Ringkasan Khotbah

Bagaimanakan respon kita saat mendengar tentang kabar baik, apakah kita kaget, shock atau bahagia?

Injil Lukas secara jelas ditujukan kepada Theofilus (bahasa Yunani: Theos=God/Allah; Philia=love/kasih), yang dapat diartikan sebagai ”orang-orang yang dicintai Allah/sahabat Allah” atau ”orang-orang Kristen”.

Melalui perenungan kali ini kisah Imam Zakaria yang termasuk dalam rombongan Abia (urutan ke-8 dari 24 rombongan imam-imam pada Zaman Herodes) dalam menjalankan tugas keimanan perlu diambil sebagai contoh kehidupan seorang ”sahabat Allah”.

Ada beberapa point penting dalam kehidupan keluarga Imam Zakaria:

  1. Mereka hidup benar di hadapan Allah dan menuruti segala perintah Allah (ayat 6).
  2. Kondisi fisik mereka: keluarga ini belum di karuniai keturunan sebab Elizabeth mandul dan mereka berdua sudah lanjut umurnya (ayat 7).

Imam Zakaria dalam tugas keimamannya, diwajibkan untuk mempersiapkan pembakaran ukupan yang dimana harus benar-benar dipersiapkan secara matang oleh seorang imam di atas mezbah pembakaran ukupan.

Dalam Keluaran 30:34-35, ukupan merupakan campuran dari wangi-wangian, kemenyan dan rempah-rempah yang murni dan kudus. Pembakaran ukupan di sini melambangkan tentang doa (Mazmur 141:2).

Lalu apa sebenarnya yang menjadi doa Imam Zakaria:

–  Adanya kerinduan dari Imam Zakaria dalam tugas keimanannya untuk melakukan pembakaran ukupan di depan tirai Ruang Maha Kudus.

–  Kerinduan Imam Zakaria untuk memiliki keturunan.

Kita tahu bahwa kedua doa Imam Zakaria di atas dijawab oleh Tuhan di waktu yang bersamaan, namun apa respon Imam Zakaria saat tahu tentang kabar baik ini dimana Elizabeth istrinya akan mengandung dan mereka akan dikaruniai keturunan? Dalam ayat 18 secara ‘logis’ imam Zakaria mempertanyakan tentang jawaban doanya itu kepada malaikat Gabriel, dan ungkapan ketidakpercayaan dari imam Zakaria ini berakibat dia menjadi bisu sampai dengan anak itu dilahirkan, disunat dan diberi nama Yohanes. Tetapi pemikiran ‘logis’-nya ini hanya dalam keterbatasannya sebagai manusia tanpa memperhitungkan Allah yang Maha Kuasa yang sanggup melakukan segala hal yang tidak terpikirkan oleh manusia.

Melalui perenungan kali ini ada beberapa bahan pembelajar yang perlu kita ambil:

  1. Senantiasalah hidup benar dan melakukan segala perintah Tuhan meskipun memiliki kekurangan secara fisik.
  2. Terus menerus menaikkan doa kepada Tuhan.
  3. Percayalah bahwa Tuhan senantiasa mendengar dan mengabulkan doa-doa kita.

Tuhan menjawab doa-doa kita sesuai kehendak, waktu dan rencana Tuhan.