Pengkhotbah

Perikop
Matius 16:21-26

Ringkasan Khotbah

Di dalam dunia sudah ada dua jalan yang pasti. Jalan bersama dengan Tuhan dan jalan menjauh dari Tuhan. Kita sedang jalan bersama dengan Tuhan. Melalui Yesus, dosa kita dahulu, sekarang dan akan datang diampuni. Jalan satu lagi, betapapun kelihatannya berhasil, tetapi itu menuju pada kehancuran. Dalam berjalan bersama Tuhan, kita memiliki satu gol, tetapi jalannya bercabang-cabang. Hari ini kita akan belajar mana jalan yang paling berharga dari jalan-jalan ini, yaitu jalan murid-murid.

Saat kita sudah percaya pada Yesus, kita tidak otomatis jadi murid Kristen. Tuhan mengasihi kita, tapi kita diciptakan bukan seperti robot. Kita bisa memilih mau mengikut Yesus atau tidak. Saya sendiri berpikir sudah memilih menjadi murid Yesus dan untuk memberitakan Injil ke negara dimana saya di panggil Tuhan untuk melayani, dimana 99,9 persen beragama Muslim dan saya tetap pergi ke sana. Saya ingin menyerahkan semua hidup saya pada Yesus. Meskipun di sana tidak mengalami bahaya, tapi yang paling susah adalah bagaimana mengasihi orang-orang di sana. Saya berakali-kali ditipu oleh penduduk di sana,  sampai suatu waktu saya malas keluar rumah. Di situ saya sadar susahnya mengasihi orang lain. Karena itu saya mulai berdoa, “karena Tuhan Yesus sudah mengasihi mereka, ajari saya untuk mengasihi mereka juga Tuhan.”

Petrus mengatakan Yesus anak Allah, tapi saat mendengar hal salib, Petrus berkata agar hal tersebut dilalukan. Apakah Petrus tidak beriman? Bukan, itu justru karena dia sangat menyayangi gurunya, sehingga tidak mau terjadi seperti itu pada gurunya. Tapi ayat 23 berkata “Enyahlah setan, kau hanya memikirkan yang dipikirkan manusia…” Bukannya Petrus setan, tapi setan dengan kata-kata yang halus dan sangat simpatik berusaha menjauhkannya. Setan berkata, “jadilah orang Kristen yang biasa saja. Kalau kamu setia ikut Tuhan, keluargamu juga akan susah.”

Saat kita hidup patuh pada Tuhan,  banyak tantangan, tapi mari kita ingat. Tuhan juga begitu baik tapi mati disalib. Saat mengingat itu kita akan dikuatkan. Waktu kita ikut Yesus dan tak tahu lagi apa yang kita bisa perbuat, mari kita lari ke salib Tuhan.  Ikut Tuhan penuh anugrah, tapi penuh kesulitan juga. Tapi ini jalan yang Tuhan ingin kita ambil. Tapi ada syaratnya: ➊Membuang diri sendiri, membuang nafsu, kesombongan, kedagingan. Dan ini kita tidak bisa kita lakukan sendiri. Roh Kuduslah yang memimpin kita. Waktu kita menyangkal diri dan mengikut Yesus, maka Roh Kudus akan bekerja; ➋Memikul salib; ➌Mengikut Yesus, yaitu saling mengasihi.

Bagaimana bapak ibu memikirkan lingkungan tempat bapak ibu berada. Mungkin ada pikiran, kalau aku masih bujang/belum menikah, kalau lebih muda, atau lebih pintar akan ini dan itu. Kita punya kecenderungan memikirkan hal-hal yang tidak kita punya. Tapi Tuhan sudah memberikan apa yang kita perlukan. Pada saat kita ingin taat, maka Tuhan akan menunjukkan apa yang perlu. Dan apa yang tidak perlu akan diambil satu per satu dan dibuang. Bapak ibu satu per satu adalah wakil dari Tuhan. Di Jepang ini ada KBRI, yang merupakan lambang perwakilan Indonesia yang diberikan hak untuk mengurus. Kita satu persatu adalah duta Kristen, dan kita datang dengan bendera Kristus. Kita satu per satu punya tugas atau fungsi yang Tuhan berikan yang tidak bisa dilakukan orang lain. Tujuan utamanya adalah agar Injil, kasih Tuhan disebarkan ke seluruh dunia.

Saya percaya bahwa bapak ibu ada di Jepang karena ada rencana Tuhan untuk bapak dan ibu. Dan untuk menjalankan rencana Tuhan itu, saya ajak bapak ibu untuk bisa memilih jalan murid-murid itu. Kita sudah mendapatkan dari Tuhan yang lebih berharga dari uang, yaitu hidup kekal. Dan kita tidak bisa diam diri.  Mari kita memberitakan kepada orang lain. Di sekitar bapak ibu ada orang-orang seperti itu, belum mengenal kasih Kristus. Saya berharap bapak ibu bisa menjalankan tugas sebagai duta/wakil Kristus di dunia ini.