Ringkasan Khotbah

Bekerja adalah satu aktivitas rutin yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia. Dalam masa krisis seperti saat ini, cara pandang kita mengenai pekerjaan menjadi hal penting, terutama bila dilihat dari sisi yang berkenan di mata Tuhan.

Lima prinsip dasar tujuan awal pekerjaan (Kejadian 1:26-27):

  1. Allah menciptakan manusia menurut gambar dan rupa Allah. Allah menugaskan manusia untuk menguasai dan mengusahakan semua yang ada di bumi . Pekerjaan adalah bagian dari rencana Allah dalam penciptaan, dan manusia diciptakaan sebagai mahluk yang harus bekerja.
  2. Manusia diberikan roh untuk bisa berkomunikasi dan berhubungan dengan Allah. Bekerja merupakan wujud dari bentuk persekutuan manusia dengan Allah dengan tujuan untuk beribadah kepada Allah. Pada saat Adam dan Hawa tinggal di Taman Eden, tidak ada perbedaan antara pekerjaan dengan ibadah (ibrani: abodah, arti: ibadah; yunani: latreia, arti: pekerjaan yang mendapatkan upah).
  3. Kejadian 1:28: Manusia yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah itu sangat diberkati. Allah memerintahkan manusia untuk memenuhi dan menguasai bumi dan segala isinya. Dengan melakukan hal ini, kita merefleksikan kasih kita kepada Allah. Pekerjaan itu adalah ibadah kepada Allah.
  4. Manusia ditempatkan di Taman Eden (pusat ciptaan Allah) sebagai wakil Allah untuk menjaga, memelihara dan mengusahakan Taman Eden. Manusia diberi hak dan wewenang ini dengan satu syarat bahwa manusia harus tunduk kepada Tuhan.
  5. Allah menciptakan manusia dengan seorang penolong yang sepadan, artinya pekerjaan harus dilakukan dengan saling membantu dan saling melayani. Pekerjaan bukan hanya pelayanan kepada Tuhan tetapi juga pelayanan kepada manusia. Tidak ada pekerjaan yang sia-sia karena dalam mandat untuk bekerja yang Tuhan berikan ini ada banyak berkat (kebahagiaan, sukacita, kemakmuran, kejayaan, dll) yang Tuhan berikan.

Kejadian 3:17: karena dosa, manusia harus bekerja keras, bersusah payah, bersaing dan menderita untuk mengusahakan tanah yang tidak diberkati. Sejak itu, hakekat pekerjaan selalu dihubungkan dengan upah sehingga tidak lagi ada sukacita dalam mengerjakannya. Kejadian 3:18: manusia tidak lagi mendapatkan kelimpahan melainkan berbagai macam masalah (termasuk masalah lingkungan). Hal yang seharusnya dilakukan manusia dalam bekerja yaitu tolong-menolong berubah menjadi kompetisi.

Panggilan Tuhan bisa dikategorikan ke dalam dua bentuk yaitu menjadi wakil Allah untuk menguasai dan mengusahakan bumi (panggilan pekerjaan), dan sebagai manusia yang sudah ditebus oleh Allah, kita harus menjadi saksi Kristus (panggilan penginjilan). Pekerjaan yang kita miliki sekarang merupakan pemberian Allah. Jadi bukan kita yang memilih pekerjaan yang cocok untuk kita sendiri melainkan Allahlah yang telah memilihkannya untuk kita.
Perlu inisiatif kita untuk menjawab panggilan Allah dengan motivasi yang benar yaitu untuk beribadah kepada Allah.

Roma 12:2: kita harus melakukan pembaharuan budi, pola pikir dan cara pandang kita untuk mengerti kehendak Allah dalam hidup kita lewat Roh Kudus. Jika budi kita sudah diperbaharui maka kita bisa melakukan pekerjaan kita dengan penuh sukacita dan rasa bersyukur, dengan prinsip yang benar dan bisa menghasilkan buah roh seperti yang Tuhan harapkan. Kita perlu mengandalkan Tuhan sumber kekuatan kita untuk kembali kepada hakekat bekerja yang semula. Allah akan berkenan memberikan berkat-Nya kepada kita jika kita memahami dan mengerti apa yang menjadi kehendak Allah.

(BC/04/09)