Pengkhotbah

Perikop
Yohanes 5:30-47

Ringkasan Khotbah

Kita akan belajar dari Firman Tuhan hari ini dengan tema milikilah kasih akan Allah, bagaimana kita menyingkapi kehidupan ini yang penuh dengan orang-orang yang mengarah ke neraka karena mereka tidak percaya kepada Yesus. Tentunya kita harus mempunyai perbedaan sebagai anak-anak Tuhan, punya sikap hidup, gaya hidup yang benar kepada Tuhan. Dalam agama-agama lain yang non Kristen, mereka punya motivasi mengasihi dan menyembah kepada Tuhan dengan harapan supaya mereka mendapat berkat, sedangkan agama Kristen sendiri sangat berbeda, motivasi kita bukan supaya mendapat berkat atau pahala. Kita mengasihi Allah bukan supaya kita semakin dekat dengan Dia, karena Tuhan sebenarnya sudah dekat dengan kita,  ketika kita percaya kepada Tuhan, kita telah menerima berkatnya yaitu keselamatan. Kita mengasihi Tuhan karena itu merupakan tanggung jawab kita. Seorang penulis Kristen bernama Gerry Thomas berkata: “makin besar kasih kita kepada Allah, makin besar pulalah keinginan kita untuk hidup sesuai kehendakNya.” Semakin besar kasih kita kepada Allah maka makin besar keinginan kita untuk hidup bersama Allah.

Orang Yahudi adalah orang yang sangat mengerti akan Taurat, namun hati mereka tidak sungguh-sungguh kepada Tuhan. Kita perlu belajar kasih agape=kasih yang benar-benar mengasihi dengan penuh ketulusan. Sebenarnya semua manusia itu memiliki naluri beriman dan mencari Allah, sejak dilahirkan kita sudah memiliki naluri itu. Akan tetapi hal tersebut tidak secara langsung membawa manusia kepada Allah, sehingga menjadi tugas kita untuk menjembatani mereka untuk semakin dekat kepada Allah. Sebagai orang kristen sejati kita perlu mengalami tahapan-tahapan penting sebagai dasar kita sebagai umat Allah: lahir baru dan mengalami pengudusan dari Allah, kita butuh Firman melalui ibadah kita kepada Allah. Buah dari pertemuan kita dengan Allah adalah kerinduan kita untuk datang kepada Allah. Allah melihat orang-orang Yahudi yang berpusat kepada kehidupan kesalehan mereka, tetapi mereka tidak mempunyai kasih kepada Allah. Mari kita belajar dari mana fakta-fakta Allah mengatakan hal tersebut kepada orang-orang Yahudi: ❶ Agama telah menghalangi orang-orang Yahudi untuk menerima Yesus, hal ini dijelaskan dalam ay. 18 dimana mereka ingin membunuh Yesus dikarenakan Yesus telah menyamakan dirinya dengan Allah. Yesus melihat sampai kedalaman hati dan bukan dari luar saja, maka Yesus melihat bahwa demi agama orang-orang Yahudi tersebut berani membunuh Yesus. Apakah demi agama Kristen kita membenci, memojokkan dan mau membunuh orang lain? Berbeda dengan orang-orang Yahudi pada masa itu, dalam Mat 5:9 Yesus berkata “berbahagialah orang yang telah membawa damai.” Marilah kita membawa damai dalam kehidupan kita bersama-sama. ❷ FirmanNya tidak menetap dalam hati orang Yahudi (ay. 38). Orang-orang Yahudi memiliki kebiasaan dan kegemaran untuk menggali Firman Tuhan secara mendalam, namun Firman yang tertulis hanya mereka gali dan pelajari saja tanpa ada kelanjutannya. Berbeda dengan orang-orang Kristen yang memiliki kerinduan untuk mempelajari Firman Tuhan dan menghidupinya. Tujuannya adalah agar orang Kristen sejati mau memberi diri untuk dibentuk oleh Firman Tuhan. Tokoh Kristen DL. Moody mengatakan, “Alkitab diberikan bukan untuk menambah kehidupan dan pengetahuan kita, melainkan untuk mengubahkan kehidupan kita.” Jikalau kita mau mengalami hal ini, maka hidup kita akan penuh dengan buah-buah kehidupan yang berharga bagi Allah. Sayangnya orang-orang Yahudi begitu kelihatan saleh, berdoa dipinggir-pinggir jalan agar terlihat orang, tetapi tidak menghidupi Firman itu sendiri. Yesus mecoba mengarahkan hati mereka, agar mereka tidak mencari hormat dari manusia, melainkan mencari hormat dari Allah. Hormat di sini memakai kata doksa=mencari kehormatkan=dikenal orang, sehingga Allah sangat menentang hal ini. Mari kita belajar sebagai orang-orang yang sungguh-sungguh mencari Allah, bagaimana kita bergereja dan melayani Allah saat ini, apakah kita masih mencari hormat dari manusia? Jika kita memiliki motivasi kepada Allah, maka kita tidak kecewa karena kita memfokuskan hati dan pikiran kita kepada Tuhan. Bandingkan dalam Kisah Para Rasul 17:10-11, dikatakan “Orang-orang Yahudi di kota itu lebih baik hatinya dari pada orang-orang Yahudi di Tesalonika, karena mereka menerima firman itu dengan segala kerelaan hati dan setiap hari mereka menyelidiki Kitab Suci untuk mengetahui, apakah semuanya itu benar demikian.” Kata menyelidiki disini memiliki arti yang sama dengan mengayak (seperti seorang Ibu yang membuat kue), dengan teliti orang-orang Yahudi di Berea mempelajari Firman Tuhan dan mau diubahkan sehingga akhirnya kehidupan mereka membawa berkat dan berdampak. Sebagai umat Tuhan kita perlu memiliki konsep hidup seperti Yesus, bukan supaya banyak orang mengikuti Dia, melainkan supaya setiap orang mengalami sendiri pengenalan akan Allah melalui kita. Marilah kita miliki kasih akan Allah dengan belajar tidak menuruti kehendak sendiri melainkan menuruti kehendak Allah.