Kumpulan Khotbah

28 Oktober 2018

Lebih Banyak Berbuah

(Yohanes 15:1-8)

Khotbah Minggu ini mengingatkan kita akan relasi jemaat Kristen dan Tuhan Yesus, dengan memakai kebun pohon anggur di tengah padang gurun sebagai perumpamaannya.

Bacaan hari ini menekankan, bahwa kita adalah ranting-ranting dari pokok anggur yang benar, yaitu Yesus. Ini adalah bagian dari pengajaran terakhir dari Yesus kepada murid-muridnya sebelum memasuki masa penderitaan.

Jemaat Kristus, sebagai ranting-ranting diharapkan dapat menghasilkan buah. Kata buah di dalam Alkitab banyak digunakan sebagai kiasan yang melambangkan hasil dari pekerjaan. Sedangkan kebun anggur biasa melukiskan umat pilihan Tuhan. Di zaman PL, ini menunjuk kepada bangsa Israel. Melalui PB, ini menunjuk kepada seluruh umat yang percaya dan menerima Injil dan Yesus. Kata padang gurun disini merujuk kepada dunia dan seluruh manusia yang masih hidup dalam dosa.

21 Oktober 2018

Pengampunan yang Mulia

(Mazmur 32)

Berkat pengampunan Allah adalah sukacita sejati, berkat dan pengampunan Tuhan diberikan bukan karena seseorang itu layak dan bukan hasil usaha seseorang, tetapi itu adalah kasih karunia Tuhan. Sukacita ada pada orang berdosa karena Tuhan telah mengampuni dia, Allah mengampuni pelanggaran, pemberontakan terhadap otoritas Allah yang sah dan Allah tidak lagi memperhitungkan kesalahan, Dia mengampuni dosa kita. Dalam Imamat 16:10, mengacu kepada bangsa Israel yang melakukan pelanggaran, kambing jantan yang dikorbankan melambangkan kematian Yesus Kristus sebagai korban pengganti orang berdosa yang harus dihukum karena dosa-dosa mereka. Akuilah secara jujur dosa kita dihadapan-Nya, ketika kita mengakui dosa tersebut, maka Tuhan akan mengampuni kita. Sebagai orang yang telah lahir baru, kita bahagia karena diampuni.

14 Oktober 2018

Berbalik kepada Allah yang Hidup

(Kisah Para Rasul 14:8-20)

Penginjilan Paulus di Listra tertuju kepada: Orang Lumpuh Pada ayat 8-10 disebutkan bahwa orang lumpuh tersebut kakinya lemah dan belum pernah berjalan, ia lumpuh dari lahir. Namun demikian, orang lumpuh tersebut dengan seksama mendengarkan ketika Paulus berkotbah. Perlu menjadi catatan disini, bahwa saat itu Paulus sedang berada di tengah kota. Sedangkan tempat penyembahan dewa zeus […]

7 Oktober 2018

Panggilan untuk Bertumbuh dalam Komunitas Iman

(Ibrani 10:19-25)

Pada Firman Tuhan yang akan kita bahas ini ada perbedaan antara teks bahasa Inggris dan bahasa Indonesia seperti ayat 19, 21 yang dalam bahasa Inggrisnya since we have. Penegasan ini tidak muncul dalam bahasa Indonesia dan inilah yang menjadi dasar pengajakan di dalam ayat 23. Penerima surat Ibrani mula-mula tampaknya adalah jemaat berlatar belakang Yahudi yang kebingungan karena mereka dinasihati untuk tetap mengikuti berbagai aturan ibadah PL meskipun sudah percaya kepada Kristus. Kristus hanya dianggap sebagai pelengkap, bukan penggenapan semua bentuk ibadah PL

30 September 2018

Setia Memberitakan Injil

(Kisah Para Rasul 13:50-14:7)

Dalam hidup mengiring Tuhan, perlu kesetiaan. Pasal yang akan kita renungkan hari ini begitu kaya dengan teladan kesetiaan hidup anak-anak Tuhan. Paulus dan Barnabas menunjukkan prinsip hidup melayani Tuhan di tengah-tengah kesulitan. Paulus menekankan mengenai betapa pentingnya pengakuan yang jujur akan keberdosaan manusia yang sangat mengerikan, manusia yang memberontak Allah. Manusia tidak bisa menyelesaikan masalah dosa. Satu-satunya yang bisa menyelesaikan masalah dosa adalah Allah sendiri. Itulah pentingnya berita Injil. Hanya Allah yang bisa mengubah hati manusia. Hanya Allah yang bisa mengubah hati yang memberontak kepada Allah menjadi hati yang mengasihi Allah. Seorang misionaris ke India bernama Donald McGavran berkata: “Penginjilan bukanlah memberitakan kerinduan akan sebuah dunia tanpa minuman keras atau membagi kekayaan dan membujuk orang untuk mengambil tindakan politik untuk mencapainya. Penginjilan adalah deklarasi Injil kepada setiap orang secara pribadi. Masyarakat ditantang dan diubahkan ketika melalui Injil, Tuhan membawa orang-orang secara pribadi berkumpul bersama di gereja, untuk memperlihatkan karakterNya dalam interaksi orang-orang yang telah diselamatkan”. Di dalam gereja, anak-anak Tuhan memancarkan karakter Kristus. Jadi di dalam gereja seharusnya tidak ada kebencian dan permusuhan karena setiap orang hidup di dalam kasih. Setiap orang sungguh-sungguh berjuang menyenangkan hati Allah Bapa karena meneladani Kristus.

23 September 2018

Hidup Sesuai dengan Kabar Sukacita

(Filipi 1: 27-30)

Zaman sekarang adalah zaman humanis dan atoposentris dimana manusia berfokus pada dirinya sendiri serta bangga hidup mandiri tanpa Tuhan sehingga merasa tidak butuh Tuhan bahkan menjadikan diri sebagai Tuhan. Segala sesuatu yang tidak sesuai, ditolak. Bagaimanakah respons kita yang hidup di tengah zaman ini? Apakah hidup kita sesuai dengan kabar sukacita, dan mencerminkan identitas seorang kristen yang sejati yang telah menerima anugerah kesalamatan dari Kristus? Ada 3 pokok yang dapat kita pelajari sehubungan dengan tema khotbah hari ini: ❶ Hidup Berpadanan Injil, hidup berpadanan dengan injil adalah inti dari ayat 27-30. Berpadanan dalam bahasa Yunani axios artinya layak (worthy). Maka sebagai orang yang telah menerima Injil atau dilahirbarukan maka hidup kita harus menghidupi Injil sehingga hidup kita berbeda dengan orang yang belum menerima kabar sukacita tersebut, dan orang-orang dapat membaca Injil dari sikap hidup dan karakter kita. Kata hidup dalam bahasa Yunani, politeomai artinya adalah pola hidup yang sesuai dengan susunan atau tatanan tertentu, biasa digunakan merujuk pada kehidupan seorang warga negara dalam keikutsertaannya dalam pemerintahan dalam segala peraturan dan kebajikan yang perlu diperbuat. Sebagaimana gaya hidup warga romawi berbeda dengan seorang budak maka kita harus hidup sesuai status kita sebagai orang yang telah ditebus dan menerima Injil sehingga memberi dampak pada orang di sekeliling kita. Kita tidak boleh puas hanya dengan status sebagai orang kristen, tiap minggu ke gereja dan sebagainya, namun tidak memberi dampak baik pada orang sekitar kita dalam kehidupan sehari-hari melalui Injil yang kita dengar dan renungkan. ❷ Hidup Beriman kepada Kristus, iman bukanlah slogan semata namun seperti yang diingatkan Paulus, kita perlu teguh berdiri dalam satu roh, dan sehati sejiwa berjuang untuk iman yang timbul dari berita Injil. Kita perlu merenungkan Firman itu hari lepas hari karena iman tumbuh dari pendengaran dan perenungan Firman. Kita perlu rindu dan bergairah untuk lebih mengenal Kristus sebagaimana layaknya orang yang sudah dilahirbarukan, orang yang percaya dan beriman. Hidup beriman kepada Kristus bukan hanya di awal saja saat kita menyatakan iman kita tersebut melainkan terus menerus berjuang hidup dalam berita sukacita dan menyaksikannya dalam kehidupan sehari-hari. Walau sulit sekalipun tapi kita harus mempertanggungjawabkan tentang iman kita kepada orang sekitar melalui sikap hidup kita. Firman yang kita dengar merubah sikap kita dan itulah yang perlu kita aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari sehingga orang dapat merasakan atau melihatnya.

16 September 2018

Pertolongan Tuhan

(Yohanes 5:5-9)

Tuhan tahu di mana kita membutuhkan pertolonganNya. Di ayat 6, kalimat yang perlu kita perhatikan adalah “karena Ia tahu”. Di tengah-tengah tidak ada seorang pun yang  peduli kepada orang ini selama 38 tahun, di saat tiap-tiap orang sibuk dengan kepentingannya, Tuhan peduli. Salah satu yang membuat saya bangga pada Tuhan Yesus, adalah karena Dia merasakan apa yang kita rasakan. Tuhan mengetahui tekanan, jalan buntu yang kita hadapi. Kitab ibrani mengatakan Imam Besar yang kita miliki adalah yang ikut merasakan. Dan bukan hanya tahu dan merasakan, tapi juga turun tangan. Tuhan kita bukan Tuhan yang berpangku tangan. Bukan hanya menonton, melihat. Tetapi Dia datang menghampiri dan memberi pertolongan. Sehingga saat kita menghadapi saat-saat yang sulit, adakalanya kita harus melewati pergumulan, penderitaan. Tapi Allah tidak akan pernah meninggalkan. Jangan pernah ada pikiran sepertinya Tuhan tidak peduli, Tuhan masa bodoh.

9 September 2018

Tetap Hidup dalam Kasih Karunia Allah

(Kisah Para Rasul 13:40-49)

Dalam tema hari ini, kita perlu tahu penekanan dari kata “tetap” (Yun=Prosmeno) yang berarti melekat pada/bersatu dengan nada keintiman. Ini dimaksudkan kepada orang-orang Kristen yang telah melekat dan memiliki relasi yang baik dengan Injil kasih karunia yang telah diperdengarkan kepada mereka. Dalam menghadapi masalah, mereka tidak mudah terganggu dan dapat terus bertahan dalam kasih karunia. Dalam ay. 38-39, Paulus dengan lantang berkhotbah menyampaikan kabar baik serta nasihat, antara lain:

Waspadalah (ay. 40), Paulus mengingatkan kepada mereka tentang natur agama, karena melalui pengajaran Taurat mereka diajarkan bagaimana mencapai surga. Kata waspada ditulis dalam 4 kata: ❶ Nepho: penguasaan diri, menahan/menjaga diri; tidak mabuk. (1 Ptr. 1:18). ❷ Phulasso: menjaga, mengawal, menuruti. ❸ Prosecho: memperhatikan dengan baik-baik (Mat. 7:15; 16:6), hal ini disampaikan Yesus kepada orang-orang Farisi. ❹ Blepho, menekankan tentang cara pandang terhadap setiap hal. Dalam segala sesuatu, kita harus mengutamakan cara pandang Allah. Seluruh arti tersebut dimaksudkan untuk membawa kita mengenal kehendak Allah yang sebenarnya. Ay. 41 ini dikutip dari Hab. 1:5 tentang kehancuran bangsa Yahudi oleh orang Kasdim karena mereka menolak Firman Tuhan. Tercengang dalam ayat ini berarti pucat karena malu dan takut. Melalui Firman-Nya, Allah terus-menerus memberikan kesempatan untuk menghindarkan diri dari penghukuman Allah, dengan memiliki kerajinan serta kesungguhan rohani, dan hati yang berkobar bagi Kristus. Alasan kita harus waspada adalah (a) Murka Allah bagi yang tidak percaya; (b) Perlawanan dari orang-orang yang tidak beriman (ay. 46). Dalam ay. 45, muncul orang-orang yang iri hati dan menghujat kebenaran. Kata “iri hati” (Yun=Zeos), artinya berapi-api/mendidih. Hati yang penuh iri hati adalah hati yang tidak dikendalikan oleh Tuhan, maka kewaspadaan sangat erat hubungannya dengan keseriusan terhadap kebenaran Firman Tuhan yang kita dengarkan.

2 September 2018

Kekuatan Dosa dan Kemenangan

(2 Samuel 12:1-13)

Hal yang menghalangi kita untuk lebih dekat dengan Tuhan dan mengerti akan FirmanNya adalah dosa. Kita harus mengerti sungguh-sungguh arti dari dosa itu sendiri. Melalui pengalaman Daud, kita dapat mempelajari secara kongkrit dan jujur apa hakekat sebuah dosa dan akibatnya bagi kehidupan umat manusia.
Dosa Daud yang dijelaskan dalam 2 Samuel 12 mengajarkan kita akan kekuatan dosa yang mampu menguasai manusia, siapapun, tidak terkecuali orang-orang yang memiliki perjalanan iman yang luar biasa bersama dengan Tuhan. Demikian juga Daud, seorang yang hebat dan memiliki iman yang sangat kuat seperti yang tertulis dalam kitab perjanjian lama. Contoh pertama dapat kita lihat melalui kisahnya saat melawan Goliat. Dengan semangat rohani dan imannya yang begitu kuat kepada Tuhan, ia mampu mengalahkan Goliat. Daud sangatlah dihormati dan disukai oleh siapapun, sehingga Ia disebut sebagai orang yang terhormat dalam sejarah bangsa Israel. Contoh kedua adalah ketika Daud mengundang makan dan mengangkat seorang anak dari musuhnya, Saul. Bahkan Ia berkabung untuk kematian Saul pada saat itu. Daud adalah orang yang sangat baik dan mengasihi Allah dan manusia.
Namun demikian, Daud juga jatuh kedalam dosa. Tuhan mengingatkan dosa-dosa yang diperbuat Daud ini melalui Natan. Natan memberikan perumpamaan mengenai seorang yang kaya yang mendapat tamu dan mengambil anak domba betina kepunyaan si miskin untuk dihidangkan karena si kaya begitu merasa sayang mengambil lembunya sendiri. Meski sudah diperingatkan melalui cerita perumpamaan itu, Daud masih tidak menyadarinya, dan ia begitu marah. Namun demikian, setelah Natan menjabarkan arti dari cerita tersebut, bahwa itulah dia, Daud barulah menyadari dosanya. Dari sini kita dapat belajar bahwa benar dosa mampu menguasai siapapun. Kekuatan dosa jauh lebih kuat dibandingkan dengan kekuatan hebat manusia. Dalam diri umat manusia ada unsur-unsur yang mampu mendatangkan dosa, hawa nafsu, dll. Tidak ada satu orangpun yang begitu taat dan tidak berbuat dosa, bahkan Daud sekalipun.

26 Agustus 2018

Jemaat Teguh dan Setia

(Ibrani 10:22:-25)

Gereja apabila diandaikan sebagai bangunan, Kristus adalah fondasi yang penting. Sehingga gereja yang kehilangan Kristus adalah gereja yang mati dan runtuh. Kita menjadi jemaat bukan karena pilihan kita tetapi dipilih oleh Kristus.

Pada saat penulisan surat Ibrani ini, terjadi penganiayaan jemaat di daerah Ibrani, dan masih banyak orang yang kuat dalam Yudaisme. Surat ini ditujukan untuk menguatkan hati para jemaat.

Page 3 of 45