Posted by Yanes Dewangga

Ada berbagai konsep tentang persepuluhan untuk mendukung alasan tidak memberi persepuluhan: Latar belakang gereja. Tidak semua gereja sepakat untuk memberi persepuluhan maka tidak perlu menjalaninya. Hanya memperkaya Hamba Tuhan atau gereja. Persepuluhan bukanlah diserahkan kepada Hamba Tuhan tetapi kepada Tuhan melalui gerejaNya (Ul. 14:20). Hanya berlaku di zaman Perjanjian Lama. Yesus mengatakan orang Farisi hanya melakukan persepuluhan tetapi mengabaikan kasih dan keadilan. Jadi Yesus menegaskan harus melakukan keduanya bersama-sama (Luk. 11:42).

Konsep persepuluhan dalam Alkitab :

Allah selalu menghendaki penyerahan yang sungguh-sungguh kepadaNya karena kita adalah milikNya, termasuk segala hal yang kita miliki (Rm. 11:36). Tuhan menghendaki dari apa yang kita miliki kita memberikan ungkapan syukur kita kepada Tuhan yaitu penyerahan kembali. Dalam satu minggu, Ia menghendaki hari ketujuh kita khususkan bagi Dia: “Setiap anak sulung adalah kepunyaan Tuhan .” (Im. 27:26). Hidup kita ini adalah kepunyaan Tuhan dan dipersembahkan untuk Tuhan. Karena itu sepersepuluh itu tidak seberapa dibandingkan dengan seluruh hidup kita yang harus dipersembahkan kepada Tuhan (Rm. 12:1). Persembahan kita hanya sebagai bukti persembahan hidup kita kepada Tuhan.

  1. Persepuluhan adalah milik Tuhan (Im. 27:30)

Persembahan persepuluhan disebut sebagai persembahan yang kudus. Bangsa Israel adalah bangsa yang dipilih Tuhan bukan bangsa lain, mereka disebut bangsa pilihan untuk melakukan apa yang berkenan kepada Tuhan. Sama seperti bangsa Israel dikuduskan oleh Tuhan, begitu jugalah persepuluhan itu dikuduskan untuk Tuhan dengan kesadaran semua berasal dari Tuhan. Persepuluhan kita melambangkan semua yang kita terima adalah kepunyaan Tuhan maka sebagai bukti kita mensyukuri apa yang kita terima, sepersepuluh kita khususkan, kuduskan untuk Tuhan. Persembahan berbau harum yang artinya supaya orang belajar memberi yang berkenan kepada Tuhan (Kej. 4:3-4). Persembahan menyenangkan hati Allah (Mal. 3:6-16). Malaekhi ditulis setelah bangsa Israel pulang dari pembuangan, ekonomi sulit sehingga mereka lebih mementingkan rumah sendiri sedangkan mereka lupa memberi persembahan bahkan persepuluhan. Melalui Firman ini Tuhan melatih dan menguji mereka. Setiap yang dipersembahkan kepada Tuhan adalah yang terbaik. Pada waktu kita memberi persembahan mari kita ingat yang menyenangkan hati Allah bukan hati manusia. Orang beriman semakin dilatih dan belajar memprioritaskan Tuhan dan hidup bergantung pada Tuhan. Setiap orang yang memberi persepuluhan adalah bentuk pengakuan bahwa Allahlah pemilik segala. Sumber satu-satunya kehidupan kita adalah Tuhan. Persepuluhan bukan persoalan hukum Taurat, jauh sebelumnya Abraham telah melakukannya (Kej.14:18-20). Abraham memberi teladan kepada kita, setiap hasil rampasannya setelah mengalahkan 4 raja diberikan kepada Allah. Abraham bertemu dengan Melkisedek yang merupakan manifestasi dari Kristus dan memberi sepersepuluh kepadanya sebagai bentuk kesadaran semua kemenangan dan sukses yang dia dapatkan terhadap raja-raja itu adalah dari Allah. Kita mengalami kesuksesan di Jepang ini adalah semua dari Allah sama seperti Abraham. Yakub memberi persepuluhan (Kej.28:22). Ketika Yakub di Betel dia berkata dari segala yang Tuhan berikan akan selalu memberi sepersepuluh padahal belum menerima berkat apapun. Sebelum menerima berkat dia berkomitmen dan setelah dapat berkat dia melakukannya. Meskipun Laban mengubah upah Yakub, tapi Yakub tetap diberkati Tuhan, Tuhan tidak pernah tutup mata.

  1. Supaya belajar untuk selalu takut akan Tuhan (Ul. 14:22-23)

Ayat ini menegaskan agar tetap mengingat Tuhan dalam setiap hal yang kita peroleh. Tuhan adalah sumber dimana kita menerima semuanya. Kemana pun Israel pergi mereka memiliki identitas bangsa yang takut akan Tuhan. Berkat Allah cukup bagi orang yang takut akan Tuhan. Ibadah kita harus dilandasi dengan hidup yang takut akan Allah, dilandasi oleh kesalehan. Jangan memberi kalau tidak takut akan Tuhan. Motivasi pada waktu memberi persepuluhan: jangan memberi dengan terpaksa, jangan memberi supaya dibalas Tuhan.

Uang dan kekayaan tidak akan memberi kepuasan (Pkh. 5:9). Yang memuaskan kita hanyalah Tuhan Sang Pencipta. Sama seperti Elia ketika ia kelaparan, Tuhan mengirimkan burung gagak, Yunus ketika ia kehausan Tuhan mengirim pohon jarak. Tuhan ada bagi orang yang beriman bagi Dia dan akan mencukupkan kita. Agustinus mengatakan, “Paulus mengerti arti menggunakan barang-barang di dunia ini untuk tujuan yang kekal karena tanpa rasa cukup mustahil untuk orang beriman untuk beribadah dengan benar.”

Kunci berkat Allah sejauh mana kita cukup bagi Allah, bergantung pada Allah.