudah dipenuhi Roh Kudus, kita akan berjuang untuk melayani Tuhan dalam hidup kita. Isi nasihat Barnabas adalah: “Supaya mereka tetap setia kepada Tuhan” (24b). Marilah kita membuktikan kesetiaan kita kepada Tuhan dengan menuruti firman-Nya dan melayani-Nya. ❸ Bersaksi (24b). Pertumbuhan Gereja sejak semula adalah mereka digerakkan oleh Roh Kudus untuk bersaksi (Roh Kudus à Murid à Bersaksi à Bersaksi=Gereja). Peristiwa pencurahan Roh Kudus di dalam Kisah Rasul 2 telah mendorong para murid untuk bersaksi. Gereja dipanggil untuk bersaksi tentang kabar baik. Tuhan Yesus sendiri berkata: “Sama seperti Engkau mengutus Aku ke dalam dunia, demikian pula Aku telah mengutus mereka ke dalam dunia.” (Yohanes 17:18). Kita perlu sampai pada pola pikir seperti ini. Yesus menempatkan umat-Nya untuk berinteraksi dengan dunia tanpa harus sama dengan dunia. Tujuannya adalah supaya Gereja dapat bersaksi tentang rencana kekal Allah di dalam Kristus. ❹ Mengajar (ayat 26). Kita perlu menyadari identitas kita sebagai orang Kristen yang rohani. Tanda Gereja yang sehat sejak semula adalah Gereja yang belajar. Barnabas dan Paulus tinggal di Antiokhia selama 1 tahun. Mereka di sana mengajar (Yunani: didasko=to teach). Inilah sifat dan nilai Gereja sejak semula. Gereja yang sehat adalah Gereja dan umat Allah yang mau dibangun di dalam kebenaran firman Tuhan. Gereja pada masa kini, mestinya memiliki kerinduan yang sama yaitu mau diajar dan belajar firman Tuhan. Kita perlu memikirkan nilai dan kualitas kekristenan kita. Mengapa Gereja dapat bertahan dari zaman dahulu sampai sekarang? Karena selalu ada pengajaran dan kerinduan kebutuhan untuk dipenuhi oleh firman Tuhan. Sungguhkah kita memiliki pola pikir Kristen seperti ini?