Ringkasan Khotbah

Dalam masing-masing gereja atau sinode, ada masing-masing cara untuk mengangkat gembala gereja. Secara garis besar, berdasarkan sistem organisasi, ada tiga cara:

  1. Sistem episkopal, dimana para petinggi gereja diberi wewenang untuk mengangkat gembala. Sistem ini biasanya dianut oleh gereja-gereja Katolik, Episkopal, dan Pentakosta.
  2. Sistem kongregasional, dimana jemaat diberikan hak untuk menentukan gembala gereja lokal. Sistem ini biasanya dianut oleh gereja-gereja Methodist.
  3. Sistem sinode, dimana para petinggi gereja bersama-sama dengan perwakilan jemaat menentukan gembala gereja. Sistem ini biasanya dianut oleh gereja-gereja Presbiterian dan Lutheran.

Terlepas dari sistem apapun yang dianut oleh sebuah gereja, kita harus menyadari bahwa pada intinya, Allah-lah yang memanggil hamba-Nya untuk melayani-Nya. Dengan demikian, dalam mengangkat gembala gereja, walaupun ada sistem-sistem yang berbeda, kehendak Allah-lah yang harus dijalankan dan diutamakan. Kita dapat belajar dari teladan Tuhan Yesus ketika memilih dan memanggil para murid. Tuhan Yesus berdoa semalam-malaman dalam rangka mengutamakan kehendak Allah mengenai siapa saja para murid yang akan dipanggil tersebut (Lukas 6:12-16). Tuhan Yesus sebagai Kepala Gereja, Dia sendirilah yang memanggil dan mengangkat hamba-Nya, termasuk para gembala yang melayani di gereja-gereja. Memang gereja berada di dunia, namun gereja berbeda dengan organisasi dunia. Segala aturan yang harus diikuti oleh gereja adalah aturan yang bersifat sorgawi, yang didasarkan pada kebenaran Firman Allah.

Seperti tertulis dalam Yehezkiel 34:15-16, Tuhan adalah Sang Gembala kita. Sebagai wakil Tuhan di gereja, kita mempunyai para hamba-Nya sebagai gembala. Tuhan sendiri mengibaratkan diri-Nya sebagai Gembala. Kita sebagai anggota gereja adalah kawanan domba milik Allah yang membutuhkan Sang Gembala Agung. Allah menempatkan wakilnya di gereja, para hamba-Nya, sebagai gembala yang menggembalakan jemaat-Nya. Gembala mencari domba yang hilang, membawa pulang yang tersesat, menyembuhkan yang sakit, menguatkan yang lemah, menghibur yang sedih, melindungi yang kuat. Dari Kisah Para Rasul 6:4, kita dapat belajar bahwa gembala membangun jemaat dengan memfokuskan diri melalui dua sarana utama, yaitu melalui doa dan pelayanan Firman. Rasul Paulus menekankan betapa pentingnya doa dan pelayanan Firman ini dalam Efesus 6:18-20.

Kita diselamatkan oleh Allah bukan karena kekuatan atau perbuatan kita, tapi semata-mata karena kasih karunia Allah. Kita sudah dipilih dan dipanggil sebelum dunia dijadikan. Keberadaan kita di gereja ini adalah berdasarkan hikmat Allah sendiri (Efesus 2:1-10). Akan tetapi, walaupun kita adalah orang-orang pilihan, ada satu pribadi yang senantiasa menyerang kita dan berusaha menjatuhkan kita dan memisahkan kita dari Tuhan, yaitu Iblis. Sebagai kumpulan orang-orang kudus, kita dapat saling menguatkan dengan saling mendoakan satu sama lain. Ketika masih melayani di sebuah gereja di Urawa, salah satu teladan yang begitu baik dari Pdt. Atsumi adalah ketekunan Pdt. Atsumi dalam mendoakan jemaat satu per satu yang memang pada saat itu jumlahnya tidak begitu besar. Inilah salah satu tugas utama seorang gembala gereja, yaitu berdoa. Pdt. Atsumi juga didukung dalam doa oleh jemaat, terutama oleh seorang ibu yang berusia lanjut. Doa dan perhatian ibu tersebut menjadi sumber sukacita dan kekuatan bagi Pdt. Atsumi. Kita berharap agar gembala gereja kita mendoakan kita, namun kita juga harus mengingat untuk mendoakan gembala kita (ingat bagaimana Rasul Paulus meminta kepada jemaat Efesus untuk mendoakan Paulus). Tugas utama gembala gereja yang lain adalah melayani Firman. Sebuah penelitian menyebutkan bahwa berkotbah lebih sulit daripada berpidato biasa. Berkotbah membutuhkan persiapan yang jauh lebih serius karena sifatnya yang merupakan peperangan rohani dan bertujuan lebih dari sekedar menambah wawasan mereka yang mendengarkan, yaitu untuk membangun kerohanian mereka. Dalam 2 Timotius 4:1-2, Paulus memberikan nasehat kepada gembala muda, Timotius, untuk membangun jemaat melalui pelayanan Firman.

Marilah kita mengingat bahwa Tuhan sendirilah yang mengangkat dan menetapkan gembala gereja untuk menggembalakan jemaat. Sebagai jemaat, kita juga dipanggil untuk saling menguatkan dan membangun dengan gembala gereja kita.