Posted by Yanes Dewangga

Surat Petrus pada bacaan kita kali ini ditujukan pada jemaat di Asia Kecil, yang adalah perantau. Keadaan mereka mirip dengan keadaan kita di Jepang; hidup di antara orang yang belum percaya. Kepada jemaat ini, Petrus memberikan 3 nasihat.

Tinggalkanlah manusia lama (ay. 1) Banyak sekali godaan-godaan yang dapat menjebak dan melemahkan rohani kita di saat kita hidup di tengah-tengah orang yang tidak percaya. Apabila kita masih menyimpann manusia lama kita, kita akan dengan mudahnya jatuh ke dalam godaan itu. Oleh sebabnya Petrus mengajarkan agar kita membuang manusia lama kita. Kata buanglah, diartikan menyingkirkan dengan kemarahan, jangan pernah memakainya lagi. Petrus dengan keras mengingatkan kita agar kita dapat terhindar dari jebakan dosa. Kata dosa yang dipakai disini juga mengarah kepada dosa yang abstrak, perbuatan-perbuatan tidak berkenan yang sering kali dianggap remeh, seperti berbohong, iri hati, dsb. Orang Kristen mudah sekali terjebak dalam kemunafikan. Kita haruslah hidup dengan terbuka dan otentik di hadapan Tuhan, lebih baik menunjukan kekurangan kita dan meminta bantuan untuk menanggulanginya daripada menyembunyikannya.

Bertumbuhlah dalam Firman Tuhan (ay. 2-3) Petrus menasihati agar kita selalu ingin/rindu (Yn. epipotheo) akan Firman Tuhan, sama seperti bayi yang menginginkan susu yang murni dan rohani (Yn. logikos). Dengan terus mendekatkan diri kepada Firman Tuhan, kita dapat menunjukan kasih kita kepada Tuhan.

Memberi diri kepada Tuhan dan pekerjaan-Nya (ay. 4-5) Pekerjaan Tuhan di dunia itu terdiri dari banyak hal, akan tetapi disini kita memusatkan pandanga kita kepada misi penginjilan. Datanglah terus kepada Yesus; kita yang adalah bagian dari keluarga Allah dan Bait Allah yang rohani (Yn. oikos) harus terus berada dalam persekutuan dengan Yesus, batu yang hidup. Bait Allah rohani jauh lebih mulia dibanding bait Allah Yahudi, karena dibangun di atas Batu Hidup. Menjadi bagian dari keluarga/rumah rohani berarti setiap orang percaya harus berada dalam persekutuan dengan orang percaya lainnya, ambil bagian dalam pelayanan, serta menjadi rumah doa bagi Tuhan. Kita harus peka terhadap orang di sekitar kita dan juga mendoakan mereka, karena mereka belum mampu berdoa sendiri.

Dengan menjadi rumah doa, kita menjalankan fungsi kita sebagai imamat yang kudus bagi Tuhan. Kita sebagai orang percaya diberkati Tuhan untuk melayani Tuhan dan sesama kita. Pada zaman PL, orang pilihan itu merujuk kepada bangsa Israel, tetapi di zaman PB kita juga menjadi orang pilihan melalui Yesus. Sebagai perwakilan orang lain di hadapan Tuhan, kita harus mempersembahkan korban rohani, yaitu doa (Mzm. 141:2), syukur (Mzm. 50:14,23, Ibr. 13:15), sedekah (Ibr. 13:16), diri sendiri (Rm. 12:1), dan permebahan untuk orang-orang kudus (Flp. 4:18). Melalui Imam Besar yang Agung, seluruh pelayanan kita dilayakan. Oleh karena itu, kita hendaknya selalu datang kepada Allah melalui Yesus, menjaga kekudusan hidup, mempersembahkan persembahan rohani, serta bersyafaat dan saling mendoakan sesama. Marilah kita memiliki hati yang mau menjangkau orang-orang yang belum percaya; jangan takut oleh penderitaan karena menderita bagi Kristus adalah kasih karunia.