Ringkasan Khotbah

Perikop hari ini merupakan salah satu bagian yang sangat penting dalam kitab Kisah Para Rasul. Seorang yang sangat jahat seperti Paulus (sebelum bertobat: Saulus), dipanggil oleh Allah dalam kasih karunia-Nya. Inilah sebuah bukti bahwa Allah sangat mengasihi manusia bahkan seorang yang sangat jahat sekalipun. Sebelum bertobat, Paulus sangat bersemangat menganiaya jemaat Tuhan dengan sangat kejam. Untuk melegitimasi tindakan kejamnya, Paulus bahkan meminta surat dari Imam Besar untuk membunuh orang-orang Kristen. Namun kasih karunia Allah membawanya kembali kepada Juruselamat sehingga Paulus dipakai menjadi alat bagi kemuliaan-Nya. Seorang penganiaya umat Allah dipilih Allah sebagai “alat” yang melaluinya Allah akan bekerja untuk menyatakan kemurahan hati-Nya bagi orang-orang berdosa. Seorang tokoh Kristen berkata: “Serigala kejam seperti Paulus tidak hanya berubah menjadi seekor domba, tetapi juga mengenakan sifat seorang gembala, karena tangan Tuhan yang indah menunjukkan diri-Nya secara nyata di sana”.

Bagaimana anugerah Allah menyelamatkan Paulus? Tuhan Yesus memanggil Paulus ketika Paulus dalam perjalanan menuju Damsyik dengan semangat berkobar-kobar untuk membunuh anak-anak Tuhan. Berkobar-kobar dalam bahasa Yunani disebut empneo, secara hurufiah berarti bernafas. Artinya, bagi Paulus, membunuh anak-anak Tuhan sudah bagaikan “nafas hidup”. Paulus berasal dari suku Benyamin. Sebelum meninggal, Yakub bernubuat bagi kedua belas anaknya. Untuk Benyamin, Yakub bernubuat: “Benyamin adalah seperti serigala yang menerkam; pada waktu pagi ia memakan mangsanya dan pada waktu petang ia membagi-bagi rampasannya” (Kej 49:27). Nubuat Yakub ini tergenapi di dalam diri dan tindakan Paulus sebelum bertobat. Dimanakah Damsyik? Damsyik merupakan ibukota kerajaan Aram (sekarang Damaskus, ibukota Suriah). Ketika terjadi penganiayaan, banyak orang Kristen melarikan diri ke Damsyik. Dalam perjalanan menuju Damsyik, Paulus melihat cahaya yang lebih terang dari cahaya matahari turun dari langit meliputi Paulus dan teman-teman seperjalanannya. Cahaya ini bukan cahaya biasa, tapi cahaya yang disertai kehadiran Tuhan Yesus dan kuasa-Nya. Paulus sampai terjatuh ketika melihat cahaya tersebut. Kenapa Tuhan Yesus menjatuhkan Paulus? Supaya Paulus akhirnya bisa “memandang ke atas” dan mendengar suara Kristus yang dibencinya dengan kesombongan. Allah melenyapkan segala kebanggaan dan harga diri Paulus sebagai seorang terpandang dalam agama Yahudi. Seandainya Paulus berhasil memasuki Damsyik, banyak orang Kristen akan mati dibunuh. Tapi Allah kita bukanlah Allah yang tidur. Dia tahu bagaimana melindungi anak-anakNya dan Dia tidak akan membiarkan orang jahat semakin merajalela. Allah tidak pernah kehilangan cara untuk melindungi umat-Nya.

Di dalam dunia ini, tidak ada seorang pun yang otonom (berdiri sendiri), termasuk seorang yang paling jahat sekalipun seperti Paulus. Seorang tokoh Kristen berkata: “Tuhan memiliki banyak cara untuk menghentikan dan mempermalukan penganiaya. Dia tidak akan membiarkan gereja-Nya dilukai oleh musuh-musuh-Nya. Dia tidak kekurangan cara untuk menyisihkan jalan orang jahat. Allah bukanlah baal yang tidak dapat mendengar dan melihat. Allah dapat memukul rahang singa yang telah siap memasuki kandang domba-domba-Nya”. Setelah bertemu dengan Tuhan Yesus, Paulus mengalami buta selama beberapa hari. Di dalam kebutaannya, Paulus akhirnya berdoa dan menerima penglihatan dari Allah. Allah terus-menerus berkomunikasi dengan Paulus sampai Paulus sungguh-sungguh memahami intervensi Allah di dalam hidupnya. Ketika Roh Kudus menjamah hati Paulus, Paulus menyadari siapa dirinya yang sangat hina dan siapa Allah yang begitu besar. Hancur hati yang sungguh-sungguh menandakan iman sejati seseorang di hadapan Allah. Paulus menyadari untuk apa dia hidup. Paulus berkata: “Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku” (Gal 2:20).

Bagaimana dengan kita? Apa pencarian hidup kita selama ini? Kita mengaku sebagai orang Kristen, tapi apa yang kita cari: yang bernikai kekal atau hanya yang bersifat sementara? Seorang tokoh lain dalam kisah pertobatan Paulus ini yang memberikan teladan yang indah adalah Ananias. Ketika Allah memanggil Ananias untuk melayani Paulus, Ananias juga bergumul karena harus melayani seorang yang terkenal sangat jahat seperti Paulus. Tetapi Ananias taat dan pergi melayani Paulus. Bagaimana dengan kita? Ketika ketika dipanggil Tuhan untuk mengerjakan sesuatu, apakah kita taat atau kita malah lari dan mencari pembelaan diri? Renungkanlah kisah pertobatan Paulus dan ketaatan Ananias dan mohonlah anugerah Tuhan untuk mengarahkan hidup kita untuk mengutamakan hal-hal bernilai kekal bagi kemuliaan Tuhan.