Ringkasan Khotbah

1 Timotius adalah surat Paulus yang ditujukan kepada Timotius yang sedang melayani di jemaat Efesus. Efesus adalah sebuah kota pelabuhan, pusat perdagangan yang mengakibatkan ekonomi maju dan menjadikan Efesus kota dimana berbagai bangsa dan budaya bertemu. Paulus memberikan berbagai nasehat terhadap pelayanan Timotius di Efesus.

Perikop ini berisi peringatan kepada orang-orang kaya yang ada di dalam jemaat Efesus bagaimana bisa hidup layak di hadapan Allah. Peringatan itu adalah untuk hidup berkenan sesuai rencana Allah. Orang-orang kaya diperingatkan untuk jangan terikat kepada kekayaan atau materi (ayat 17) karena itu hanya titipan Tuhan kepada manusia dan sifatnya sementara. Kekayaan adalah sesuatu yang tidak tentu, tidak dapat diandalkan. Dalam alkitab banyak peringatan yang dituliskan mengenai kekayaan. Kekayaan disebutkan dapat dicuri (Matius 6:19), fana atau tidak abadi (Amsal 27:4), kekayaan dapat mengakibatkan orang untuk menjadi tinggi hati, sombong (Yehezkiel 28:5), berbuat kekerasan (Mikha 6:12), menindas orang lemah (Yakobus 2:6). Keinginan untuk menjadi kaya bisa menjatuhkan manusia ke dalam dosa, nafsu yang hampa (1 Timotius 6:9), karena keinginan yang begitu besar sehingga menghalalkan segala cara membawa manusia jatuh ke dalam kebinasaan. Dalam Matius 19:24 Yesus berkata bahwa orang kaya sukar masuk ke dalam kerajaan sorga karena sudah terikat dengan kekayaannya. Yesus juga memberikan perumpamaan orang kaya yang bodoh (Lukas 12), dan berkata apalah artinya seseorang memiliki kekayaan dunia ini kalau kehilangan nyawanya. Hidup kita tidak boleh tergantung kepada kekayaan. Tapi bukan berarti orang kaya pasti tidak baik dan tidak bisa masuk sorga. Ada tokoh-tokoh dalam alkitab yang meski diberkati Tuhan dengan kekayaan tetap hidup benar di hadapan Allah. Mereka tidak terikat kepada kekayaan tapi terikat kepada Allah. Contohnya Abraham, Musa (Ibrani 11:26), Zakheus, Yusuf dr Arimatea.

Nasehat berikutnya adalah untuk menjadi kaya dalam kebajikan (ay 18), untuk berbuat baik, suka memberi, siap menyalurkan berkat Allah kepada orang lain. Semua kekayaan hanyalah titipan Allah untuk dibagikan kepada orang lain. Kata membagi dalam ayat 18 adalah koinonikas, dari kata dasar koinonos yang juga adalah kata dasar dari koinonia atau bersekutu. Dalam persekutuan orang-orang percaya bisa saling berbagi, bukan hanya secara rohani saja tapi juga secara jasmani. Kita selayaknya menjadi orang kaya yang sejati. Orang kaya yang sejati bukan hanya kaya harta, tapi juga kaya dengan nilai, karakter-karakter baik, iman, dan perbuatan-perbuatan yang menjadi berkat. Walaupun tidak memiliki harta bila kita punya hal-hal di atas kita adalah orang kaya yang sejati. Terakhir haruslah kita ingat, bahwa kita dapat melakukan kebajikan sejati adalah buah dari keselamatan, bukan untuk mendapatkan keselamatan. Kita mendapatkan keselamatan hanyalah dari iman saja.