Ringkasan Khotbah

Pada Firman Tuhan yang akan kita bahas ini ada perbedaan antara teks bahasa Inggris dan bahasa Indonesia seperti ayat 19, 21 yang dalam bahasa Inggrisnya since we have. Penegasan ini tidak muncul dalam bahasa Indonesia dan inilah yang menjadi dasar pengajakan di dalam ayat 23. Penerima surat Ibrani mula-mula tampaknya adalah jemaat berlatar belakang Yahudi yang kebingungan karena mereka dinasihati untuk tetap mengikuti berbagai aturan ibadah PL meskipun sudah percaya kepada Kristus. Kristus hanya dianggap sebagai pelengkap, bukan penggenapan semua bentuk ibadah PL.

Ibrani 10:19-25 dibagi menjadi dua bagain besar yaitu dua dasar (since we have) dalam ayat 19, 21 dan tiga ajakan (marilah kita / let us) dalam ayat 22, 23, 24 bukan 5 ajakan seperti tampak dalam terjemahan Indonesia. Dasar pertama: Karya penebusan Kristus di kayu salib yang menghilangkan pembatas antara Allah dan manusia (ay. 19). Makna peristiwa ini berkaitan dengan Ibrani 10:19-20. Tirai/tabir Bait Allah yang merupakan pembatas antara Ruang Maha Kudus dengan Ruang kudus terkoyak dari atas sampai bawah saat kematian Yesus di kayu salib. Ruang Maha Kudus adalah ruang yang sangat sakral. Hanya Imam Besar yang bisa masuk ke dalamnya. Ketika tirai ini terkoyak menandakan hilangnya pembatas antara Allah dan manusia. Dasar kedua: Yesus Sang Imam Besar mempersembahkan diriNya sebagai persembahan yang sempurna sekali untuk selamanya (ay. 21). Ajakan pertama untuk datang mendekat kepada Allah. Karya Penebusan Kristus yang sempurna, sekali untuk selamanya menjadi dasar untuk kita bisa datang kepada Allah. Sebagian orang terbelenggu oleh rasa bersalah karena dosa masa lalu yg terus menghantui (sudah / belum diselesaikan). Sebagian lain karena dibentuk dlm keluarga / lingkungan yg legalistik (terus dihantui rasa bersalah karena tidak bisa sempurna ikut berbagai aturan). Satu catatan penting dalam bagian ini ditekankan “hati yang murni” yang sudah “dibasuh” oleh darah Kristus. Iman dan pertobatan sebagai respon atas anugerah Allah adalah 2 hal yang tidak terpisahkan. Hal ini dilambangkan / dimeteraikan dengan baptisan yang bukan hanya tubuh saja tapi juga hati. Dengan demikian kita berani datang kepada Allah dengan iman dan pertobatan (hati yg murni) karena darah Kristus sudah dicurahkan untuk membasuh dosa-dosa kita. Ajakan kedua untuk setia dalam mengikut Kristus. Marilah kita teguh berpegang pada pengakuan tentang pengharapan kita yaitu pengharapan eskatalogis akan pemulihan yang sempurna atas umat manusia dan seisi dunia seperti yg dinyatakan dalam Kitab Suci. Datang mengaku percaya kepada Kristus adalah keputusan penting, tapi itu baru awal perjalanan yang panjang perlu kesetiaan (Pilgrim progress) dan banyak tantangan seperti keras kepala, patah semangat, dipermalukan dsb. Tetapi mari kita teguh berpegang pada pengharapan kita karena penebusan Kristus sempurna dan lebih berharga dari segala sesuatu. Ajakan ketiga untuk saling mendorong dengan saudara-saudara seiman. Spur adalah tongkat bambu berujung runcing yg digunakan oleh penunggang kuda utk memacu kudanya. Spur / stir up artinya saling memacu / mendorong dengan nasihat verbal, koreksi, teladan, program, kegiatan. Cara-cara yang positif seringkali lebih efektif dibanding kritik atau perintah. Bagaimana kita bisa saling mendorong yaitu dengan pertemuan ibadah (Kis. 2:41-47) yang menegaskan kita akan identitas diri kita sebagai orang Kristen dan bukan hanya pertemuan fisik dan ritual ibadah tapi ada relasi yang berkembang untuk saling mendorong secara positif dalam kelompok kecil, PA yang memungkinkan relasi bisa berkembang. Relasi yang kita butuhkan adalah connection yang lebih mendalam dan dua arah bukan sekedar contact yang satu arah.

Orang bisa bertumbuh dengan Komunitas Iman sebagai “Matriks Transformasi” yaitu rhetoric (pengajaran Firman, lewat lagu pujian), relationship (relasi yang memberdayakan dengan adanya mentor, model), ritual (ibadah formal maupun informal), roles (pelayanan aktif lewat pelayanan).

Gambaran kehidupan berjemaat seperti larutan buffer yang merupakan support system untuk kita saling menopang menghadapi fluktuasi dalam perjalanan hidup masing-masing, perjalanan hidup mengikut Kristus dan panggilan untuk berbagi hidup dimana tiap anggota tubuh memiliki karunia berbeda tetapi setiap jemaat berkontribusi sesuai dengan peran dan karunia / talenta masing-masing.