Kumpulan Khotbah

6 Januari 2019

Cinta akan Rumah-Mu Menghanguskan Aku

(Yohanes 2:13-25)

Pada zaman dahulu di Israel, bait Allah adalah tempat yang sangat sakral. Bait Allah merupakan identitas bangsa Yahudi pada masa itu. Dalam Keluaran 23:26 disebutkan bahwa: “tetapi janganlah orang menghadap kehadirat-Ku dengan tangan hampa”; pada masa itu sangatlah ketat bahwa untuk menghadap Allah dalam bait-Nya saja membutuhkan pengorbanan mahal dengan membawa persembahan. Bagaimanakah dengan kita yang dengan mudah sebenarnya untuk datang ke bait Allah?!
Yesus sendiri sangat tidak senang dan dengan tegas dapat mengusir orang yang menajiskan bait Allah. Melihat dalam pembahasan ayat alkitab minggu ini, Yesus sangatlah marah karena melihat bait Allah yang dijadikan sarang penyamun, di mana harga barang di bait Allah menjadi sangat mahal, para Imam menolak binatang yang tidak dibeli di bait Allah, selain itu adanya juga sistem penukaran uang yang dapat digunakan untuk bertransaksi juga memerlukan ongkos. Mereka berlindung dibalik kesakralan bait Allah demi keuntungan mereka sendiri. Untuk itu Yesus ingin memusnahkannya dan kembali menyucikannya. Dalam ayat 17 Yesus mengatakan, “Cinta untuk rumah-Mu menghanguskan Aku”. Kata “cinta” di sini berasal dari kata Zelos yang berarti cinta yang seperti air mendidih, cinta yang membakar amarah. Sedangkan “menghanguskan” di sini berarti menghanguskan sampai tidak menyisakan.
Lalu bagaimanakah respon orang-orang pada masa itu terhadap Yesus? “Tanda apa yang Kau tunjukkan?”. Mereka merasa berkuasa atas bait Allah, mereka meminta tanda bahwa Yesus layak dipercaya dan didengar. Namun di sini Yesus justru menjawab: rombaklah bait Allah dan akan Kubangun dalam 3 hari. Hal ini berbicara bukan tentang bangunan fisik, namun mengenai diri manusia, bahwa kerusakan yang telah terjadi hanya bisa diperbaharui melalui kematian dan kebangkitan Yesus.

30 Desember 2018

Tetaplah Berdoa

(Matius 6:5-13)

Kita telah tiba di penghujung tahun 2018. Dalam hitungan hari kita akan memasuki tahun yg baru. Pada saat ini kita mengambil sedikit waktu untuk merenungkan dan melihat kembali perjalanan kita selama setahun ini. Tema GIII tahun ini adalah kesetiaan. Sudahkah kita setia dalam persekutuan kita dengan Tuhan selama setahun ini? Sudahkah kita terus setia dalam berdoa, membaca Firman Tuhan, dan bersaat teduh dalam setahun ini?
Marthin Luther pernah berkata bahwa, pekerjaan seorang penjahit adalah membuat pakaian, pembuat sepatu adalah membuat sepatu, dan orang Kristen adalah berdoa; doa merupakan satu bagian yg tidak dapat dipisahkan dalam hidup seorang Kristen.
Bacaan Firman Tuhan hari ini mengisahkan bagian dari khotbah Yesus di bukit, tentang hal berdoa. Yesus mengingatkan murid-murid-Nya sekaligus para pendengar bahwa mereka harus waspada terhadap: ① perilaku buruk orang Farisi dan ahli Taurat. Mereka adalah orang-orang yang seharusnya memahami Taurat, akan tetapi pemahaman itu tidak nampak dalam perbuatan dan hidup mereka, ② kemunafikan, dalam hal memberi sedekah (ay. 1-4), dalam berdoa (ay. 5-8), isi doa (ay. 9-13), mengampuni dalam doa (ay. 14-15), dalam berpuasa (ay. 16-18), ③ pikiran duniawi.
Doa merupakan bentuk permintaan/permohonan kita kepada Allah Bapa di Sorga. Oleh karena itu, kita sebagai pihak pemohon tidak memiliki otoritas apa pun dalam terwujudnya permintaan kita; itu semua bergantung kepada Sang Pemberi. Doa juga harus menjadi kerinduan diri kita sendiri, tidak boleh disuruh atau dipaksa oleh orang lain. Melalui doa, kita dapat membangun relasi yang tepat dengan Allah (ay. 9b). Kita beruntung sebagai orang Kristen karena kita memiliki Allah yang dekat, yang mau memiliki relasi pribadi dengan kita. Pada zaman PL, hanya orang-orang tertentu (para nabi) yang dapat berbicara secara pribadi dengan Allah, tidak semua orang pilihan-Nya (bangsa Israel) dapat datang ke hadirat-Nya apalagi berbicara kepada Allah. Melalui pengorbanan Tuhan Yesus, kita semua dikaruniakan kesempatan dan hak yg sama dengan para imam dan nabi PL, yaitu untuk datang ke hadirat Allah dan bersekutu dengan-Nya secara pribadi. Allah ingin agar kita dapat membangun relasi yang tepat dengan-Nya, dan salah satu cara untuk mewujudkannya adalah melalui berdoa. Doa juga merupakan wujud penyandaran diri kita kepada Tuhan. Kita sadar akan keterbatasan kita sebagai manusia, sehingga kita menyerahkan seluruh hidup kita kepada Tuhan agar hidup kita dipimpin olehNya.

23 Desember 2018

Kristus Raja yang Kekal

(Lukas 1:26-33)

Kita sudah memasuki minggu Advent ke-3 dalam kalender gereja, Natal sudah dekat. Advent adalah masa penantian/peringatan kelahiran Mesias.
Tema kita adalah Kristus Raja yang Kekal. Ini adalah tema yang sangat penting, mengapa Sang Raja datang ke dunia dalam segala kerendahan dan kehinaan. Berarti ada hal yang penting yang harus diketahui manusia. Siapa yang bisa membawa manusia ke dalam kekekalan. Yang lahir dalam kandang domba adalah Sang Raja. Ia rela mengerjakan yang paling rendah, dihina, diejek, bahkan disalibkan demi menjalankan kehendak Bapa di dalam dunia (Fil. 2:9-11) yaitu orang-orang berdosa diselamatkan. Inilah Raja yang telah merendahkan diri dan pada akhirnya ditinggikan di atas segala sesuatu. Dia menyatakan segala kehendak Bapa, kehormatan Bapa. Tujuan kedatangan Kristus yaitu, bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani (Markus 10:45), bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa supaya mereka bertobat (Lukas 5:32), untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang (Lukas 19:10), supaya mereka mempunyai hidup (Yoh. 10:10b). Kata hidup yang dipakai disini adalah zoke yaitu hidup yang kekal. ❶ Raja yang datang dalam kerendahan. a) Datang di tempat yang terpencil (ay. 26), dua tempat yang disebut yaitu Galilea dan Nazaret, kota terpencil, tidak terkenal. Sehingga banyak orang yang meragukan bagaimana mungkin Yesus Tuhan (Yoh. 1:46; Yoh. 7:11). Konsep manusia bahwa orang hebat bukan lahir di kota kecil/pelosok. Yesus datang bukan untuk memuaskan mata dan perasaan manusia, konsep dunia pada zaman itu. Tetapi bagaimana semua dapat digenapkan dalam Firman Allah. Dia Raja tapi menyatakan segala kehendak Allah meskipun dalam kehinaan. b) Datang melalui seorang wanita yang masih perawan (ay. 27), ini merupakan penggenapan dari Yesaya 7:14. Bagi orang Israel, Maria bukan orang terpandang. Berbeda dengan ketika Yohanes yang lahir, Bapanya Zakaria adalah Imam dan lahir di Yerusalem. Tetapi mereka menolak Yohanes. Karena itu Tuhan tidak ingin menyenangkan manusia tetapi mengutamakan kehendak Bapa. ❷ Ia memerintah sebagai Raja (ay.31-33), dunia sudah jatuh ke dalam dosa mengakibatkan duka dan penderitaan. Seorang reformator gereja berkata: betapa sengsaranya kita tanpa rahmat Allah. Maka Yesus sebagai Raja Kekal menyatakan inilah jalan kekal. Yesus sebagai puncak Rahmat Allah (Mat. 11:1). Raja Kehidupan telah mengunjungi kita. Sudahkah kita merajakan Kristus dalam kehidupan kita? Kalau belum jadikanlah Yesus sebagai Raja baik dalam pekerjaan, keluarga, pelayanan, gereja.

16 Desember 2018

Menantikan Juruselamat

(Filipi 3:7-14, 20-21)

Kita sudah memasuki minggu Advent ke-3 dalam kalender gereja, Natal sudah dekat. Advent adalah masa penantian/peringatan kelahiran Mesias.

Bacaan hari ini adalah kesaksian dari rasul Paulus yang dapat kita jadikan sebagai contoh dan teladan bagi kita dalam menantikan kedatangan Kristus yang kedua kalinya. Kedatangan Kristus yang pertama merupakan awal dari karya keselamatan-Nya. Dengan kedatangan Kristus yang pertama kita memperoleh pembenaran menjadi orang Kristen.

Teladan sikap orang Kristen dalam menantikan kedatangan sang Juruselamat, seperti yang dapat kita petik dari rasul Paulus adalah,

❶ Membuang hidup yang lama / manusia yang lama (ay. 8)

Pertemuan Paulus dengan Kristus, mengubahkan hati Paulus sehingga ia menganggap seluruh hidupnya yang lama, semua yang dianggap dunia adalah kebanggaan, dianggapnya sampah. Kata sampah disini dapat juga diartikan sebagai kotoran, melambangkan sesuatu yang sudah sepantasnya dibuang. Paulus mengakui, sebelum ia mengenal Kristus hidupnya terasa hampa, walaupun di mata dunia hidupnya tergolong sukses.

❷ Mempersatukan / mendekatkan diri dengan Kristus (ay. 10-12)

Kita dipersatukan dalam penderitaan, kematian dan kuasa kebangkitan Kristus. Sebelum kita bertobat, kita hidup dalam dosa (kematian), setelah pertobatan kita dibenarkan (kebangkitan). Walaupun begitu, selama kita hidup di dunia, kita tidak akan menjadi sempurna; kita berada di dalam proses untuk menjadi sempurna. Paulus pun dalam aktivitas dan kerasulannya, ia masih menyadari bahwa dirinya belum sempurna (ay. 12). Paulus juga menyadari bahwa pertobatannya adalah anugerah dari Tuhan, oleh karena itu ia dapat menerima dan melepaskan diri dari masa lalunya.

9 Desember 2018