Pengkhotbah

Perikop
Lukas 10:25-37

Ringkasan Khotbah

Tema tahunan kita tahun ini adalah “Setia Berjalan dalam Misi Allah”. Misi berarti segala sesuatu yang ingin diperbuat umat di dunia ini kepada Allah. Itulah arti luasnya. Arti secara ilmu misilogi/alkitabiah:

  1. Menyaksikan injil
  2. Perbuat kasih sebagai tanggung jawab sosial bagi umat Tuhan (bagian yang akan dibahas kali ini)

Pada masa itu (ayat 25) ada orang ahli Taurat yang mencobai Yesus karena Yesus sudah banyak memberikan pengaruh. Maka ahli Taurat itu ingin mengetahui apakah Ia dari Allah atau dari manusia biasa.

Ahli taurat itu mempertanyakan mengenai apa yang ada di kitab Taurat. Mengenai: kasihilah Tuhan Allah dan sesama manusia. Ahli taurat mengutip dari kitab Ulangan 6:5 mengenai mengasihi Tuhan Allah, namun ada yang berbeda yaitu menambahkan kata: “akal budimu”. Namun tafsiran itu sama dengan tafsiran Yesus. Maka Yesus mengatakan untuk melakukan firman itu supaya hidup kekal. Poin yang lain adalah, meskipun ahli taurat itu mencobai Yesus, dan meskipun belum sepenuhnya benar apa yang disampaikan ahli taurat, Yesus menjawab dengan kasih dan kebijaksanaan dengan mengatakan “itu benar”. Marilah kita juga bersikap seperti Yesus ketika berkomunikasi dengan sesama kita dengan menunjukkan sikap yang baik.

Kembali ke cerita kitab hari ini. Mengenai ada orang dijalan yang dirampok dan terlihat seperti hampir mati. Tanggapan orang yang lewat:

  1. Ia melihat orang itu. Orang itu hampir mati. Sesuai peraturan, imam tidak boleh menyentuh bangkai karena ia tidak dapat melaksakan tugas pelayanannya. Oleh karena itu imam itu melewatinya.
  2. Orang Lewi. Ia melewatinya, karena melihat orang itu hampir mati. Pada saat itu jalanan sangat bahaya. Jaraknya jauh dan jalanan berbatu-batu. Jalan inipun itu juga disebut jalan penjarahan penuh sarang penyamun. Maka orang lewi itu takut jika ia juga dirampas/dirampok oleh para penjarah.
  3. Orang Samaria. Orang Samaria ini dianggap suku hina oleh bangsa Israel/orang Yahudi, dan mereka juga dibenci oleh bangsa Yahudi, karena mereka sudah memiliki ibadah dan tempat ibadah sendiri. Orang Samaria dianggap keluar dan tidak menjadi bagian bangsa Israel kembali. Oleh karena itu Yesus memberikan contoh orang Samaria. Karena ia justru berbelas kasihan dan menolong dan meminyaki orang itu dengan minyak zaitun yang dianggap mengandung obat. Bahkan orang Samaria itu juga mengajaknya ke tempat penginapan dan merawatnya juga, bahkan masih memberikan uang lebih keesokan harinya.

Seperti juga Yesus, banyak sekali menolong orang lain karena ia merasa berbelas kasihan kepada orang lain yang benar-benar membutuhkan pertolongan. Seperti orang Samaria ini kita dapat belajar. Ia tidak memandang dan tidak lagi berpikir tentang bangsa, suku dll, dan ia berbelas kasihan.

Seperti juga saat ini para misionaris di dunia yang melayani diberbagai belahan dunia. Itu semua karena mereka merasa “tergerak hati”. Ada satu cerita mengenai ada misionari yang melayani di Hawaii di Morokai yaitu tempat pembuangan orang Kusta. Mereka sama sekali tidak mau didekati orang dan tidak mau dilayani. Mereka menganggap orang sehat tidak mau mendekat mereka, percuma penginjil itu berbicara kasih dsb. Lalu penginjil itu berdoa agar ia dapat terkena kusta. Dan orang-orang yang terkena kusta itu melihat penginjil itu, akhirnya mereka memberi diri dibaptis dan banyak orang menerima Yesus. Ditengah-tengah kita ada orang yang memiliki kebutuhan. Datanglah kepadanya, berbelas kasihanlah padanya tanpa melihat suku, budaya, etnis dsb. Hal mengasihi sesama adalah “menjadi…” yang berarti “konkrit” tidak hanya sekedar teori.