Pengkhotbah

Perikop
Keluaran 3:13-22

Ringkasan Khotbah

Nama adalah sesuatu yang sangat penting, jalan untuk kita
mengenal seseorang, juga ada maksud arti dari orang tua yang memberikan nama,
dan menggambarkan kepribadian seseorang dari nama tersebut. Begitu juga dengan
nama Tuhan, berkepribadian dari sang Pencipta.

Musa pertama kali bertanya tentang nama TUHAN (Kel 3:13).
Ada 3 hal mengenai nama TUHAN:

1.   Aku
adalah Aku (Kel 3:14). “Aku” (bahasa Ibrani: hayah) artinya “ada” atau
“hidup”. Sebelum dunia ini ada Allah sudah ada. Allah hidup, Dia bukan buatan
manusia seperti patung, gambar, dll. Keberadaan Allah berbeda dari keberadaan
semua makhluk hidup lainnya karena Allah tidak memperoleh hidup-Nya dari sumber
lain di luar diri-Nya (Yoh 5:26, Kej 1:1). Tetapi ini bukan berarti Allah
menjauhkan diri dan tidak peduli dengan manusia. Justru karena kasih karunia
dari Allah pencipta yang memberi kesempatan bagi manusia untuk melayani-Nya
melalui gereja, persekutuan, keluarga dan lingkungan tempat tinggal kita
sebagai pekerja-Nya.

2.   TUHAN
(Kel 3:15). Allah menyatakan diri-Nya sebagai TUHAN (Ibrani: YHWH) yang berarti
“yang ada”, “ada dengan sendirinya” atau “kekal”. Dalam Alkitab bahasa
Indonesia, kata “TUHAN” ini (huruf besar semua) dibedakan dengan kata “Tuhan”
(Ibrani: ‘DNY – baca: adonay) yang artinya tuan/Tuhan. Bangsa Yahudi sangat
menghormati kata “YHWH” dan dianggap kudus sehingga kalau penyalin kitab suci
mau menulis huruf ini, dikatakan bahwa mereka harus berhenti menulis dan mandi
terlebih dahulu sebelum menuliskannya. Para pembaca kitab pun ketika bertemu
dengan keempat huruf ini tidak berani membacanya dan diganti cara bacanya
menjadi “adonay”. Setelah lewat beratus-ratus tahun, untuk mempermudah
pembacaan bahasa Ibrani yang hanya berisi konsonan, para ahli kitab menambahkan
huruf hidup a, o dan a di huruf “YHWH” supaya dapat dibaca “adonay” tetapi
setelah Alkitab tersebar ke orang-orang bukan Yahudi maka dibaca langsung,
bukan lagi sebagai “adonay” tetapi menjadi “YeHoWaH” dan oleh orang berbahasa
Inggris menjadi “Jehovah”.

3.   Allah
orang Israel/Allah orang Ibrani. Allah memilih mulai dari Abraham, kemudian
Ishak, lalu Yakub di mana pemilihan Allah berkembang menjadi keluarga lalu
bangsa yaitu bangsa Israel. Fokus pemilihan Allah ini bukan pada bangsa Israel
tetapi pada Allah yang memilih Israel. Sehingga yang harus kita ikuti dan
layani adalah Allah sendiri.

Beberapa sifat Allah yang dapat dilihat dari perintah dan
pengutusan Allah di Keluaran 3:

1.   Melepaskan
umat-Nya dari kesengsaraan. Kel 3:16: Tuhan tidak berdiam diri atas penderitaan
umat pilihan-Nya, tetapi Dia mengindahkan umat-Nya (Kel 2:23-25). Allah juga
peduli dan mendengar seruan kita serta melepaskan kita dari kesengsaraan kita.

2.   Ingin
umat-Nya mempersembahkan korban kepada-Nya. Kel 3:18: Musa disuruh Tuhan
memimpin bangsa Israel keluar dari Mesir dan setelah itu beribadah kepada
Tuhan. Allah ingin melepaskan kita dari kesengsaraan kita, namun tidak berhenti
di situ, tetapi agar kita beribadah kepada Allah dan mempersembahkan korban
kepada Tuhan. Ibadah/kebaktian artinya kita berbakti kepada Tuhan dengan
memberikan sesuatu yang berharga (persembahan kita) kepada Tuhan. Tuhan Yesus
sudah mempersembahkan korban yang paling berharga, yaitu hidup-Nya bagi kita,
apakah kita sudah memberikan persembahan kepada Tuhan dengan rela dan setia?

3.   Mengizinkan
ada kesulitan. Kel 3:19: Allah mengizinkan penghalang bagi bangsa Israel yaitu
raja Mesir. Allah justru menyuruh Musa untuk menghadapi tantangan ini. Tetapi
di balik itu Allah juga menyatakan kuasa-Nya dengan memberikan 10 tulah
sehingga bangsa Mesir menjadi takut kepada Allah dan memberikan perak, emas dan
kain kepada bangsa Israel.

(AS/05/09)