Posted by Yanes Dewangga

Jika kita simak ayat 11, ayat yang begitu indah yang berisi pengharapan tetapi seolah-olah pupus harapan kita. Disadari atau tidak, seringkali kita meminta pertolongan kepada Tuhan tetapi sekaligus ingin mendikte bagaimana seharusnya Ia menolong kita. Tuhan bisa mengabulkan doa kita, hanya mungkin tidak sesuai dengan cara kita tetapi dengan cara Tuhan. Seharusnya saat kita menyerahkan hidup kita, percayalah akan pertolonganNya tanpa harus mendikte cara kerjaNya dengan pikiran-pikiran kita. Sebagai orang Kristen, seharusnya kita menjadi orang yang yakin bahwa masa depan kita penuh harapan, karena itu melangkahlah dengan iman.

Kisah Para Rasul 3:2, orang yang lumpuh setiap hari ke Bait Suci untuk meminta sedekah kepada orang yang masuk kedalam Bait Allah dengan pengharapan agar orang berbelas kasihan kepadanya. Namun ia tidak mendapatkan apa yang diinginkan tetapi malahan mendapat apa yang dibutuhkannya. Orang lumpuh ini mendapat yang terbaik dari Tuhan. Banyak orang Kristen yang lumpuh secara rohani karena tidak memiliki pengharapan, kurang menyadari maksud dan tujuan Tuhan dalam hidupnya, merasa bahwa keberadaan mereka hanya sekedar lewat saja di dalam dunia, kehidupan ini hampa tidak ada gunanya. Kita perlu terus berusaha mencari potensi yang ada dalam diri kita, berjuang dan jangan peduli akan keberadaan kita saat ini. Dan kita akan menemukannya, Tuhan telah menyediakan yang terbaik bagi kita.

Yeremia 29:4, masa pembuangan bangsa Israel ke Babel negeri penyembahan berhala. Mereka di hukum Tuhan, orang Israel berada dalam keadaan putus asa (ay 8, 9). Ditengah situasi ini, Tuhan menyatakan kepada mereka, Tuhan sendiri yang akan bekerja (ay 11), “Aku tahu tentang apa yang kamu tidak tahu”. Tuhan menginformasikan rancangan damai sejahtera yang berisi harapan memberi jaminan sekalipun kita belum mengalaminya. Pembuangan ke Babel bukanlah sebuah rancangan kecelakaan sebaliknya adalah rancangan yang membawa pemulihan bagi umat yang dipilihNya. Pemeliharaan dan kesetiaan Tuhan berkesinambungan, karena itu kita tidak perlu khawatir terhadap apapun juga, berpegang dan berharaplah kepadaNya. Ay 5-6, selama mereka tinggal 70 tahun di Babel, Tuhan menyarankan agar mereka harus menjalani kehidupan normal, harus berupaya agar mereka merasa nyaman ditanah dimana mereka dibuang. Perintah mendirikan rumah, membuat kebun untuk menikmati hasilnya dan mengambil istri/suami untuk anak-anak supaya terjadi multiplikasi keluarga di tanah pembuangan mengajarkan bahwa kita harus menjadikan keluarga sebagai prioritas. Sehati sepikir sama seperti Bapa, Yesus dan Roh Kudus, Allah Tri Tunggal. Ay 7, supaya kita menjadi berkat. Kita diberkati untuk menjadi berkat. Tuhan ingin konsep janjiNya yang awal kepada Abraham melalui keturunannya, berkat akan sampai ke bangsa-bangsa terus digenapi. Tuhan yang disembah oleh bangsa Israel adalah Tuhan yang berkuasa atas semesta yang sanggup memberkati umatNya dimanapun mereka berada. Ay 12-13, janji Tuhan, barangsiapa yang mencari Dia, maka mereka akan menemukanNya. Tuhan tidak pernah menutup hatiNya untuk menerima orang-orang berdosa yang rindu untuk mengenalNya, dan Iapun sangat rindu menyatakan diriNya kepada kita agar kita bisa mengenalNya dan mendapatkan semua yang Ia sediakan bagi mereka yang percaya.

Respon kitalah yang akan menentukan tindakan Tuhan untuk melakukan bagianNya bagi kita. Rencana Tuhan begitu indah, kita patut bersyukur dan yakin Tuhan telah menyediakan yang terbaik. Carilah Tuhan dan kita akan menemukanNya.