Pengkhotbah

Perikop
Yohanes 9:17-21

Ringkasan Khotbah

Minggu lalu kita belajar dari Hana, seorang tokoh ibu dalam Alkitab yang hidupnya mengalami penderitaan. Kita harus mengerti bahwa tidak selamanya penderitaan itu adalah hukuman dari Tuhan. Hana mengalami penderitaan bukan karena Hana melakukan dosa di hadapan Tuhan. Seorang warga negara Korea Selatan bernama Kim Duk Soo bersama ayahnya, seorang pendeta Gereja Presbyterian, ditangkap oleh mata-mata Korea Utara. Mereka akan dieksekusi keesokan harinya. Pada malam itu, seorang kapten tentara Korea Utara menemui Kim Duk Soo dan bertanya: “Apakah kamu Kristen?” Dalam penderitaan yang sedang dialaminya, Kim Duk Soo menjawab dengan berani: “Saya Kristen. Ayah saya seorang pendeta. Saya murid Kristus”. Ternyata sang kapten dulunya adalah seorang guru Sekolah Minggu yang sekarang menjadi warga negara komunis Korea Utara. Singkat cerita, sang kapten akhirnya menuntun Kim Duk Soo dan ayahnya untuk kabur dari penjara. Kisah nyata ini memberitahukan pada kita bahwa orang Kristen mengalami penderitaan di dunia ini, tapi tidak selalu akan berakhir dalam kepahitan.

Perikop hari ini menceritakan seseorang yang buta sejak lahir. Orang tersebut mengalami beberapa penderitaan: ❶Buta jasmani, yang tampak olehnya hanyalah kegelapan, ❷Diusir dan dikucilkan oleh orang-orang Farisi, ❸Orangtuanya sendiri tidak berani memberikan pengakuan atas kesembuhannya yang diberikan oleh Tuhan Yesus. Ketika Yesus melihat orang buta tersebut (ay. 1), Yesus tidak hanya sekedar mengomentari kondisi orang buta itu, tapi mengerti secara jelas keberadaannya (melihat: memperhatikan secara serius). Bagi orang-orang Farisi, orang tersebut buta sejak lahir sebagai akibat dosa, entah dosanya sendiri ataupun dosa orangtuanya. Tapi menurut Yesus, bukan karena dosanya atau dosa orangtuanya. Yesus ingin menyatakan bahwa penderitaan bukanlah semata-mata akibat dosa. Memang dosa dapat mendatangkan penderitaan. Sejak Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa, penderitaan muncul di dunia. Tapi Tuhan Yesus ingin menyatakan bahwa penderitaan dapat dipakai Allah untuk menyatakan pekerjaan-pekerjaanNya. Ketika orang buta tersebut dapat melihat lagi, dia ditanyai oleh orang-orang Farisi siapakah Dia yang telah memelekkan matanya. Orang buta tersebut menjawab: “Dia adalah seorang nabi”. Orang-orang Farisi berkata bahwa Yesus tidak datang dari Allah karena Yesus menyembuhkan orang buta pada hari Sabat (ay. 16). Kita melihat bagaimana Allah memakai mulut orang yang dianggap hina ketika banyak pemuka agama yang munafik menolak bahwa Yesus datang dari sorga. Wanita Samaria yang menikah berkali-kali juga memberikan pernyataan bahwa Yesus adalah nabi yang akan datang. Apakah tugas seorang nabi? Nabi adalah seorang wakil Tuhan yang menyatakan kebenaran, kehendak Allah, dan menyatakan karya ilahi. Orang buta dalam perikop hari ini tidak terpaku pada kesembuhan fisiknya, tapi dia menyatakan bahwa Yesus adalah sumber Firman. Secara medis, manusia yang buta sejak lahir mustahil dapat sembuh karena seluruh sel matanya sudah rusak. Tapi Tuhanlah pencipta dan pemilik kehidupan. Orang buta bisa dimelekkan oleh Tuhan Yesus, bahkan Lazarus yang sudah mati beberapa hari dibangkitkan oleh Tuhan Yesus.

Ada peristiwa unik pada waktu Yesus menyembuhkan orang buta tersebut. Yesus meludah ke tanah lalu mengoleskannya di kelopak mata orang buta tersebut. Memang tidak jelas mengapa Yesus melakukan hal ini, namun banyak ahli Alkitab menafsirkan bahwa Yesus melakukannya untuk menguji ketaatan orang buta tersebut. Di bagian akhir dari perikop hari ini, orang buta tersebut juga mengakui bahwa Yesus adalah Tuhan. Dia percaya bahwa Yesus adalah Tuhan sehingga dia pun menyembahNya (ay. 38). Pada waktu Tuhan Yesus disembah, Yesus tidak melarang karena memang Yesus adalah Tuhan. Ketika Petrus menyembah Yesus, Yesus juga tidak melarangnya. Namun, berbeda ketika ada orang yang ingin menyembah Rasul Paulus. Rasul Paulus menolak disembah karena dia hanyalah manusia biasa. Orang buta tersebut heran mengapa orang-orang Farisi tidak percaya kepada Yesus padahal Yesuslah yang telah memelekkannya. Orang-orang Farisi merasa terlalu terhormat, terlalu tinggi, sehingga mereka tidak mau bergaul dengan Yesus. Mereka merasa bahwa merekalah pemelihara sejati hukum Taurat Musa, sedangkan Yesus tidak. Mereka merasa begitu rohani, tapi sebenarnya munafik. Kita harus berhati-hati terhadap kesombongan rohani. Apabila kita merasa lebih rohani daripada orang lain, maka kita sama saja dengan orang-orang Farisi. Kesombongan rohani akan membuat kita menolak Firman Tuhan untuk menegur dan mengoreksi kita. Kesombongan rohani akan membuat kita tertutup akan kebenaran dan teguran. Sudahkah kita seperti seorang buta yang walaupun dianggap hina, namun mengakui dan percaya bahwa Yesus adalah Tuhan sehingga kita merendahkan diri menyembahNya? Ataukah kita seperti orang-orang Farisi yang tahu banyak hal-hal rohani namun hidup dalam kemunafikan?