Pengkhotbah

Perikop
Nehemia 2:1-20

Ringkasan Khotbah

Kita pasti tidak asing lagi mendengar nama Nehemia. Nehemia adalah salah satu tokoh Alkitab Perjanjian Lama yang kisahnya sering kali dikaitkan dengan pemulihan Yerusalem setelah diruntuhkan oleh Babel. Pada bacaan kali ini, kita dapat melihat latar belakang Nehemia, dan kita dapat belajar beberapa karakter Nehemia berkaitan dengan pemenuhan misi yang diberikan Allah baginya. Nehemia adalah seorang buangan Yahudi di Persia. Dia intim dengan Allah, dan juga adalah seorang kepercayaan raja Persia pada saat itu, dengan menjabat sebagai juru minum raja. Oleh karena keintimannya dengan Allah, Nehemia tidak membiarkan semua keberhasilannya di lingkungan orang-orang yang tidak percaya itu menjauhkannya dari Allah. Hubungan dengan Allah yang kuat inilah yang menjadi fondasi sikap/karakter Nehemia dalam menjalankan misi yang dibebankan Allah kepadanya :

1. Terbeban oleh keadaan umat-Nya. Kehancuran Yerusalem adalah akibat dari ketidaksetiaan orang-orang Yahudi pada saat itu. John Stuart Mill menekankan, “Satu orang yang mempunyai penyerahan sama dengan kekuatan 99 orang yang sekedar mempunyai ketertarikan.” Oleh karena ia sudah menjadi buangan di Persia, Nehemia tidak menyaksikan secara langsung kehancuran Yerusalem di tangan Babel. Meskipun demikian, ketika ia mendengar kabar hancurnya Yerusalem, ia turut merasakan kehilangan dan kesedihan, seperti layaknya hal tersebut terjadi menimpa dirinya sendiri. Dalam Neh. 1:4 tertulis Nehemia berkabung, berpuasa dan berdoa kepada Tuhan ketika ia mendengar kabar tersebut, menggambarkan keadaan hati Nehemia dan responsnya dalam menghadapi kabar yang menyedihkan itu, yaitu dengan meminta pertolongan kepada Allah. Ia berdoa memohon kemurahan-Nya dalam menggumuli bebannya untuk pemulihan Yerusalem. Ia tidak mengandalkan kekuatannya ataupun talenta yang ia miliki, tetapi langsung menyerahkan diri dan mengandalkan Tuhan. Oleh karena itu, Tuhan memberkati Nehemia ketika ia membawa pergumulannya itu ke hadapan raja Persia, dan dalam memenuhi panggilannya itu. Beban kepada umat Allah dan orang-orang yang ada di sekitar kita—terutama yang belum percaya—adalah bagian penting dari iman kita kepada Tuhan.

2. Berencana bagi pemulihan umat-Nya. Dalam memenuhi panggilannya, Nehemia menyerahkan sepenuhnya ke dalam tangan pengasihan Tuhan. Meskipun demikian, bukan berarti ia tidak perlu melakukan apa-apa dan hanya duduk menantikan hasil dari doa-doanya tersebut, Nehemia juga melakukan bagiannya dalam pemulihan umat Tuhan. Penyerahan diri kepada Tuhan bukan berarti kita tidak boleh membuat rencana dan memikirkan bagaimana sebaiknya yang kita lakukan dalam menjalankan tugas dan panggilan kita. Kita boleh berencana—malah justru dalam menjalankan panggilan kita harus membuat rencana—tetapi semuanya itu juga harus diserahkan ke dalam tanganNya agar rencana kita tidak melampaui kedaulatan Tuhan. Nehemia juga, dalam ay. 11-12, menunjukkan sikap yang penuh tanggung jawab dalam melaksanakan panggilannya. Oleh karena ia tidak dengan langsung menyaksikan kehancuran Yerusalem, melainkan hanya melalui kabar berita, hal pertama yang dia lakukan ketika tiba di Yerusalem adalah memastikan keadaan Yerusalem saat itu. Dalam membuat rencana untuk pemulihan umatNya, dia tidak main-main dan gegabah; dengan memastikan fakta-fakta yang ada Nehemia dapat menyusun rencana yang lebih matang.

3. Berani ambil tindakan sekaligus resiko. Dalam menjalankan panggilannya, tidak mungkin Nehemia melakukannya sendirian. Oleh karena itu, Nehemia mengambil tindakan dalam wujud mencari bantuan dari orang-orang Yahudi yang masih ada di daerah Yerusalem. Dalam ay. 17-18, Nehemia melakukan salah satu prinsip penting dalalm pelayanan yaitu menantang orang-orang yang terlibat dalam pelayanan tersebut. Rick Warren menyatakan, “Nilai suatu pelayanan terletak pada kasih yang menggerakannya. Kita dapat melayani tanpa mengasihi, tetapi kita tidak dapat mengasihi tanpa melayani. Kita tidak dapat bersungguh-sungguh melayani tanpa pengorbanan.” Ketika Nehemia bertemu dengan orang-orang Yahudi, para imam, dan para bangsawan, ada 4 pernyataan penting yang ia lakukan: ia menyatakan diri sama seperti mereka (orang Yahudi), ia menunjukan dan mengingatkan kembali keadaan Yerusalem saat itu, ia menantang mereka untuk turut serta dalam pekerjaannya, dan ia menceritakan kemurahan Allah kepadanya. Orang Yahudi saat itu hidup dalam ketakutan terhadap para penguasa saat itu (Babel), sehingga apabila Nehemia hanya datang dan mengingatkan serta menantang mereka untuk turut serta memulihkan tembok Yerusalem, tidak akan ada yang berani turut serta dalam pekerjaan itu. Ini adalah resiko yang berani diambil oleh Nehemia: digagalkan oleh Babel, dan dijauhi oleh sesama orang Yahudi. Tetapi Nehemia dengan berani mengambil resiko tersebut, dan tidak lupa ia menguatkan hati orang-orang Yahudi yang ada dengan menceritakan penyertaan dan kemurahan Allah, sehingga orang-orang Yahudi yang ada dapat memperoleh kembali harapan akan pemulihan. Dalam menjalankan tugas dan panggilan, beban kita sebagai umat Tuhan, tidaklah mudah dan akan ada orang/pihak yang berusaha menghalang kita. Kita harus mencontoh dari Nehemia, bagaimana ia dengan berani mengambil tindakan untuk menjalankan tugasnya, meskipun itu dipenuhi dengan berbagai resiko sekalipun.

Orang yang memliki relasi intim dengan Allah akan memliki hati yang peka terhadap hati Allah sehingga terbeban mengambil bagian dalam pekerjaan Allah. Maukah kita meneladani Nehemia dan mengambil bagian dalam misi Allah bagi dunia ini?