Pengkhotbah

Perikop
Roma 1:14-17

Ringkasan Khotbah

Misi Allah bagi umat-Nya di dunia ini dapat dibagi menjadi 2, yaitu pemberitaan Injil dan perbuatan kasih. Perbuatan kasih dapat kita wujudkan dengan menjadi sesama manusia bagi orang-orang di sekitar kita. Kita dapat mencontoh dari kisah orang Samaria yang baik hati, dimana kasih itu bukanlah hanya menjadi prinsip hidup tetapi konkrit dalam perbuatan kita.

Selain perbuatan kasih, kita sebagai murid Yesus juga diharapkan untuk memberitakan Injil keselamatan. Injil (Yn. evangelion), seperti yang tertulis di Roma 1:1-4, adalah Kristus yang sudah dijanjikan melalui perantaraan nabi-nabi, lahir melalui keturunan Daud, dan bangkit dari antara orang mati, Anak Allah yang Maha Tinggi. Pada zaman Yunani kuno, kata injil sendiri dipakai untuk menandakan kabar/berita yang penting, yang berskala besar. Di zaman ini berita-berita besar lebih banyak memberitakan yang kurang menyenangkan, Injil merupakan berita baik yang sangat dibutuhkan dan ditunggu-tunggu oleh banyak orang. Yesus, melalui kematian dan kebangkitan-Nya menjadi lambang pengharapan di tengah-tengah kesengsaraan dunia.

Hakikat Injil adalah sebagai berikut; bahwa Yesus telah mati oleh dosa manusia, telah bangkit dari antara orang mati, dan hidup bersama dengan Allah di surga selama-lamanya (1 Kor. 15:1-4). Roh Kudus membantu kita dengan menyaksikan kebenaran Injil dan kemuliaan Yesus melalui persekutuan kita dengan Tuhan, dalam mendengarkan dan merenungkan Firman.

Yesus sudah memilih kita dari antara orang-orang lain untuk menjadi murid-Nya, tetapi itu semua tidak boleh berakhir pada kita. Sama seperti Yesus memakai orang-orang di sekitar kita untuk menyampaikan Kabar Baik itu, kita juga harus merelakan hidup kita untuk dipakai menjadi alat bagi pemberitaan Injil. Kita diharapkan untuk menjadi alat Tuhan untuk membukakan mata mereka yang belum percaya agar dapat melihat terang Allah, sehingga mereka oleh iman kepada Yesus dapat memperoleh pengampunan dosa dan mendapat bagian dalam apa yang ditentukan untuk orang-orang yang dikuduskan Tuhan. Pemberitaan Injil ini layaknya seperti olahraga estafet; baton tugas itu sudah disampaikan kepada kita, kita harus berlari menuju tujuan hidup kita dengan menyampaikan baton itu kepada orang yang menantikan kita.

Dalam penginjilan, kita harus memahami dan mengenal orang yang akan kita injili. Seperti misalnya, dalam menginjili orang yang berbeda agama dengan kita, apabila kita hanya menekankan tentang hidup kekal akan mendapat respon yang kurang; ini disebabkan ajaran tentang hidup kekal bukanlah ajaran yang khas dalam kekristenan. Sebaliknya kebangkitan tubuh rohani, kebangkitan dan keselamatan hanya oleh iman, keselamatan sebagai anugerah dari Tuhan adalah ajaran yang spesifik dalam kekristenan. Oleh karena itu, penginjilan harus dimulai dengan pengenalan akan orang yang akan kita injili.

Tuhan menginginkan agar semua manusia tidak binasa pada waktu kedatangan-Nya yang kedua kalinya. Kita tidak dapat dan tidak perlu mengetahui kapan kedatangan Tuhan yang kedua kalinya, kita harus siap sedia untuk kedatangan-Nya, dan kita harus melaksanakan tugas kita sebaik-baiknya sampai kedatangan-Nya nanti.