Ringkasan Khotbah

Mungkin sekarang banyak yang bertanya kenapa orang Kristen yang sungguh hidup baik pun tak lepas dari penderitaan. Dan mungkin bertanya juga, saat orang kudus menderita, di mana Tuhan. Iman sejati teruji di tengah penderitaan. Stefanus menceritakan bahwa orang kepunyaan Allah juga menderita, bahkan Yesus sekalipun tak luput dari penderitaan.

Ada 4 makna dari penderitaan yang kita hadapi:

  1. Membawa pada pertobatan (Mazmur 119:67,71)

Penulis mazmur ini adalah Daud. Daud jujur. Sebelum menderita, dia terlena. Makna penderitaan adalah alarm, memperingatkan bahwa kita sudah menyimpang. Jadi jika Tuhan mengizinkan penderitaan pada kita, jangan-jangan ini alarm supaya kita tidak jatuh lebih dalam lagi.

  1. Membawa kepada pengenalan yang benar (Ayub 42:5)

Dalam Ayub 42:5 Ayub berkata dahulu hanya dari kata orang saja aku mendengar, tapi sekarang aku melihatnya sendiri. Pada waktu itu dia menghadapi pergumulan hidup yang berat. Mengapa Ayub tidak turut mengutuk Allah meski disuruh istrinya? Karena dia memiliki pengenalan yang benar akan Allah. Tak ada satupun di dunia ini terjadi di luar kehendak Allah.

  1. Membawa ketekunan (Roma 5:3)

Kata kesengsaraan di ayat ini adalah keadaan yang sangat sulit, tertindas dan sangat terancam. Dalam mengiringi panggilan Tuhan, Tuhan mengizinkan penderitaan. Itu membuat kita makin tekun karena kita menggunakan kacamata bersukacita dalam penderitaan, makin bergaul dengan Tuhan. Karena kita berjalan bersama Kristus, setiap penderitaan kita tidak tanggung sendiri. Kalau Yesus yang adalah anak Allah sendiri menderita, kita tidak perlu kaget kalau kita juga menanggung penderitaan. Janganlah kita menderita karena perbuatan jahat. Setiap penderitaan yang kita alami, melalui itu kadar kepercayaan kita diuji.

  1. Membawa kita untuk semakin menyerupai Kristus (1 Petrus 4:13-14)

Apa yang diucapkan Stefanus dalam doanya itulah refleksi apa yang didengar dari Yesus. Dalam penderitaan kita diajak bersukacita. Mungkin tidak cocok. Tapi inilah panggilan Allah. Orang Kristen perlu belajar untuk menyerupai Kristus bahkan dalam penderitaan.

Stefanus saat itu dalam persidangan Mahkamah Agama. Ini bukan diskusi agama yang gampang. Tapi antara pendakwa dan terdakwa. Orang-orang Yahudi juga sudah mengirimkan saksi-saksi dusta, menuduh Stefanus sudah menghina bait Allah, sama seperti menuduh Tuhan Yesus. Tapi Stefanus menyampaikan kebenaran melalui kemah suci. Orang-orang Yahudi begitu mengagung-agungkan bait Allah. Tapi di lain sisi, Stefanus menjelaskan bagaimana perlakuan Israel selama di padang gurun. Kemah adalah sebuah tempat ibadah bangsa Israel. Kemah begitu sederhana, tapi Musa, imam-imam, bahkan orang Israel bisa beribadah dengan hikmat. Berbeda dengan zaman Stefanus, bait Allah megah, tak sembarangan bisa masuk, tapi digunakan untuk membunuh.

Orang Yahudi mencintai gedung tapi tak mencintai Allah. Tak ada kasih pada Allah, mereka tak menuruti hukum taurat (ayat 53). Kita jangan hanya menghormati ritual, tapi tidak mengalami perjumpaan dengan Tuhan.

Seseorang yang hanya cinta pada gedung tapi belum cinta pada Tuhan, belumlah jadi murid Kristus.

Bagaimana orang percaya dapat menghadapi penderitaan seperti Stefanus: ❶ Berdoa, mengapa Stefanus masih mampu dan kuat berdoa di hadapan ancaman saat itu? Dasarnya ayat 50. Bukankah tanganKu sendiri yang membuat semuanya ini? Sebenarnya kita tidak bisa memasukkan Allah ke dalam kotak bait Allah. Alah adalah penguasa. Tuhan yang empunya semua. Rahasia kekuatan orang percaya adalah menyadari siapa pemilik hidup.  Dan Stefanus mengalami penghiburan dari Tuhan (ayat 56). ❷ Memberi pengampunan, Stefanus berdoa agar Tuhan tidak menanggungkan dosa pada mereka (ayat 60). Salah satu pembeda agama Kristen dengan yang lain adalah mendoakan orang yang berbuat salah pada kita. Yesus sendiri mengajarkan untuk mengasihi musuh.

Mungkin kita sedang difitnah, dicaci sekarang? Sebagai murid Kristus mari kita belajar seperti Stefanus. Pertolongan Tuhan yang terus menopangnya. Kiranya ini menguatkan hati kita.